19 August 2022, 13:46 WIB

Fundamental Startup Indonesia Kuat, Dinilai tak Terpengaruh Fenomena Bubble Burst


Mediaindonesia.com |

ADANYA fenomena bubble burstr pada sejumlah usaha rintisan (startup) di Amerika Serikat, dinilai tidak akan berpengaruh signifikan di Indonesia. Hal itu karena fundamental startup di Indonesia masih cukup bagus. Selain itu, eksosistem digital di Indonesia juga belum terlalu besar. 

Hal itu mengemuka dalam diskusi Fenomena Bubble Burst: Jalan Terjal Startup Indonesia yang digelar Katadata Indonesia Bersama Impactto.io yang digelar secara virtual pada Jumat (19/8).

Bubble burst merupakan sebuah fenomena pertumbuhan ekonomi atau nilai pasar naik sangat cepat, khususnya harga aset namun diikuti oleh penurunan nilai yang cepat atau kontraksi. Pada umumnya gelembung yang disebabkan lonjakan harga aset didorong oleh perilaku pasar yang tinggi. 

Fenomena itu membuat sejumalh perusahaan rintisan di Indonesia berhenti operasi dan mem-PHK karyawan.

Managing Partners East Ventures Roderick Purwana mengatakan, kondisi yang dialami startup di Indonesia saat ini dikarenakan banyak faktor antara lain krisis geopolitk yaitu perang di Ukraina serta proses pemulihan dari pandemi Covid-19.

“Kenapa orang bilang sekarang winter is coming, mungkin karena memang paralel dengan adanya krisis geopolitik di Ukraina, recovery pandemi. Implikasinya tidak terlalu besar ke Indonesia karena ekosistem digital yang masih taraf awal. Dampak yang terasa paling besar hanya ke ekspektasi valuasi perusahaan,” jelas Roderick. 

Roderick menambahkan, perjalanan startup memang terjal dan bukan hanya saat ini saja. Kata dia, perusahaan rintisan perlu waktu untuk membuat produk dan diterima oleh pasar. Karena itu, startup yang punya fundamental kuat tidak akan terpengaruh dengan fenomena bubble burst.

CEO Katadata Indonesia Metta Dharmasaputra mengatakan, fenomena bubble burst yang menimpa perusahaan rintisan di Indonesia saat ini adalah bagian dari revolusi industri keempat.

Baca juga : Pentingnya Legalitas Startup dan Kompresi Data

Menurut Metta, transformasi digital justru terjadi ketika Covid-19 melanda dunia. Berdasarkan data dari Google Temasek, selama 2015-2019 populasi yang terhubung internet bertambah 100 juta. Sedangkan selama dua tahun pandem bertambah 80 juta.

Kata Metta, pengguna internet akan bertambah terus. 9 dari 10 new digital consumer akan berlanjut dan yang menarik outlook ke depan wilayah Asia Tenggara akan masuki tahap decade digital. 

Nilai internet ekonomi pada 2021 mencapai 170 miliar dollar AS dan bertambah menjadi 360 miliar dollar AS pada empat tahun kemudian serta jadi 1 triliun dollar AS pada 2030.

“Lalu di mana posisi Indonesia, Indonesia diperkirakan akan jadi pemain digital terbesar di Asia Tenggara angkanya pada 2020 berjumlah 47 miliar dollar AS, pada 2021 menjadi 70 miliar dolar AS dan diperkirakan pada 2025 menjadi 146 miliar dolar AS. Angka-angka ini membawa titik optimisme baru bahwa digital ekonomi akan terus mewarnai perekonomian Indonesia dan bubble burst bukan fenomena hantu yang menakutkan,” jelas Metta.

Managing Partners Impactto.io Italo Gani mengatakan, startup dengan fundamental yang baik akan bisa bertahan dari fenomena bubble burst. Kata dia, ini bukan kali pertama muncul istilah winter is coming karena pada 2016 juga sempat muncul kalimat tersebut.

“Good company akan survive karena pada dasarnya startup itu kan mencari solusi dari suatu masalah. Dan, tiap startup memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk bisa menawarkan produknya ke pasar dan bisa diterima. Contohnya Aruna, startup di bidang perikanan. Mereka perlu waktu lama sebelum akhirnya bisa ekspor ikan ke luar negeri,” ungkap Italo.

Koordinator Startup Digital Kementerian Komunikasi dan Informatika Sonny Sudaryana mengatakan, situasi yang dihadapi startup di Indonesia dalam 6 bulan terakhir masih dalam taraf normal. Kata dia, Kemenkominfo akan terus fokus menyiapkan infrastruktur internet sehingga perusahaan rintisan bisa memperluas pasar hingga ke seluruh wilayah di Indonesia.

“Kominfo akan bangun 500 BTS, fiber optic sepanjang 490 ribu kilometer yang menghubungkan wilayah timur, tengah dan barat serta memaksimalkan 5 satelit telekomunikasi nasional dan 4 tambahan yang kita sewa serta pengadaan Satria 1 yang operasi pada Q3 2023 serta Satria 2 pada 2024 dan Satria 3 pada 2030, tujuan utama adalah pemerataan internet di seluruh Indonesia,” ujar Sonny. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT