22 November 2020, 04:55 WIB

Urgensi Penanganan Limbah Medis di Masa Pandemi


Sumber: Antara/Asian Development Bank/Indonesia Environmental Scientist Aassociation (IESA)/Kementerian Kesehatan/Kementerian LHK/Tim Riset MI-NRCPemusnahan | Weekend

LIMBAH medis, sejak sebelum adanya pandemi covid-19, sudah menjadi masalah yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), produksi limbah medis di Indonesia sebelum pandemi sudah mencapai 296 ton/hari. Jumlah tersebut kemudian meningkat 30%-50% selama pandemi atau menjadi sekitar 382 ton/hari. Pada pertengahan Oktober 2020, jumlah limbah medis ini bahkan sudah mencapai 1.662,75 ton berdasarkan laporan dari 34 provinsi di Indonesia.

Persoalan limbah medis, apalagi saat pandemi covid-19, perlu menjadi perhatian serius dan khusus. Jika tidak ditangani dengan baik, dikhawatirkan limbah infeksius ini dapat menjadi media penularan covid-19 dan juga penyakit-penyakit berbahaya lainnya

Apalagi, pengelolaan limbah infeksius di tengah pandemi bukanlah hal yang mudah. Terlebih, dari ribuan Rumah sakit, Puskesmas, dan Klinik yang ada di Indonesia, hanya sekitar 96 rumah sakit yang memiliki teknologi insinerator yang sesuai standar dan berizin untuk pengelolaan limbah medis. Sisanya bergantung pada 14 perusahaan swasta pengolah limbah medis yang tersebar di Jawa (10), Kalimantan (2), Sumatra (1), dan Sulawesi (1). Banyaknya fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) yang tidak memiliki insinerator ini disebabkan terbatasnya lahan dan terlalu dekat dengan masyarakat sehingga dikhawatirkan menimbulkan emisi yang mengganggu

Apa itu Limbah Medis ?

gasLimbah medis adalah segala jenis sampah yang mengandung bahan infeksius (atau bahan yang berpotensi infeksius).

 

BERITA TERKAIT