22 November 2020, 02:30 WIB

Daniel Nicky: Terpikat Melodi Tanah Pasundan


Bagus Pradana | Weekend

KANG Dan, begitulah panggilan akrab Daniel Nicky di Indonesia. Kelahiran Amerika Serikat (AS), sebutan khas pria Tanah Pasundan telah melekat di depan namanya karena kecintaan Daniel pada seni Sunda. Berkat kemahirannya memainkan berbagai instrumen musik tradisional Sunda, Daniel bahkan telah tampil dalam Pagelaran Napak Jagat Pasundan (NJP), salah satu pergelaran seni terbesar di Jawa Barat.

Menjadi salah stau bintang tamu Kick Andy episode Bule tapi Indonesia, pria 45 tahun itu mengungkapkan jika kehidupannya di Tanah Air diawali di Tenggarong, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pada 1997, ia menjadi guru di salah satu sekolah di sana.

Saat kembali ke AS pada 1999, ia mengaku kangen untuk kembali ke Indonesia. Minatnya yang besar pada kesenian tradisional Indonesia membuatnya mempelajari tari Bali dan Jaipong di Konsulat Jenderal RI di Chicago. Setelah itu ia memutuskan kembali ke Indonesia dan menetap di Kota Bandung untuk mendalami kesenian Sunda.

“Awal mula saya kenal budaya Indonesia itu lewat salah satu teman sekaligus guru saya saat saya masih di Chicago, yaitu Pak I Gusti Ngurah Kertayuda yang kebetulan suka kendang. Kita waktu itu membeli satu set gamelan Bali untuk di boyong ke Chicago, dengan tujuan untuk mengajari anak-anak di sana bermain musik etnik, tapi belakangan saya pikir kok tidak ada alat musik Sunda, maka saya belajarlah di sini,” ungkap Daniel di acara Kick Andy.

Bagi Kang Dan, kesenian tradisional Sunda merupakan salah satu hal yang sangat ia kagumi, lantaran ia merasa di tanah kelahirannya, Amerika, ia tidak memiliki kesenian warisan leluhur seperti kebanyakan komunitas masyarakat di Indonesia. Di negaranya, Dan mengaku hanya tahu musik-musik kontemporer seperti jazz, blues, dan rock yang lebih modern.

“Sebagai orang Amerika, kalau saya lihat budaya Sunda atau budaya Nusantara secara umum, wah sangat dalam dan punya akar sejarah yang kuat. Saya waktu pertama kali mendengar alat musik Sunda awalnya tidak ngerti, tapi semakin lama saya di Bandung, semakin telinga saya terbiasa dan malah semakin suka,” papar pria yang beristrikan seorang perempuan Sunda yang bernama Dyah Sekar.

Daniel menuturnya belajar menyanyi Sunda di Sanggar Seni Barudak. Di sana pula ia belajar bahasa Sunda, memainkan kecapi, seruling, hingga kendang. Saya hapal sekitar 10 lagu Sunda, di antaranya Es Lilin, Bubuy Bulan, Talak Tilu, Kabogoh Jauh, dan Mawar Bodas,” terang bule yang mengaku sebagai pengagum musikus Iwan Fals tersebut.

Tidak hanya mendalami sendiri, Daniel juga merangkul anak-anak muda Tanah Air untuk melestarikan musik leluhur. “Kita berusaha untuk melestarikan kebudayaan Sunda sembari merangkul dan memberikan semangat buat anak muda untuk terus belajar budaya sendiri secara lebih mendalam, mereka harus bangga dengan budayanya sendiri,” pungkas Kang Dan. (Bus/M-1)

BERITA TERKAIT