27 December 2020, 02:15 WIB

Bukan sekadar Pentas Busana


Galih Agus Saputra | Weekend

ORANG-ORANG itu tampak berjalan di atas tumpukan potongan kain. Ada yang membawa tongkat, ada yang memakai topi, ada yang berkerudung, dan ada pula yang membawa alat tenun tradisional dari kayu atau yang biasa dipakai untuk menghasilkan gulungan benang.

Orang-orang itu bukan sedang pawai. Mereka ialah peraga busana yang tampil di pertunjukan instalasi tekstil, Lusi Pakan Sumbi: Failure De Couture. Pertunjukan itu digarap sutradara teater, Taufik Darwis, sementara busana yang dikenakan para penampil dirancang desainer fesyen, Widi Asari.

Pertunjukan itu merujuk kepada dua hal, yakni alat tenun tradisional dalam khazanah perajinan kain serta satu momen pada legenda Sangkuriang di Jawa Barat atau lebih tepatnya saat benang pakan jatuh dari tangan Dayang Sumbi, ketika menenun boeh rarang (kain hasil tenunannya).

‘Tumang, anjing jantan penjaganya Sumbi, yang membawakan benang tersebut pada akhirnya menjadi suami dari Sumbi’, begitulah seperti tertulis dalam deskripsi pertunjukan Lusi Pakan Sumbi: Failure De Couture yang digelar luring pada 27 hingga 29 November dan daring pada Minggu (20/12) lalu.

Menurut Taufik, cerita Sangkuriang bisa jadi bukan mitos, atau lebih tepatnya legenda. Mitos, legenda, dan cerita rakyat baginya sulit diklasifikasikan dan sering kali tumpang-tindih. Meski begitu, ia punya cara untuk ‘mendamaikannya’, yaitu dari sisi bagaimana orangorang tergerak oleh narasi. Dengan kata lain, narasi turut merepresentasikan atau menciptakan realitas.

“Tangkuban Parahu mungkin akan sama seperti gunung-gunung lainnya di Bandung Raya kalau tidak ada cerita Sangkuriang, yang banyak mengandung nilai, pesan, dan moral atas larangan incest, seorang anak mencintai atau menikahi ibunya,” imbuhnya, dalam keterangan  tertulis di buku saku Lusi Pakan Sumbi: Failure De Couture.

Namun, lanjut Taufik, mungkin banyak juga orang yang tidak melihat bagaimana dalam cerita itu ternyata ada agensi bahwa perempuan (Dayang Sumbi) sebagai subjek independen-produktif (menenun kain) dan resisten terhadap percepatan dan kemasifan produksi (industri), deforestasi, dan kegagalan mengelola air. Ide awal pertunjukan itu ialah bagaimana ‘menggerakkan’ orang melihat hal itu dan menggunakannya untuk melihat keseharian kini.

“Jadi, saya tidak sedang mengkritik mitos, legenda, atau cerita rakyat. Saya sedang menggunakannya,” kata pendiri Bandung Performing Arts Forum (BPAF) itu.

Pertunjukan itu, menurut Taufik, memotong peristiwa teropong gulungan benang pakan (horizontal) tenunan Dayang Sumbi yang telah jatuh. Serta proses Tumang mengambil dan mengantarkan gulungan benang tersebut ke Dayang Sumbi agar bisa kembali menenun boeh rarang, yang menjelang akhir cerita digunakan untuk memanipulasi matahari untuk ‘melawan’-menghentikan Sangkuriang.

Potongan kisah tersebut ia gunakan sebagai jejak dan untuk membayangkan siapa Tumang sekarang. Serta untuk menghadirkan ironi, paradoks dari agensi keterampilan tekstil yang telah mengalami lipatan dan lompatan waktu industri seperti apa yang dilakukan Sangkuriang atau bagaimana caranya dia menghentikan diri sendiri.

“Jika boeh rarang bukan lagi kain tenunan dari benang lusi dan pakan dari kapas murni yang dibuat oleh seorang seperti Dayang Sumbi atau perempuan menopause (di masyarakat Kanekes, Baduy), tapi dari serangkaian gerakan, gulungan, dan ikatan komunitas sisa-sisa (industri tekstil),” katanya.


Inspirasi

Widi menuturkan karya busana ini mendapat inspirasi dari material yang berangkat dari kata kunci sifat dari legenda Sumbi dan Sangkuriang. Sumbi dengan kata kunci slow, rarang, anyaman polos, serat alam, broken white (kain grey), menenun, feminin, personal, tradisional, dan tekstil keberlanjutan (sustainability textile).

Sementara itu, Sangkuriang dengan kata kunci fast, variasi anyaman, serat buatan atau campuran, multicolors, mesin, maskulin, kuat, massal, industri modern, dan dampak residu. Dari kata kunci yang didapat tersebut, ia mengolah material dari karakterisasi sifat tersebut. Di pertunjukan itu ia terlibat sebagai desainer yang membawa material limbah sisa manufaktur tekstil yang awalnya dianggap tidak bernilai menjadi sebuah busana yang bernilai.

Residu industri tekstil berupa limbah yang dianggap memiliki nilai rendah tersebut ia olah dengan metode manipulating fabric sedemikian rupa sehingga limbah tersebut jadi memiliki nilai estetika dan daya guna-pakai. Itu bahkan pantas disandingkan dengan karya busana yang berbahan baku virgin material. Itu bahkan dapat memiliki nilai lebih tinggi dan layak dipamerkan di panggung peragaan busana.


Pengalaman menonton

Dosen Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Telkom, AY Sekar, yang sudah lama mengikuti karya Widi mengatakan pertunjukan itu membawa unsur kebaruan dalam penyajian karya fesyen yang biasanya hanya menampilkan pakaian di atas catwalk bersama model pada kesempatan ini dikemas dengan teater.

Pemilihan teater sebagai media presentasi fesyen pada akhirnya, kata Sekar, dapat memuat lebih banyak cerita. Terlebih di fashion show, tidak banyak desainer yang menceritakan bagaimana proses karya itu dibuat. Penonton biasanya hanya menikmati hasil akhir dari suatu karya. Karena itu, penggunaan teater kali ini telah memberi banyak sumbangan, khususnya berkenaan dengan elemen estetik.

“Di situ juga diadakan si material awalnya di pakaian itu seperti apa yang tak lain adalah limbah. Menjadi pengalaman baru untuk menonton fesyen. Kalau dari fashion show-nya, saya menikmati fesyen, sementara di teatar saya menikmati estetisnya,” kata Sekar. (M-4)

BERITA TERKAIT