13 December 2020, 01:05 WIB

Merawat Denyut Seni Rupa di Minahasa


Galih Agus Saputra | Weekend

SEKELOMPOK ikan itu tampak melingkar, seolah berhadap-hadapan. Di tengahnya ada bintang merah, sementara di sekelilingnya terlihat terumbu karang yang tidak hanya memesona, tetapi juga mencerminkan betapa luasnya spektrum warna.

“Keindahan alam laut baik terumbu karang maupun berbagai jenis ikannya menjadi inspirasi saya melukis. Tidak hanya sekadar dilukis, tetapi menjadi menarik apabila ‘ikan’ dibahasakan dalam bahasa rupa (lukisan) untuk membawa pesan: Di sini kami berkumpul seperti satu keluarga yang rukun dan damai, menikmati hari hidup dengan tawa canda dan sukacita,” begitu kata John Semuel, mengenai lukisannya yang berjudul Rumahku itu.

John ialah salah satu dari sekian banyak perupa yang kali ini tampil dalam pameran daring Arus Timur di laman Galnasonline.id. Selain dia, ada juga Jeffry R Wattimena dan Aji Hidayat Febrianto dalam pameran yang dibuka sejak Jumat (4/12) lalu itu. Pada kesempatan ini, Jeffry tampil dengan Yakiku, sementara Aji muncul dengan Beking Kopra.

Yakiku ialah lukisan akrilik pada kanvas 100 x100 cm yang dibuat Jeffry pada 2019. Ketika John sebelumnya berbicara tentang dunia bawah laut, perupa kelahiran Poso, 14 Juni 1972 ini mencoba bercerita tentang monyet yaki (Macaca nigra) yang merupakan hewan endemik Sulawesi Utara lewat karyanya.

Menurut Jeffry, yaki merupakan hewan yang diyakini membentuk hutan hujan tropis di Sulawesi Utara. Berkat kecepatan hewan itu bergerak, spesies itu telah membantu menyebarkan biji-bijian yang membentuk hutan.

Menurut Jefry, dalam lukisan itu ada dua hal yang berusaha dia angkat. Pertama, memperlihatkan kaki yaki yang menghadap samping. Kaki yaki dapat berfungsi sebagai tangan yang menunjukkan hewan tersebut merupakan pekerja keras yang tangguh. Kedua, yaki yang menghadap depan dan merokok menunjukkan hewan itu ialah spesies tua yang mendiami Sulawesi Utara sebelum nenek moyang orang di wilayah itu datang dan mendiami daratan. “Sehingga wajib bagi kita untuk menjaga dan melindungi kelestarian hewan ini,” kata pria yang kini menetap di Bitung tersebut.

Sementara itu, Aji dengan Beking Kopra mencoba menggambarkan kehidupan masyarakat di Sulut. Dalam lukisan akrilik 110 x 175 cm itu, ia menambahkan keterangan bahwa sebutan ‘Nyiur Melambai’ diberikan kepada Sulut karena memiliki banyak pohon kelapa yang melambai-lambai. Begitu masuk ke daerah itu, seseorang seperti disambut dengan lambaian nyiur yang menyerupai lambaian tangan ramah penduduk sekitar. 

Kopra atau daging kelapa, kata perupa disabilitas tunarungu yang lahir di Manado itu, juga telah menjadi sumber mata pencaharian  masyarakat Provinsi Sulawesi Utara. Katanya, “Untuk mengolahnya, masyarakat Sulawesi Utara masih menggunakan cara-cara tradisional yang tetap dipertahankan hingga saat ini.”

Arus Timur pada kesempatan ini diselenggarakan Komunitas Seni Torang asal Sulawesi Utara, sebagai bagian dari program andalan Galeri Nasional Indonesia, yang salah satunya ialah Pameran Seni Rupa Nusantara (PSRN). Fokus program itu ialah keterwakilan para perupa di berbagai wilayah Nusantara, atau dalam hal ini Sulut, agar dapat berkiprah di kancah seni rupa nasional.


