08 June 2020, 21:00 WIB

Ilmuwan Simulasi Hantaman Asteroid yang Memusnahkan Dinosaurus


Abdillah Marzuqi | Weekend

 

UMUM diketahui kemusnahan dinosaurus akibat hantaman asteroid. Namun apakah hanya hantaman asterid belaka? Ternyata sudut jatuh asteroid juga turut berperan dalam kenhancuran terbesar dalam sejarah bumi.

Ilmuwan dari Imperial College London menyiimulasikan sudut jatuh asteroid ke bumi. Mereka juga menemukan bahwa sudut itu adalah yang paling mematikan. Simulasi itu menunjukkan asteroid menghantam Bumi pada sudut sekitar 60 derajat. Sudut itu mampu mengubah iklim dengan memaksimalkan jumlah gas yang dilepas ke atmosfer.

Sudut hantaman itulah yang dinilai memicu perilisan miliaran ton belerang yang mampu menghalangi matahari, sehingga mengakibatkan musim dingin. Akhirnya, dinosaurus pun tumbang bersama 75% kehidupan di bumi pada 66 juta tahun lalu.

Para peneliti mengombinasikan simulasi dampak numerik 3D dan data geofisika dari situs terdampak. Pemodelan 3D itu disebut sebagai yang pertama dalam menyimulasikan dampak secara menyeluruh, dari saat asteroid menghantam hingga terbentuknya kawah yang dikenal sebagai Chicxulub.

Simulasi dilakukan dengan Komputasi Kinerja Tinggi DiRAC di Science and Technology Facilities Council (STFC).

"Untuk dinosaurus, skenario terburuk adalah persis seperti apa yang terjadi. Hantaman asteroid melepaskan sejumlah besar gas ke atmosfer yang mampu mengubah iklim. Hal itu memicu dampak berantai yang menyebabkan kepunahan dinosaurus. Hal ini kemungkinan diperparah oleh fakta bahwa asteroid menghantam dengan sudut yang mungkin paling mematikan," terang peneliti utama Gareth Collins dari Departemen Ilmu dan Teknik Bumi Imperial College London, seperti dikutip sciencedaily.

"Simulasi kami memberikan bukti kuat bahwa asteroid menghantam pada sudut yang curam, mungkin 60 derajat di atas cakrawala, dan mendekati targetnya dari timur laut. Kami tahu bahwa ini adalah salah satu skenario terburuk yang berdampak kematian, karena itu menerbangkan puing berbahaya ke atmosfer, menyebarkannya, dan menyebabkan musim dingin nuklir," terangnya.

Istilah musim dingin nuklir merujuk kondisi dingin dan gelap yang disebabkan lapisan asap dan debu di atmosfer menghalangi sinar matahari. Hasil studi itu diterbitkan di Jurnal Nature Communications. (M-4)

BERITA TERKAIT