07 December 2020, 14:02 WIB

Ini Cara Dua Perancang Mode Dunia Menyiasati Krisis


Adiyanto |

PANDEMI covid-19 telah memorakmorandakan sector ekonomi, termasuk dunia mode. Tetapi desainer Italia Domenico Dolce dan Stefano Gabbana yakin hal itu telah mendorong mereka untuk lebih inovatif.

Dengan minimnya acara peragaan busana bertabur bintang dan dibatasinya pertemuan tatap muka, pasangan itu mengatakan mereka telah dipaksa untuk bergegas, mengingat hari-hari awal mereka di pertengahan 1980-an.

Dolce, 62, dan Gabbana, 58, berbicara kepada AFP dari sebuah rumah mewah mereka di Milan di mana serangkaian film pendek untuk koleksi haute couture mereka yang akan datang, sedang proses pengambilan gambar.

Video-video ini akan ditayangkan secara online mulai Senin sebagai alternatif dari tayangan catwalk konvensional.

Berikut tanya jawab wartawan AFP dengan para desainer tersebut.

Bagaimana Anda sebagai desainer melewati periode yang sangat khusus ini?

Stefano Gabbana: Domenico dan saya adalah dua orang yang berpikiran positif, kami tidak berkecil hati dengan kenyataan bahwa kami tidak dapat melakukan hal-hal tertentu. Tapi tentu saja semuanya lebih sulit.

Tapi saya harus mengingatkan Anda bahwa ketika merek ini (Dolce&Gabbana) diluncurkan pada 1984, kami hanya memiliki tiga juta lira (1.500 euro / US$1.824). Kami membuat mantel dari bulu domba karena kami tidak bisa membuatnya dengan kasmir, kami membuat pakaian dengan jersey karena kami tidak punya uang untuk membeli kain yang lebih berharga. Ini adalah situasi yang dapat dibandingkan dengan hari ini: kami tidak dapat membeli ini, kami tidak dapat melakukan itu.

Ini justru mempertajam daya cipta. Saat Domenico dan saya berada di bawah tekanan, kami memberikan yang terbaik. Kami menyukai tantangan."

Domenico Dolce: Ini adalah bagian dari 'ke-Italia-an'. Kami benar-benar 1.000 % orang Italia. Saat terjadi bencana, Anda harus inovatif, kreatif, jangan berhenti, jangan menangisi nasib Anda , Anda harus bereaksi dengan optimisme, positif.

Banyak yang memprediksi bisnis barang mewah terpukul oleh situasi rumit tahun ini dan akan membuat penjualan turun lebih dari 20% di seluruh dunia. Bagaimana dengan rumah mode Anda?

Stefano Gabbana: Sebagian besar pekerjaan dilakukan secara online. Di beberapa negara, toko-toko buka, seperti di Tiongkok. Di negara lain, tidak, terutama di Eropa dan Amerika Serikat.

Kami telah melihat pertumbuhan 170% dalam empat bulan pada sektor e-commerce, karena semua orang membeli dengan cara ini. Ada sisi positif dari situasi ini, kami beradaptasi dengan mode pembelian baru, yang sudah sangat berkembang di Amerika Serikat dan Amerika Selatan. "

Bagaimana Anda bisa membuat koleksi haute couture ini?

Stefano Gabbana: Kami memiliki semua sumber daya manusia di dalam perusahaan, para desainer, penyulam, semuanya dilakukan di Milan. Kami berhasil melakukannya dengan lambat. (Haute Couture bukan sekadar produk seharga ratusan atau miliran rupiah. Hanya yang mendapat pengesahan dari Le Chambre Syndicale de la Haute Couture di Paris, yang berhak menyandang predikat ini. Melalui pengawasan dari badan ini, para perancang busana yang dianggap menghasilkan karya unik dan desain yang berkualitaslah yang berhak mendapatkan label Haute Couture-Red)

Stefano Gabbana: Kami telah menawarkan pakaian yang agak klasik, seperti gaun hitam kecil untuk wanita yang lebih dewasa ... untuk yang lebih muda kami mendekonstruksi apa yang bisa kami rombak dan kami membangunnya kembali, dengan cara yang benar-benar baru."

Apakah krisis telah mengubah cara kerja Anda?

Stefano Gabbana: Kami memiliki terlalu banyak hal yang harus dilakukan (sebelumnya), kecepatannya kacau, sekarang menjadi lebih lambat.

Domenico Dolce: Sebelumnya ada kecemasan untuk melakukan sesuatu, karena kami hanya punya sedikit waktu. Sekarang, dan ini membuat kami sangat bahagia, kami punya waktu untuk berpikir. Kami kembali seperti di tahun 1985- 86 ..Kami telah menemukan kembali kebahagiaan menikmati pekerjaan kami. (M-4)

 

BERITA TERKAIT