29 November 2020, 00:50 WIB

Pamor sang Pangeran


Galih Agus Saputra | Weekend

PRIA itu duduk di atas bangku. Lengkap dengan belangkon dan surjannya, ia lantas melangkah. Sesampainya di atas panggung, ia lalu mengambil barang yang tampak seperti buku. Namun, benda tersebut ternyata pop-up yang sebentar lagi kisah di dalamnya akan ia pandu.

“Menjelang fajar, 11 November 1785, di Ngayogyakarta. Ibu kota kerajaan pada hari itu cerah. Dunia seperti dalam harmoni, dan lahirlah seorang anak bernama Bendara Raden Mas Mustahar di keraton kesultanan,” tutur pria itu.

Kisah tersebut merupakan penggalan cerita dari proses kelahiran Pangeran Diponegoro yang dinarasikan oleh seorang pembawa acara di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (26/11). Sosok pahlawan nasional yang terkenal cerdas dan banyak membaca itu beberapa waktu lalu ditampilkan dalam pameran Pamor sang Pangeran.

Pameran itu diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan menjadi salah satu rangkaian dari Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) II. Berbeda dengan tahun lalu, ketika rangkaian acara dilaksanakan di Istora Senayan, PKN kali ini diadakan secara daring dan dengan jumlah peserta sangat terbatas.

Dalam keterangan tertulis, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan PKN kali ini hadir sebagai pijakan untuk menghadapi pandemi. Tema yang diangkat ialah Cultural resiliance, yang intinya ialah bahwa kebudayaan dengan di dalamnya terdapat pengetahuan tradisional, kesenian, dan ragam ekspresi budaya lainnya menjadi basis masyarakat untuk menghadapi masa pandemi.

“Di dalam kebudayaan, kita menemukan elemen-elemen yang dibutuhkan oleh tubuh kita untuk memperkuat diri dalam menghadapi situasi saat ini,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui, sosok Pangeran Diponegoro sendiri selama ini telah dikenal dan menjadi inspirasi untuk menghadapi masa sulit. Oleh karena itu, kehadirannya dalam PKN kali ini juga diharapkan dapat menjadi gambaran eksplisit terkait semangat juang, di samping tetap mengedepankan unsur edukatif.

Cukup menarik karena dalam pameran kali ini sosok Pangeran Diponegoro tampak benar-benar hidup. Seperti yang dijelaskan oleh para kurator, Peter Carey dan Nusi Lisabilla Estudiantin, kisah sang pangeran di sini ditampilkan dengan konsep mendongeng (storytelling) dan dilengkapi dengan pop-up dan video mapping.

Pada suatu sudut, sang Pangeran bahkan terlihat tak sekadar hidup. Ia tampak begitu gagah saat mencoba membersihkan kuda  kesayangannya. Kualitas hologram yang satu ini cukup istimewa karena dikombinasikan juga dengan materi tiga dimensi lainnya yakni pelana kuda.

Dengan adanya simbol ini, penyelenggara pameran mencoba mengajak kita untuk mengenal Kanjeng Kiai Gentayu yang merupakan kuda kesayangan sang Pangeran. Kanjeng Kiai Gentayu juga dikenal sebagai pusaka hidup, berwujud kuda jantan berwarna hitam dan berkaki putih. Hingga saat ini pelananya juga masih disimpan atau menjadi koleksi Museum Nasional.

Tak jauh dari situ, sosok Pangeran Diponegoro di medan perang tampak begitu gagah di sebuah lukisan. Karya yang satu ini usianya tergolong muda karena baru dibuat tahun lalu oleh Djoko Timun Mursabdo. Judulnya Manggoloyudo Tanah Jowo.


Sejarah

Sejumlah barang pusaka pada gilirannya menjadi suguhan utama bagi pengunjung pameran. Pertama, ada tongkat Kanjeng Kiai Cokro, yang menurut para kurator, dibuat oleh seorang Sultan Demak pada abad ke-16. Tongkat ini juga menjadi pusaka penting bagi Pangeran  Diponegoro karena terdapat simbol cakra di atasnya. Beberapa tahun lalu, tongkat pusaka ini juga telah mengukir catatan sejarahnya sendiri di masa Indonesia modern.

“Pada 5 Februari 2015, di Galeri Nasional, terjadi peristiwa bersejarah dengan dikembalikannya Tongkat Kiai Cokro pada rakyat Indonesia oleh keturunan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jean Chertlen Baud,” kata para kurator.

Peninggalan lain yang tak kalah menarik perhatian dalam pameran ini ialah buku atau naskah klasik yang selama ini dikenal dengan sebutan Babad Diponegoro. Naskah ini, menurut para kurator, dibuat sang Pangeran semasa diasingkan di Manado pada 1830-1833.

Memang, hingga saat ini masih muncul perdebatan apakah babad tersebut memang benar ditulis oleh Pangeran Diponegoro sendiri atau bukan. Akan tetapi, aksara di dalamnya sudah diketahui, yakni menggunakan aksara Arab Pegon, dan jumlahnya mencapai 1.151 halaman.

Tak jauh dari babad itu, pameran juga menampilkan payung kebesaran Pangeran Diponegoro. Menurut para kurator, payung berlapis prada ini sangat mungkin dibuat pada saat sang Pangeran diangkat sebagai Sultan Erucokro (Ratu Adil) atau lebih tepatnya pada 15 Agustus 1825 di Gua Sriti, Kalibawang, Kulon Progo. Payung ini juga menjadi salah satu pusaka yang dirampas pemerintah Hindia-Belanda setelah ‘Perang Jawa’ berakhir.

Sebelum memasuki pintu keluar, pengunjung pameran pada giliranya akan tiba di pemberhentian terakhir untuk melihat keris Pangeran Diponegoro yang bernama Kanjeng Kiai Nogo Siluman. Menurut para kurator, keris ini ialah koleksi lain dari sang Pangeran, di samping adanya keris Kanjeng Kiai Ageng Bondoyudo.

Kanjeng Kiai Nogo Siluman sendiri merupakan keris yang terdiri atas 11 luk. Gandiknya berbentuk kepala naga dan memilki badan naga yang memanjang mengikuti bilah keris. Adapun warangkanya berbentuk ladrang atau branggah, sementara bahan utamanya ialah besi berwarna hitam.

Keris ini sebelumnya juga sempat dinyatakan hilang selama kurang lebih 150 tahun. Upaya penelusuran kemudian dilakukan melalui riset arsip dan dokumentasi yang cukup panjang. Menurut para kurator, ada tiga dokumen yang digunakanuntuk mengidentifikasi keris tersebut. (M-4)

BERITA TERKAIT