03 August 2022, 10:17 WIB

Waspada Flexing, Pamer Kekayaan Demi Menjerat Korban


Mediaindonesia.com |

Berbagai manfaat ditawarkan media sosial. Mulai dari membangun jejaring pertemanan hingga tempat mengekspresikan diri. Namun, medsos juga berpotensi menghadirkan masalah. Salah satunya penipuan. Data terakhir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), uang hasil penipuan di Indonesia mencapai Rp 117 triliun. Besarnya angka ini menunjukkan masyarakat masih rentan tertipu.

Relawan Mafindo, Dosen Praktisi, HR Professional, Rovien Aryunia,  menyebutkan, pelaku penipuan umumnya menunjukkan perilaku sama sebelum melakukan aksinya. “Mereka melakukan flexing, menunjukkan hidup dalam kemewahan sehingga korban percaya akan baik-baik saja. Tujuannya mendapatkan korban,” ujarnya di Lumajang, Jawa Timur, pada Minggu (31/7).

Metode flexing, lanjut Rovien, juga ditunjukkan dalam film dokumenter The Tinder Swindler dan Inventing Anna. Keduanya melakukan penipuan dengan diawali menunjukkan hidup dalam kekayaan, padahal uangnya didapat dari korban yang ditipu pertama. Tujuannya untuk menjerat korban berikutnya.

Baru-baru ini ramai kasus penipuan investasti di Indonesia. Sang pelaku Indra Kenz berakhir di penjara. Semua kekayaannya ternyata bohongan. Dia menggunakan metode flexing untuk menarik orang berinvestasi sepertinya. “Profil media pelaku biasanya tidak konsisten, sok akrab banget, umbar janji manis, dan ujung-ujungnya uang,” kata Rovien. (OL-12)

BERITA TERKAIT