07 January 2021, 20:00 WIB

Mengenang Chanel, Desainer yang Dituduh Sebagai Mata-mata Nazi


Adiyanto | Weekend

PADA 10 Januari setengah abad silam, dunia digegerkan dengan kematian seorang desainer mode ternama, Gabrielle ‘Coco’ Chanel. Dia mati mendadak di sebuah ruangan suite di Hotel Ritz, yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya di Paris, Prancis.

Perancang yang desainnya masih dikenakan orang hingga hari ini, meninggal pada jam 9 malam di usianya yang menginjak 87 tahun. Saat itu, ia tengah mengerjakan koleksi terbarunya, yang akhirnya dirilis dua pekan setelah kematiannya.

Dalam kariernya, Chanel dikenal perfeksionis. Dia selalu memeriksa sekecil apapun hasil karyanya, termasuk dalam memilih jenis kain. Ia juga ikut memeriksa semua kancing busana yang diciptakannya.

 "Mademoiselle Coco Chanel meninggal pada Minggu malam di Paris," tulis AFP kala itu.

Chanel terkenal sebagai pencipta gaun hitam yang membebaskan perempuan dari tirani korset era Victoria. Sementara itu, jas berbahan wol, sepatu dua warna, dan tas berlapis kain ciptaanya, identik dengan keanggunan Prancis dan kebebasan perempuan.

Mata-mata Nazi

Di balik gemerlap namanya, Chanel yang juga pencipta parfum ternama, menyimpan sisi gelap dalam hidupnya. Banyak orang di Prancis menuduhnya berkolaborasi dengan Nazi selama pendudukan Jerman. Itu mungkin sebabnya mengapa butuh waktu hingga tahun lalu, untuk menggelar pameran besar pertama yang didedikasikan untuk karyanya di Paris.

Selama pendudukan Jerman, Chanel tinggal dengan kekasihnya, seorang perwira intelijen aristokrat Jerman bernama Baron Hans Guenther von Dincklage. Mereka sempat pindah ke Swiss setelah Prancis bebas dari pendudukan Nazi. Selama satu dekade, Chanel seperti hilang dari sorotan publik.

Dia kembali ke Paris pada 1954, dan tinggal di kamar suite-nya di Ritz hingga kematiannya. Kamarnya yang didominasi kelir hitam-putih sejalan dengan pemikirannya bahwa "hitam itu abadi.” "Kami kecewa karena tidak ada di hari-hari menjelang kematiannya," kata salah seorang rekannya yang tidak disebut namanya.

Berbadan ramping, kalung mutiara, dan sebatang rokok yang kerap menggantung di bibirnya, menjadi ciri khas penampilan Chanel. Dia juga sangat percaya tahayul. Makamnya dilengkapi sofa berbahan suede serta  jimat singa dari Tiongkok.  Dia juga memerintahkan agar tidak ada yang diizinkan masuk ke suite-nya, setelah kematiannya. Hanya keluarga dan tiga keponakannya yang diizinkan untuk memberikan penghormatan.

Firasat

Menurut cerita salah seorang pegawai di butiknya, beberapa hari sebelum kematiannya Chanel terlihat tergesa-gesa saat bekerja. Dia  mengatakan itu sebagai firasat. "Dia seolah ingin menyiapkan semuanya sebelum meninggal," katanya.

"Chanel hadir (di dunia mode) dengan garis-garis halusnya. Dia beradaptasi dengan kehidupan dan mengejutkan semua orang dengan modernitasnya," kata desainer Spanyol, Paco Rabanne.

Desainer Prancis Pierre Balmain mengatakan Chanel selalu berani, terbuka apa adanya. “Tidak ada keindahan lain selain kebebasan tubuh," ujarnya.

Chanel dimakamkan pada Rabu, 13 Januari 1971. Ribuan orang berkumpul di depan gereja Madeleine di Paris untuk menghormati kepergiannya. “Sebagian nama besar perancang mode, ada di sana, tapi tidak ada Pierre Cardin, yang telah dikritik berkali-kali oleh Chanel,” tulis AFP.

Semua memberi penghormatan kepada Chanel, seorang yatim piatu dari  keluarga sederhana yang kerap kandas dalam hubungan cinta. Dia merupakan salah satu perempuan pertama yang memotong pendek rambutnya, sebagai bentuk frustrasi. Namun, seperti parfum ciptaannya, Chanel No 5, namanya tetap semerbak hingga kini. (AFP/M-4)

BERITA TERKAIT