08 November 2020, 02:10 WIB

KAMWI


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

KETIKA pemerintah dan rakyat negara Wiratha prihatin dan bahumembahu berjibaku mengatasi pagebluk dan berbagai persoalan yang disebabkannya, tiba-tiba muncul gerakan politik yang diinisiasi oleh mantan punggawa negara.

Tidak hanya itu. Persoalan bertambah dengan adanya gelombang unjuk rasa sebagian komponen bangsa yang menolak disahkannya undang-undang sapu jagat. Padahal, peraturan itu diniatkan dan disusun untuk kepentingan rakyat.


Kencakarupa-Rupakenca

Syahdan, Raja Negara Wiratha Prabu Matswapati memberhentikan panglima perang Kencakarupa karena usia yang bersangkutan menjelang pensiun. Ia lalu ditawari jabatan sebagai paranpara di bidang pertahanan, tetapi ditolak.

Di luar dugaan Matswapati, ternyata Kencakarupa dendam atas pencopotannya tersebut. Bahkan, ia tersulut nafsunya mengganti Matswapati di singgasana raja. Kondisi negara yang sedang dirundung masalah, ia manfaatkan menggalang kekuatan untuk mengegolkan ambisinya.

Kencakarupa mengajak saudaranya, Rupakenca, membentuk wadah gerakan yang ia namakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Wiratha  (KAMWI). Bergabung pula tukang kepruk Rajamala dan sejumlah elite serta barisan orang sakit hati.

Setelah mendeklarasikan gerakan itu di ibu kota, mereka menggelorakannya ke sejumlah daerah sekaligus mencari simpati masyarakat. Memang tidak selalu mulus. Di daerah tertentu mereka ditolak dan malah sempat ada yang dibubarkan aparat karena melanggar protokol kesehatan.

Koalisi itu merekrut orang-orang dari berbagai kalangan, umumnya yang tidak puas (pembenci) terhadap Matswapati. Tidak luput pula para politikus avonturir kacangan yang menggunakan jubah agama.

Dalam setiap kesempatan, Kencakarupa dan kawan kawan menghembuskan isu-isu yang menyudutkan Matswapati. Mulai kebangkitan paham terlarang hingga buruknya kondisi ekonomi. Pada intinya, sang raja dituding tidak becus mengurus negara sehingga rakyat sengsara.

Semua propaganda itu dilakukan dengan harapan rakyat tidak lagi mendukung pemerintakan sehingga Matswapati sebagai pemimpin tertinggi mesti diganti.

Memang tidak semua rakyat termakan oleh isu-isu provokatif tersebut. Namun, tidak bisa dibantah bahwa hal itu menyebabkan kondisi sosial kemasyarakatan menjadi tidak tenteram. Instabilitas demikian inilah yang diinginkan dan kemudian dijadikan modal Kencakarupa mengultimatum Matswapati.

Pada suatu ketika, Kencakarupa dan Rupakenca menghadap Matswapati dengan mem-fait accompli untuk memulihkan ketenteraman  Wiratha. Ia menawarkan adu kesaktian antara jagonya dan jagonya Matswapati. Siapa yang kalah harus bur manuk atau pergi meninggalkan Wiratha.

Tidak ada pilihan lain, Matswapati terpaksa menyanggupi. Namun, ia bingung siapa yang bisa diandalkannya menghadapi Rajamala, jagonya Kencakarupa. Semua warga Wiratha pun tahu dan miris berurusan dengan Rajamala karena kesaktiannya.


Jagal Abilawa

Dalam kegalauannya itu, Matswapati memerintahkan putranya, Utara, mencari lelaki yang berani bertarung dengan Rajamala. Seperti tak mengenal waktu, siang dan malam, Utara masuk-keluar kampung menemukan pemuda perkasa.

Hampir setiap bertemu warga, di mana pun, Utara bertanya apakah bersedia menjadi jagonya Matswapati melawan Rajamala. Namun, tidak ada yang berani atau bersedia, hingga suatu ketika ia bersua lurah pasar bernama Wijakangka.

