04 December 2020, 12:30 WIB

Ilmuwan Australia Ciptakan Kulit Buatan yang Bisa Merasakan Sakit


Deden Muhammad Rojani | Weekend

RASA sakit mungkin tidak diinginkan oleh semua orang, tetapi rasa sakit penting untuk kelangsungan hidup.  Pasalnya, rasa sakit merupakan mekanisme pertahanan yang efektif dan canggih, rasa sakit adalah cara tubuh kita memberi tahu seseorang bahwa ada sesuatu yang salah dan harus segera mengambil tindakan untuk menghindari cedera.

Kulit merupakan organ terbesar dari bagian tubuh yang terus memantau rasa sakit.  Ini dapat memicu tindakan penghindaran rasa sakit secara otomatis melalui refleks, misalnya saat kita menyentuh sesuatu yang sangat panas.

Kini, para peneliti di RMIT University di Melbourne, Australia, telah menciptakan kulit buatan yang meniru mekanisme kulit asli dan bereaksi terhadap rangsangan rasa nyeri.

Penemuan kulit buatan tersebut dilansir dari CNN, Rabu (2/12). Madhu Bhaskaran, seorang profesor teknik di RMIT University dan peneliti utama proyek tersebut mengatakan, kulit buatan tersebut terbuat dari karet silikon, teksturnya seperti kulit asli dan juga sangat mirip dengan kulit dalam hal sifat mekaniknya.

Penemuan mekanisme kulit buatan itu disebut bisa mengarah pada inovasi terobosan dalam prostetik dan robotika. “Kulitnya terbuat dari karet silikon, yang juga digunakan pada beberapa jenis lensa kontak,” ungkap Bhaskaran.

Selain itu, bahan yang dipakai untuk kulit buatan tersebut terbukti memiliki respon cepat. Sama seperti kulit asli, versi buatan dirancang untuk bereaksi ketika tekanan, panas, atau dingin melebihi ambang rasa sakit.  Lapisan luarnya terdiri dari sirkuit elektronik bertabur sensor, yang merespons rangsangan.

"Hal yang menarik tentang tubuh kita adalah ia bekerja dengan mengirimkan sinyal listrik ke sistem saraf pusat," kata Bhaskaran. Menurutnya, sirkuit elektronik bekerja dengan cara yang sama, dan sama cepatnya.

Dia menjelaskan, cara kerjanya sama seperti ketika manusia menyentuh sesuatu yang panas, reseptor rasa sakit di kulit manusia mengirimkan sinyal listrik melalui saraf ke otak.  Otak mengirimkan sinyal listriknya sendiri untuk memulai respons, misalnya refleks penarikan untuk menjauhkan anggota tubuh yang terkena panas.

Bhaskaran menjelaskan, dengan cara yang hampir sama, ketika salah satu sensor di kulit buatan mendeteksi rangsangan nyeri, ia mengirimkan sinyal listrik ke bagian struktur yang meniru otak. Hal tersebut bisa diprogram untuk memicu gerakan.

"Kuncinya di sini adalah ambang batas," kata Bhaskaran. Dia menjelaskan bahwa meskipun manusia merasakan rangsangan terus-menerus, manusia hanya bereaksi ketika rangsangan melebihi ambang batas.

“Seperti menyentuh sesuatu yang sangat panas. Otak dan kulit membandingkan rangsangan dan mengidentifikasi mana yang berbahaya,” tambahnya. Saat membuat kulit buatan, para ilmuwan menetapkan ambang batas tersebut untuk elektronik yang meniru otak. Hasilnya adalah kulit buatan yang dapat membedakan antara sentuhan lembut jepit atau tusukan yang menyakitkan. (M-1)

BERITA TERKAIT