29 September 2022, 20:58 WIB

Teknologi Digital Bisa Jadi Alat Promosi Multikulturalisme Indonesia ke Dunia


Mediaindonesia.com |

INDONESIA sangat kaya akan kemajemukan, seperti bahasa, suku, kuliner, dan adat-istiadatnya. Potensi kemajemukan tersebut seharusnya mempersatukan rakyat Indonesia dalam keragaman. Selain itu, potensi luar biasa tersebut bisa menjadi ajang promosi wisata yang dapat disebarluaskan ke seluruh dunia.

Seperti yang dibahas dalam webinar bertema “Memahami Multikulturalisme dalam Ruang Digital” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi,, di Pontianak, Kalimantan Barat. 

Dosen Universitas Bali Internasional Komang Tri Werthi menjelaskan, multikulturalisme, yaitu gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama, dan sebagainya. 

Namun, gagasan tersebut mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan dan ada rasa bangga mempertahankan kemajemukan tersebut.

Selain itu, Komang juga menuturkan pentingnya mempelajari budaya Indonesia. Pasalnya, masih ada yang belum mengenal dengan baik tentang Indonesia. Dengan mempelajari lebih dalam tentang Indonesia, maka bisa mengenalkan Indonesia kepada dunia agar mereka tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. 

Selain itu, dengan lebih mengenal Indonesia, maka budaya Indonesia akan lebih dikenal sehingga tidak terpengaruh oleh budaya asing yang kian dominan.

“Dengan teknologi digital yang kian maju, kita bisa mempromosikan Indonesia ke seluruh dunia. Apa saja yang dipromosikan? Banyak sekali. Bisa mengenai rumah adat, obyek wisata, tarian daerah, bahasa dan lagu daerah, serta kuliner Nusantara yang begitu beragam,” tutur Komang.

Sementara itu, dalam mengenalkan Indonesia kepada dunia melalui internet atau media sosial, Sekretaris Relawan TIK Kalimantan Barat,Puspo Galih Wichaksana mengatakan, dibutuhkan etika dan sopan santun tersendiri. 

Baca juga : Perkuat Keamanan Infrastruktur Data Center untuk Ekonomi Digital

Tak hanya itu, pantang untuk menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Etika dan sopan santun di dunia maya akan menunjukkan kualitas adab seseorang berikut latar belakang budayanya.

“Selain beberapa larangan tersebut, tips berbahasa yang baik adalah menggunakan bahasa sesuai kaidah dan tata bahasa yang berlaku, tidak bertele-tele, dan hindari penggunaan kata negatif,” ujarnya.

Wakil Ketua Relawan Edukasi Antihoaks Indonesia, Agung Marhaenis mengungkapkan, tantangan budaya di ranah digital sekarang ini bisa dibilang tidak ringan. 

Salah satu contohnya adalah menipisnya wawasan kebangsaan, lunturnya nilai kesopanan, kebebasan berekspresi yang berlebihan, rendahnya toleransi, dan kapasitas literasi digital yang rendah. Padahal, kata Agung, keragaman budaya di Indonesia seharusnya menjadi berkah.

“Contohnya adalah pendirian Masjid Agung Istiqlal dan Gereja Katedral merupakan contoh baik keharmonisan beragama di Indonesia. Dua tempat ibadah ini hanya dipisahkan oleh jalan raya. Istiqlal bisa dipandang dengan indah dari Katedral, begitu pula sebaliknya,” tuturnya.

Hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. 

Kegiatan itu khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT