27 December 2020, 01:25 WIB

Balada Durna


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

BARU-BARU ini ada guru sekolah negeri di DKI Jakarta menjadi sorotan publik karena dinilai berpolitik. Gara-garanya, ia membuat soal untuk para siswanya yang pertanyaan dan jawabannya dianggap mendukung atau menyanjung satu tokoh dan sebaliknya menjelekkan tokoh lain. 

Berpolitik itu hak. Namun, guru memang tidak diperbolehkan berpolitik praktis. Ini bukan hanya karena ada undang-undang yang mengaturnya, melainkan juga secara etika pun itu tidak elok. Guru mesti jejeg (tegak lurus) dengan profesi dan jari dirinya sebagai pendidik.

Dalam dunia wayang, ada kisah seorang guru hebat dan sangat kondang, tetapi berakhir mengenaskan akibat berpolitik. Ia merasa berutang budi dan tidak kuasa menolak hasutan sehingga harus mendukung salah satu kelompok yang pada akhirnya menjerumuskannya ke kefatalan.


Berebut minyak tala

Alkisah, Kurawa dan Pandawa saling pandang dan celingukan di bibir sumur tua di pinggir hutan di wilayah Negara Astina. Mereka  kebingungan karena sama-sama berhasrat mengambil cupu di dalam sumur, tetapi sama-sama takut.

Tiba-tiba datang seorang lakilaki menghampiri. Pria itu lalu melepaskan rumput satu per satu ke dalam sumur yang menjelma menjadi semacam galah. Ajaibnya, sambungan rumput-rumput itu bisa digunakan untuk memungut cupu yang berada di dasar sumur.

Ketika cupu berada dalam genggamannya, Kurawa bergegas merampas. Namun, betapa kecewanya karena cupu sudah tidak ada isinya. Minyak tala, pusaka warisan mendiang Raja Astina Prabu Pandu Dewanata (ayah Pandawa), yang berada dalam cupu tersebut telah tumpah.

Kurawa dan Pandawa ingin memiliki minyak itu karena kesaktiannya. Siapa saja yang badannya dilumuri minyak tersebut tidak mempan senjata. Pandu mendapat ganjaran pusaka itu dari dewa setelah berjasa memulihkan ketenteraman kahyangan dari pengacau Nagapasa.

Arjuna kagum dengan kehebatan lelaki, yang salah satu tangannya cacat, ketika mengambil cupu. Ia lalu menunjukkan sikap hormat.  Kakaknya, Werkudara, pun melakukan hal yang sama kepada lelaki tersebut yang memperkenalkan diri bernama Kumbayana alias Durna.

Kedua kesatria Pandawa itu memohon menjadi muridnya. Tiga saudaranya, Puntadewa, Tangsen, dan Pinten, juga berharap demikian. Duryudana dan adik-adiknya (Kurawa) yang semula bengong memandangi Pandawa lalu ikut-ikutan ingin juga menjadi murid Durna.

Pandawa dan Kurawa lalu kembali ke istana Astina. Mereka matur kepada Adipati Drestarastra bahwa ada orang pintar bernama Durna dan semua ingin menjadi siswanya. Sejak Pandu wafat, pucuk pimpinan Astina untuk sementara dipegang Drestrarastra, ayah Kurawa yang juga uak Pandawa.

Drestarastra kemudian memanggil Durna dan ditanya asal usulnya serta kesediaannya menjadi guru para pangeran Astina. Durna dengan senang hati menerima amanah tersebut. Namun, sebelum sampai pada keputusan, sang adipati memohon saran dan pertimbangan Maharsi Bhisma.

Bhisma meminta waktu untuk mengetahui kedalaman serta keluasan ilmu Durna. Pada akhirnya, ahli waris sejati takhta Astina itu  memberikan akreditasi plus kepada Durna dan pantas menjadi guruPandawa dan Kurawa. 


Menjadi paranpara

Durna tidak meminta fasilitas eksklusif dan tetap tinggal di Sokalima. Konon, nama Sokalima itu dari kata asoka, jenis kembang, dan lima. Di tempat itu pernah tumbuh pohon asoka yang bunganya berwarna lima macam.

Sebagai sarana pamulangan (pendidikan), atas perintah Drestarastra, dibangun semacam gedung di Sokalima. Sejak saat itu, tempat  tersebut dinamakan Padepokan Sokalima. Satusatunya putra Durna, Aswatama, juga tercatat sebagai murid di padepokan tersebut.

Setelah pembelajaran berjalan sekian waktu, Pandawa dan Kurawa semakin tahu kehebatan sang guru. Selain menguasai ilmu kesempurnaan hidup, sangat mahir menggunakan senjata, terutama memanah, serta kaya pengetahuan taktik dan strategi perang.

Untuk mengetahui sejauh mana ilmu diserap para siswanya, Durna secara periodik menggelar pendadaran (ujian). Hasilnya setiap kali ujian pengetahuan dan praktik dilaksanakan, Pandawa selalu mendapat nilai biru. Sebaliknya, Kurawa selalu berapor merah.

Kurawa sebenarnya tidak bodohbodoh amat. Mereka malas belajar karena hasutan Sengkuni, paman mereka dari ibu. Siang dan malam,
Duryudana dan adik-adiknya dipengaruhi agar tidak usah belajar. Untuk apa pintar kalau tidak berkuasa?

Intensitas provokasi Sengkuni membuat Kurawa terlena. Mereka mengikuti kehendak sang paman merebut takhta Astina. Padahal, menurut konstitusi, kekuasaan Astina merupakan hak Pandawa sebagai ahli waris Pandu. Singkat cerita, lewat kelicikan Sengkuni, Duryudana berhasil menggenggam takhta Astina.

Ketika Duryudana menjadi raja, Durna diangkat sebagai paranpara negara. Posisinya jadi bukan hanya sebatas guru, melainkan juga nayaka praja. Secara langsung, kedudukannya itu mengakibatkan dirinya bersentuhan dengan politik.

Durna kikuk ketika Kurawa bermaksud menyirnakan Pandawa. Itu disebabkan Duryudana khawatir bila anak-anak Pandu masih hidup, akan menjadi ancaman kekuasaannya. Sebagai penasihat, sang paranpara selalu dimintai bantuannya untuk melaksanakan kehendak sang raja.

Bagaimanapun Durna masih berusaha menjaga integritasnya sebagai guru. Ia tidak bosan-bosan menunjukkan perilaku utama, mana perbuatan baik dan apa yang buruk. Diingatkan pula bahwa Pandawa dan Kurawa itu sedarah.


Mati mengenaskan

Namun, Duryudana sudah buta hati dan gelap mata. Pandawa bukan lagi saudara sepupu, melainkan satru (musuh) abadi. Di depan raja, Durna kerap dipojokkan Patih Sengkuni yang menuduhnya tidak setia kepada raja.

Puncaknya, untuk menunjukkan kesetiaannya kepada Duryudana, Durna bersedia menjadi senapati Kurawa dalam Bharatayuda. Ia
memerangi Pandawa yang sejatinya orang-orang yang sangat ia sayangi. Durna akhirnya mati mengenaskan di tangan Drestajumna, adik  ipar Puntadewa.

Poin kisah ini ialah guru menerima akibatnya karena berpolitik. Durna tidak mampu keluar dari pusaran politik Kurawa. Itu disebabkan ia memilih bertahan menjadi paranpara Duryudana meski gagal melaksanakan tugas mulianya. (M-2)

BERITA TERKAIT