Sejarah

Yusuf Susilo Hartono dalam catatan kuratorialnya mengatakan seni rupa modern sejatinya sudah lama berdenyut di Sulut, khususnya di Tomohon. Itu dimulai sejak masa kolonial atau prakemerdekaan. Pada 1930-an, kata dia, ada sosok Henk Ngantung. Sebelum hijrah ke Jawa pada 1937, Henk waktu remaja sudah aktif membuat sketsa tentang kehidupan masyarakat dan alam Minahasa. Bahkan pada usia belasan tahun, ia sudah menggelar pameran tunggal di kota kelahirannya tersebut.

“Temuan terbaru, yang kini masih terus diperdalam, jauh sebelum Henk, kira-kira paruh kedua abad ke-19, Paul Najoan dan F Kasenda sudah melukis. Paul Najoan belajar menggambar di Kweekschool di Makassar kemudian berkarier sebagai guru gambar di Ambon.  Setelah Henk hijrah ke Jawa (Bandung 1937-1940, Jakarta 1940-wafat 1991) seni lukis Sulawesi Utara tidak kemudian mati. Malahan bersambung, dilanjutkan para pelukis dan perupa eraera berikutnya,” kata Yusuf.

Pada 1950-an, Yusuf menceritakan ada yang namanya Era Penganjur Mengangkat Citra Sulawesi Utara dengan tokohnya AB Wetik. Pada 1970-an ada Era IKIP Manado atau kini Universitas Negeri Manado dengan dibukanya Jurusan Seni Rupa oleh JA Pangkey dan SP
Mokalu.

Di luar tembok Seni Rupa Unima, muncul Sonny Lengkong, yang kemudian menjadi bintang seni rupa Sulut, dekade 1990-an hingga akhir hayatnya 2017. “Pada dekade 1980-an, juga terjadi Era Sulawesi UtaraJawa dalam arti para akademisi, pelukis/perupa dari Pulau Jawa, berdatangan mengabdikan dirinya untuk mengajar, berkarya, hingga pameran di Sulut, bersama pelukis atau perupa lokal. Atau sebaliknya seniman-seniman lukis Sulut kuliah atau berpa meran di berbagai kota di Jawa,” kata Yusuf.

Rekan kurator Yusuf dalam pameran ini, Citra Smara Dewi juga mengungkapkan perupa asal Sulut boleh dibilang cukup aktif terlibat pada PSRN sejak pertama kali diadakan pada 2001. Kala itu ada enam perupa yang ikut tampil. Kemudian pada 2002 ada 3 perupa, pada 2009 ada 2 perupa, lalu pada 2011 dan 2013 ada 1 perupa.

Menurut Citra, pameran Arus Timur kali ini mencoba merangkai benang merah perkembangan seni rupa Sulut. Dewasa ini ia juga telah menemukan catatan menarik, bilamana mencermati perkembangan karya perupa Minahasa yang terlibat dalam PSRN (era 2000-an dan era 2010-an), dengan karya para perupa yang tampil dalam pameran kali ini.

Di antaranya, katanya, dari gagasan estetis terdapat peningkatan yang signifikan, yakni eksplorasi material, media, dan teknik tidak lagi terbatas pada cat minyak atau akrilik pada kanvas, seperti karya tiga dimensi, seni grafis, dan seni batik. Kedua potensi kelokalan menjadi kekuatan pada seni rupa Sulut, baik dalam hal potensi geografi , demografi , dan sejarah lokal.

Muncul ide atau gagasan yang, menurutnya, berhubungan dengan wilayah geografis dengan kekuatan maritim dan potensi alam seperti ikan cakalang fufu dan kelapa, kekayaan karakteristik masyarakat Manado seperti gaya hidup, kekuatan etnik seperti Tari Kabasaran, dan sejarah lokal seperti legenda Watu Pinawetengan yang bercerita tentang nenek moyang orang Minahasa.

Ketiga, kata Citra, karya para perupa juga mengandung nilainilai spiritual, yaitu bagaimana keyakinan seseorang terhadap Sang Pencipta sebagai gagasan berkarya dan bagaimana kesadaran seseorang dalam menyikapi dan memandang kehidupan. (M-4)

BERITA TERKAIT