28 April 2021, 19:56 WIB

Masjid-masjid Tua Jejak Toleransi di Tepian Angke


Mediaindonesia.com |Video

Akulturasi masjid-masjid bersejarah di Jakarta menjadi simbol toleransi antaretnis di Batavia pada zamannya. Harmonisasi budaya berpadu seiring kehidupan masyarakat sekitar.

Masjid Jami Angke dan Langgar Tinggi di Jakarta Barat menjadi saksi toleransi itu tumbuh. Kedua tempat ibadah tersebut memiliki arsitektur unik. Setiap ornamennya, menunjukkan simbol persatuan antaretnis.

Masjid Jami Angke dibangun pada 1761 masehi atau 1174 hijriah. Terletak di Jalan Pengeran Tubagus Angke, masjid itu dirancang oleh seorang arsitek Tionghoa muslim, Syaikh Liong Tan, yang makamnya terletak di belakang masjid.

Ornamen-oranamen masjid peninggalan ulama termasuk keturunan Pangeran Tubagus Angke itu terbagi beberapa unsur, seperi Bali, Jawa, Arab, Tiongkok serta Eropa.

Keanekaragaman seni menjadi gambaran masyarakat yang hidup pada saat itu. Dengan beragam etnis dan suku, nilai-nilai toleransi masih terjaga sampai sekarang.

Jika umat muslim melaksanakan ibadah puasa dan Idul Fitri, warga Tionghoa yang tinggal di sekitar memberikan jamuan, baik berupa cenderamata, kue hingga makanan yang diberikan ke umat musim. Begitu juga sebaliknya ketika perayaan imlek.

Sementara, Langgar Tinggi dibangun pada 1829 masehi atau 1249 hijriah. Terletak di sebelah selatan Jalan Pekojan, Jakarta Barat atau antara antara Jalan Pekojan dan Kali Angke, Langgar Tinggi dibangun dengan beragam gaya arsitektur, seperti unsur gaya Eropa, Tiongkok, Jawa, dan India.

Langgar Tinggi semarak dengan pelbagai keriaan saat itu, seperti acara mauludan (kelahiran nabi Muhaammad), isra mikraj dan khatam Alquran.

Warga sekitar Pekojan, yakni dari etnik Jawa, Bali, dan Tionghoa, baik Muslim maupun non-Muslim, urunan mengumpulkan bantuan untuk ikut membiayai acara tersebut.

Jejak-jejak toleransi di kedua tempat bersejarah itu terus tumbuh serta dipertahankan, dan menjadi simbol persatuan dan kesatuan.

BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA