07 November 2020, 19:05 WIB

Manfaat Seni Bagi Anak di Era Konseptual


Galih Agus Saputra | Weekend

BUKAN hanya soal mengapresiasi ekspresi, berkesenian dapat menjadi suatu kegiatan yang mendukung tumbuh kembang anak. Lewat berkesenian, anak dapat melatih kreativitas dan afeksi.

Hal itu pula yang dibahas dalam acara 'Sabtu Dengan Taufan' yang diselenggarakan PPM School of Management dan Komunitas Taufan. Acara yang berlangsung secara virtual, Sabtu (7/11) ini menghadirkan beberapa narasumber, salah satunya penulis sekaligus perupa, Kiki Raihan. Program bincang juga turut diikuti para orangtua, bersama anak-anaknya yang menjadi penyintas kanker maupun penyakit berisiko tinggi.

Kiki mengatakan manfaat seni, salah satunya ialah untuk membantu mengaktifkan otak kanan. Berkebalikan dengan otak kiri yang digunakan untuk hal yang sifatnya logis dan sistematis, otak kanan lebih menekankan pada aspek kreativitas dan rasa seperti empati hingga kemanusiaan.

Menurut Kiki, tidak ada yang lebih bagus dari dua sisi tersebut. Oleh karena itu dalam pertumbuhan anak, perkembangan kemampuan otak kanan dan kiri harus sama-sama dilatih agar seimbang. Kreativitas sangat penting bagi seorang anak, terlebih karena dewasa ini mereka sudah masuk dalam sebuah masa yang dikenal dengan era konseptual (conceptual age).

Tak seperti era sebelumnya yakni era agraria, industri, hingga informasi, era konseptual lebih dekat dengan kreativitas dan daya cipta. Untuk itu mereka yang hidup di era tersebut membutuhkan 'pegangan' yang cukup kuat untuk bertahan yakni empati.

"Dari empati kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Misalnya, saat kita melihat anak-anak di komunitas Taufan, sebagai manusia kita pasti tersentuh. Sebagai seorang desainer kita lalu memikirkan sesuatu untuk dikerjakan. Sebagai dokter, sebagai tenaga medis, pasti juga akan memikirkan apa yang bisa diperbuat," tutur Kiki, Sabtu, (7/11).

Dalam metode pembelajaran, lanjut Kiki, empati masuk dalam kategori sentuhan tinggi (high touch). Ia membangun kemampuan menyimak dan tidak hanya sekedar mendengar. Ketika dihadapkan dengan seni musik, contohnya, seorang anak yang telah cakap dalam berempati tidak hanya akan mendengarkannya sebagai musik, tetapi juga akan menelaahnya lebih dalam misalnya hingga ke tahap ketukan.

Menyertakan seni dalam tumbuh kembang anak juga memperkuat hubungan antar sesama. Menurut Kiki, dunia seni yang tidak mengenal benar dan salah dapat menjadi ajang untuk bertukar informasi dan saling membangun. Setiap orang punya hasil cipta karyanya sendiri, dimana ini juga mendukung salah satu kebutuhan yang tidak kalah penting yakni ekspresi.

"Kebayang tidak kalau seseorang itu tidak bisa berekspresi? Betapa tertekan hidupnya. Ketika seseorang tidak dapat berekspresi dia akan merasa hidupnya tidak bahagia. Kalau seseorang tidak bahagia, keluarganya juga tidak bahagia. Kalau keluarga tidak bahagia, lingkungan juga akan berpengaruh, jadi semua ini berkesinambungan. Apapun yang dapat diekspreskikan, sangat layak dilakukan. Mungkin ada yang tidak bisa menggambar, bisa juga beralih ke musik. Itu dari audio, bisa juga dengan gerakan, seperti menari," terang Kiki. (M-1)

BERITA TERKAIT