08 August 2022, 18:01 WIB

Pancasila Jadi Benteng Hadapi Tantangan Konten Negatif di Era Digital


Mediaindonesia.com |

SERBUAN konten digital yang deras di era sekarang ini perlu dibentengi lewat pemahaman nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Pasalnya, serbuan digitalisasi berpotensi mengikis nilai-nilai budaya asli Indonesia dan banyak digantikan oleh budaya asing. Oleh karena itu, kecakapan digital sangat dibutuhkan. 

Demikian benang merah diskusi secara daring yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi di Pontianak, Kalimantan Barat bertema "Manusia, Teknologi, dan Kemampuan Memanfaatkannya".

Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Putra Indonesia Astri Dwi Andriani mengungkapkan, terdapat tantangan di era sekarang di mana digitalisasi sudah merambah di banyak sektor. Tantangan tersebut, antara lain mengaburnya wawasan kebangsaan; menipisnya kesopanan dan kesantunan; menghilangnya budaya asli Indonesia lantaran didominasi oleh budaya asing; serta minimnya pemahaman tentang hak-hak digital.

"Ada pula persoalan kebebasan ekspresi yang berlebihan dan kurangnya toleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang ada,” ujar Astri.

Oleh karena itu, menurut Astri, dibutuhkan kompetensi berbudaya di dunia digital. Berbudaya di media digital yang ia maksud adalah kemampuan individu dalam membaca, menguraikan, memeriksa, dan membangun wawasan kebangsaan, nilai Pancasila, serta Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan nyata sehari-hari. 

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika harus menjadi landasan kecakapan digital.

Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi Tri Wiyatmo menegaskan, teknologi digital penting, selain sebagai sumber informasi dan pengetahuan, juga untuk meningkatkan produktivitas. Teknologi dapat membantu mempercepat pengambilan keputusan. Hal ini akan menciptakan efisiensi sehingga produktivitas semakin membaik.

Baca juga : 65 Persen Netizen Sadar Data Pribadi Bisa Dicuri

“Tak hanya itu, teknologi digital bisa dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis yang lebih murah dan efektif. Contohnya, untuk berjualan, kini tak dibutuhkan lagi toko atau ruko. Berjualan bisa lewat loka pasar yang transaksinya dilakukan secara online,” kata Tri Wiyatmo.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, Adriana Grahani Firdausy mengingatkan pentingnya faktor keamanan dalam memanfaatkan teknologi digital. Sebab, apabila individu abai atau lengah menjaga keamanan digital, ada potensi penyalahgunaan data pribadi yang ada di jejak digital yang ditinggalkan. 

Password yang digunakan dalam surat elektronik (e-mail), media sosial, atau bahkan pada gawai yang digunakan, sebaiknya harus sering diganti.

“Password ibarat celana dalam. Harus sering-sering diganti, bersifat rahasia (privat), dan jangan pernah dibagikan ke orang lain,” ucap Adriana.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. 

Kegiatan itu khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT