06 September 2020, 01:20 WIB

Artjog 2020 Bergeliat di Tengah Pandemi


MI | Weekend

SEBUAH tulisan ‘ARTJOG’ berwarna putih dengan latar biru menyambut pengunjung. 

Untuk memasuki pameran seni rupa tersebut, Media Indonesia harus memasuki lorong logam berlubang-lubang dengan jalan yang dicat serbaputih. Lorong logam berganti menjadi lorong dengan susunan bambu begitu memasuki gedung pameran. 

Lorong itu kemudian membentuk dua jalan ke dua ruangan yang berbeda, yang di dalamnya terdapat botol-botol disusun bertingkat. Jika dilihat dari atas, karya tersebut membentuk seperti rongga pernapasan yang menuju paru-paru. 

Anggota gerakan Murakabi, Santi Ariestyowanti, menjelaskan seni instalasi bambu tersebut mengajak manusia untuk menyeimbangkan diri di tengah pandemi. Seni bisa menjadi sarana terapi.

“Lewat bambu yang dibawa ke dalam bangunan, kita bisa merasakan lebih dekat dengan alam,” kata dia.

Selain karya tersebut, dalam Artjog 2020 yang digelar di Jogja National Museum (JNM), seniman Eko Nugroho menampilkan karya lukisan berjudul Museum of New Norm 2020. 

Karya tersebut memenuhi salah satu ruangan di JNM. Eko menjelaskan karyanya tersebut terinspirasi oleh  peristiwa global, yakni wabah covid 19. Peristiwa ini mengubah perilaku, sikap, dan nilai-nilai sosial. Sikapsikap manusia berkembang dan menunjukkan perubahan yang besar.

Misalnya, caranya bersikap melaiui identitas visualnya keada publik, cara bersikap atas normanorma yang terjadi pada masyarakat, hingga cara nilai-nilai sosial ketika manusia dihadapkanpada kesendiriannya, individunya, serta interaksi antara individu dan individu Iainnya yang berkurang. 

Sebagian beralih ke dunia digital sehingga menggunakan sikap kehidupan manusia yang paling dasar.

“Museum of New Norm menyoroti tentang individu dan perilaku masyarakat atau manusia yang berubah seiring terpaan peristiwa besar atau perubahan sejarah yang sangat signifikan,” jelas Eko.

Dua karya tersebut ialah bagian dari festival seni kontemporer tahunan, Artjog, yang telah resmi dibuka pada 8 Agustus 2020. Pameran ini akan berlangsung hingga 10 Oktober 2020.

Direktur Artjog, Heri Pemad, mengatakan Artjog tahun ini dapat dinikmati secara daring di www.artjog.co.id. Rencananya, pada September 2020 Artjog dapat dikunjungi secara terbatas di JNM dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah.

Pengunjung dari luar DIY yang ingin hadir ke Artjog harus melengkapi diri dengan hasil rapid test (nonreaktif) atau PCR/swab negatif. Pembelian tiket akan dilayani memlaui website www.artjog.co.id.  Pengunjung hanya bisa mengakses pameran pada tanggal dan jam kunjung sesuai tertera sesuai tiket. Kurator Artjog, Bambang Toko Witjaksono, menjelaskan secara umum, kuratorial dalam Artjog Resilience ingin menampilkan Artjog sebagai sebuah aktivitas yang menunjukkan ketahanan, ketangguhan, dan respons seniman/karya seni sebagai semangat bersama tetap berkesenian di tengah pandemi. Persiapannya pun sangat singkat, yaitu 2,5 bulan. (AT/M-4)

BERITA TERKAIT