15 November 2020, 01:35 WIB

Melawan Kemapanan dan Kelumrahan


MI | Weekend

SEORANG tampak mengangkat palu godam. Cukup tinggi untuk menghasilkan daya penghancur memecah batu. Adapun di belakangnya
masih ada seorang yang tak surut dengan sekop. Ia membungkuk untuk menyorongkan sendok besar itu pada muka tanah. Nampak di
sisi lain, sesosok bertelanjang dada dengan pikulan di bahu. Gambaran itu terlihat sebagai kumpulan orang bekerja.

Tak ada yang salah dengan bekerja demi sesuap nasi, apalagi saat pandemi. Bahkan semua orang harus tetap bekerja. Tapi, tunggu dulu. Ada yang mengganjal saat menangkap kehadiran dua makhluk kecil di tengah mereka yang tengah bekerja. Kehadiran mereka memunculkan kesan lain. Apalagi dengan tubuh kurus dan kepayahan mengangkat batu. Sedangkan masih ada bentangan kawat berduri.

Jadilah lukisan berjudul Pandemi dan Sesuap Nasi (2020) karya Marwan Abdullah itu memancing rasa miris, haru, dan syukur. Lukisan itu adalah salah satu dari 35 karya yang diciptakan 28 perupa Komunitas Perupa Kota Tua (Kota) dalam Pameran Daring Kota 2020 bertajuk “Lawan!!!”.

Karya mereka dipamerkan daring lewat laman galnasonline.id mulai 10 November 2020. Karya yang dipamerkan berupa lukisan, grafis,
mixed media, mural, fotografi , dan video art.

Kembali ke karya Marwan. Terlepas soal penjenisan kerja, itulah yang hendak disampaikan Marwan. Bahwa masyarakat bawah terbiasa
bekerja keras demi sesuap nasi, bahkan sebelum adanya pandemi covid-19. Mereka terbiasa berjuang di lembah-lembah kemiskinan,
kerja keras adalah cambuk mereka bertahan hidup.

“Tak perduli virus mematikan berada di udara, bagi mereka tanpa virus pun hidup sudah terasa menyesakkan. Himpitan kemiskinan harus mereka lawan dengan kerja lebih keras lagi, karena kematian mungkin menjadikan senyuman buat mereka, karena tak perlu lagi berjuang hanya untuk hidup sehari lagi,” begitu yang tertera dalam deskripsi karya tersebut.

Pameran itu dikuratori Citra Smara Dewi, Heru Hikayat, dan Pug Warudju. Dalam konteks pameran, Citra mengungkap Lawan!!! dimaknai sebagai sikap positif dari paraperupa dalam menyikapi berbagai perubahan sosial. Tema itu sebagian besar mengangkat aspek sosial politik, seperti pencarian identitas kultural, merespons era milenial, budaya urban, dan fenomena pandemi covid-19.

Sebagai perupa yang tumbuh dan berinteraksi langsung dengan denyut kehidupan Kota Jakarta, para perupa kota memiliki rasa kepedulian dalam merespons dinamika sosial yang tengah terjadi saat ini. (Zuq/M-4)

BERITA TERKAIT