03 August 2022, 10:22 WIB

Ini yang Bisa Dilakukan untuk Melawan Hoaks


Mediaindonesia.com |

Masyarakat dengan karakteristik heterogen perlu melek digital. Apalagi dengan usia anak dan remaja yang mudah terjerumus hal negatif. Sebab internet seperti dua sisi mata uang, satu sisi internet memiliki banyak manfaat tapi di sisi lainnya memiliki dampak negatif.
 
"Maka pengguna harus cerdas dan bijak berinternet, yang diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan akal budinya dalam penggunaan internet sebagaimana mestinya," kata Wakasek Kesiswaan SMA 6 Serang, Ganda Yanuar di Banten pada Jumat (29/7).
 
Saat ini menurutnya pengguna media sosial sebagian masih banyak yang belum memiliki kemampuan menyaring apa yang ada di media sosial. Seperti dalam berkomentar dan memilih apa yang pantas dan tidak ditampilkan dalam media sosial. Dalam konteks tersebut setiap pengguna kebanyakan memakai whats'App untuk terhubung dengan orang lain, kemudian penggunaan platform lainnya yang banyak digunakan adalah Facebook, serta yang terbaru TikTok.
 
Berdasarkan survei Microsoft 2021 mengenai Digital Civility Indeks menyimpulkan netizen Indonesia sebagai yang paling tidak sopan di Asia Pasific, hal ini menjadi salah satu pekerjaan rumah di mana Indonesia seharusnya memiliki budaya yang menjunjung sopan santun. Selain itu ujaran kebencian, perundungan, dan hoaks menjadi hal yang membuat perilaku netizen Indonesia tidak sopan di dunia digital.
 
Terlebih di dunia pendidikan, ada berbagai kejadian perundungan yang menyebabkan siswa tidak ingin sekolah hingga bunuh diri. Selanjutnya mengenai hoaks dan ujaran kebencian bisa menimbulkan perpecahan. Kemudian perundungan dapat mengakibatkan kesehatan mental korban terganggu, dan terhadap perulaku penyebar berita hoaks, ujaran kebencian dan perundungan dapat terjerat hukum pidana.
 
"Setiap pengguna harus mewaspadai hoaks yang beredar di media sosial. Yakni dengan menyaring terlebih dulu informasi yang didapatkan, sebab bukan hanya membuat konten saja. Pihak yang menyebarkan turut terkena hukum pidana Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)," katanya lagi.
 
Karena itu penerapan etika berinternet harus menjadi kesadaran warga digital. Perubahan perilaku masyarakat yang berpindah ke online harus diikuti tata kesopanan seperti di dunia nyata. Gunakan kata-kata yang sopan di internet, perhatikan kata-kata yang ditulis jangan terkait SARA, jangan ada unsur pornografi dan pornoaksi, serta berhati-hati saat memberikan data-data yang bersifat privasi seperti KTP. (OL-12)

BERITA TERKAIT