23 November 2020, 19:00 WIB

Sejumlah Film ini akan Tayang di Festival Film Kemanusiaan


Fathurrozak | Weekend

SEPERTI festival film lainnya di Indonesia yang masuk kalender menjelang tutup tahun, 100% Manusia Film Festival tahun ini digelar secara daring. Akan ada 15 film yang diputar selama delapan hari penyelenggaraan event tersebut.

Nantinya, festival yang berlangsung pada 3-10 Desember ini akan menayangkan film-film yang telah dikurasi pada platform Festival Scope.

Mengambil tema ‘Courage’, festival akan dibuka dengan film Prancis Stars by The Pound (2018) dan akan ditutup oleh film asal Swedia Stage Mother (2020). Jumlah film yang ditayangkan tahun ini menjadi lebih sedikit dari tiga edisi terdahulu. Total, akan ada 15 film, baik panjang maupun pendek dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

 Film Sebelum Berangkat (2019) garapan Dirmawan Hatta, dan dokumenter pendek berjudul Ibu Bumi (2020) besutan Chairun Nissa yang meraih nominasi FFI, juga akan turut ditayangkan.

“Kami mengambil tema keberanian atau ‘courage,’ yang cocok dengan situasi saat ini. Terutama pandemi, maupun sosial ekonomi dunia yang tidak menentu. Dengan keberanian kita bisa membuat perubahan, baik besar maupun kecil untuk  membuat keadaan  lebih baik. Terutama dalam konteks HAM,” kata Direktur Festival 100% Manusia Film Festival, Rain Cuaca dalam konferensi pers daring, Senin, (23/11).

Selain pemutaran, festival ini juga akan menghadirkan beberapa acara pendamping. Salah satunya adalah 100% Heart to Heart, sesi ‘curhat’ daring dengan psikolog. Pada program ini, nantinya akan ada beberapa psikolog profesional yang akan mendengarkan curhatan para klien selama 60 menit, dan tidak dipungut biaya. Rain menegaskan, program ini bukanlah sesi konsultasi. Melainkan sesi yang bertujuan untuk mengajak orang-orang lebih peduli pada kesejahteraan mental mereka.

“Untuk bertemu psikolog, untuk merasakan datang ke psikolog atau ahli kesehatan mental itu, tidak menakutkan. Nanti dari pendaftaran (dibuka hingga 30 November), kami punya jadwal psikolog yang tersedia,” kata Rain.

Sementara itu, salah satu psikolog yang juga akan mendengarkan sesi curhat dalam program 100% Heart to Heart Lathifah Hanum menyatakan, meski sesi dilakukan secara daring menurutnya tidak akan mengurangi efektivitas bila dibandingkan dengan sesi tatap muka langsung.

“Memang ada kecurigaan kalau tidak tatap muka kurang puas. Tapi sebenarnya sama-sama efektif. Tergantung mau saling terlibat atau tidak. Ini kan kerja sama antara psikolog dan kliennya.” (M-4)

BERITA TERKAIT