Wijakangka sejatinya Puntadewa, sulung Pandawa. Ia bersama istri (Drupadi) beserta keempat adiknya: Bratasena, Arjuna, Nakula, dan Sadewa sedang menyamar di Wiratha selama satu tahun setelah menjalani masa pembuangan 12 tahun di Hutan Kamyaka.

Sang lurah pasar memberi tahu Utara bahwa ada pemuda berbadan besar bernama Abilawa atau Bilawa yang pasti berani dihadapkan dengan Rajamala. Pemuda itu ialah anak angkat Walakas, yang pekerjaan sehariharinya sebagai tukang jagal hewan.

Segera Utara menemui Bilawa. Ia kaget ada warga Wiratha yang tinggi besar dan berotot. Kekagetannya bertambah karena lelaki itu tidak bisa bicara dengan bahasa krama atau halus. Persis seperti yang dikatakan Wijakangka, Bilawa terus terang mengaku berani diadu dengan Rajamala.

Sejurus kemudian, Utara mengajak Bilawa bertemu dengan sang raja. Semula Matswapati tampak tidak berkenan karena perilaku Bilawa yang tidak tahu kesopanan. Selain tidak bisa berbahasa halus, ia tidak mau menyembah dan duduk bersimpuh seperti rakyat lainnya.

Namun, mata batinnya melihat Bilawa, yang sejatinya adalah Bratasena, pantas dijadikan jagonya melawan Rajamala. Ia menawarkan kepada Bilawa, apa yang diinginkan bila bisa mengalahkan musuh negara. Namun, pemuda itu dengan tegas tidak minta apa-apa dan ikhlas bila dirinya mati.

Pada waktu yang telah ditentukan, terjadilah peperangan antarkedua jago. Berulang kali Rajamala mati dihujam kuku pancanaka Bilawa. Namun, ia selalu bisa hidup kembali setelah diceburkan ke dalam sebuah sendang. Itulah yang membuat Bratasena kewalahan dan terancam jiwanya.

Setelah melihat situasi kritis tersebut, Wrahatnala (Arjuna) melepaskan panah sakti ke sendang tersebut. Ketika Rajamala mati dan lagi-lagi Kencakarupa dan para pengikutnya menggotongnya untuk diceburkan ke sendang dengan harapan hidup kembali, ternyata hancur lebur.

Serta-merta Kencakarupa dan Rupakenca mengamuk. Keduanya mengeroyok Bilawa. Namun, mereka dapat disirnakan. Dengan matinya semua pentolan KAMWI, Wiratha kembali tenteram dan Matswapati tetap kukuh duduk di singgasana raja.

Pada akhir kisahnya, Matswapati mengetahui bahwa yang mengembalikan ketenteraman Wiratha adalah Pandawa. Ia berterima kasih kepada para cucunya itu dan bersumpah Wiratha akan membantu sepenuhnya kepada Pandawa saat menghadapi Kurawa dalam perang Bharatayuda.

Janji Matswapati menjadi kenyataan. Negaranya bukan hanya membantu Pandawa, tetapi juga menjadi pusat komando perang. Ia pun senang Pandawa akhirnya unggul atas Kurawa, yang berarti lenyapnya kezaliman.


Dengan cara kesatria

Secara filosofis, Pandawa dalam kisah ini melambangkan kejujuran dan kebenaran. Kemenangannya melawan komplotan Kencakarupa
merupakan pembuktian bahwa kebaikan menang atas keburukan. Sapa sing mbibiti ala wahyune bakal sirna, siapa yang mengawali dengan ketidakbaikan akhirnya sirna.

Nilai yang bisa dipetik dari cerita ini ialah bila memiliki tujuan dan kehendak (politik) seyogianya dirintis dengan laku mulia. Lakukan dengan cara-cara kesatria. Orang bijak berwasiat, hasil tidak akan mengkhianati proses. (M-2)

BERITA TERKAIT