20 May 2022, 12:36 WIB

Platform Pintarnya Gaet Pendanaan sebesar $6.3 juta Buka Peluang Kerja


Indrastuti |

DI Indonesia, terdapat 60 juta buruh pekerja kasar yang disebut kerah  biru mencakup lebih dari 70% pekerja berbayar dan menyumbangkan 20% pada PDB. Namun banyak di antara mereka yang tidak memiliki akses untuk membantu mereka mencari peluang kerja lebih baik. Selain itu, keterbatasan akses pada layanan dan produk keuangan formal kerap mengakibatkan mereka berali ke sumber pendanaan informal dengan bungan tinggi. 

Di lain sisi, para pemberi kerja tidak memiliki cukup akses pada sebuah platform yang dapat diandalkan untuk membantu mereka mengidentifikasi, memverifikasi dan mempekerjakan para pekerja yang dibutuhkan.

Hal inilah yang mendorong Nelly Nurmalasari, Henry Hendrawan, dan dan Ghirish Pokardas menciptakan nilai bagi puluhan juta pekerja Indonesia mendirikan Pintarnya di tahun 2022. Pintarnya adalah sebuah platform satu atap yang membantu kelas pekerja Indonesia yang kian meningkat untuk mendapatkan pekerjaan, menjadi lebih dapat dipekerjakan dan mengakses layanan keuangan yang lebih baik.

Baca jugaPeruri Gandeng eMET Aplikasi Penyedia Bundling e-Meterai

Sebelum mendirikan Pintarnya, Nelly dan Henry merupakan eksekutif senior di Traveloka. “Dulu saya mempekerjakan staf salon kecantikan saya melalui platform iklan baris online atau referensi para pekerja lain. Sangat sulit untuk menyaring dan memverifikasi kandidat dan pengalaman kerjanya dengan cepat," kata Co-Founder dan CEO Pintarnya Nelly Nurmalasari dalam keterangan resmi, kemarin.

Ia menambahkan, ia kerap melihat para pencari kerja kesulitan untuk mendapat peluang baru, bahkan ada yang menjadi korban penipuan dalam proses pencarian kerja. 

"Sebanyak 80% dari populasi memiliki smartphone, jadi ini saat yang tepat untuk meluncurkan sebuah platform digital. Perubahan perilaku yang dipicu oleh pandemi covid-19 baru-baru ini dan bangkitnya Open Finance di Indonesia juga memberikan dorongan pada misi kami,” ujar Nelly.

Setelah para pencari kerja mendaftar dan membuat sebuah profil, Pintarnya akan menggunakan informasi yang diberikan mereka untuk merekomendasikan peluang pekerjaan yang relevan untuk mereka. Kemudian Pintarnya akan bekerja bersama si pemberi kerja untuk mengkualifikasi dan rekrut pekerja kerah biru yang tepat.  

Pintarnya percaya bahwa memberdayakan pekerja kerah biru untuk mencari peluang pekerjaan yang relevan akan menghasilkan perekonomian yang lebih baik, yang akan mendorong roda pemberdayaan finansial. “Misi  Pintarnya tidak hanya membantu para pekerja mendapatkan pekerjaan. Dengan identitas digital dan riwayat pekerjaan yang terverifikasi, kami akan membuka akses untuk layanan finansial yang lebih baik untuk mereka dengan kemitraan bersama institusi keuangan, memungkinkan pekerja kerah biru meraih mimpi mereka untuk hidup yang lebih layak,” imbuh Henry Hendrawan, Co-Founder Pintarnya. 

“Kami bertujuan untuk membuat Pintarnya sebagai platform pilihan untuk para pencari kerja agar dapat mencari peluang pekerjaan yang dapat dipercaya. Hal ini akan memungkinkan kami untuk memahami secara mendalam kebutuhan mereka selain mencari pekerjaan, membuka jalan bagi Pintarnya untuk menciptakan rangkaian layanan keuangan dan nonkeuangan yang beraneka ragam,” ujar Ghirish Pokardas, Co-founder Pintarnya.

Pintarnya diluncurkan di bulan Mei 2022 dengan memfokuskan kota-kota besar di Indonesia dan mendukung pasar pekerjaan di era recovery pasca pandemi. Hari ini, Pintarnya mengumumkan putaran pendanaan sebesar US$6.3 juta, yang dipimpin oleh Sequoia Capital India dan General Catalyst.  

"Teknologi telah mentransformasi tipe-tipe pekerjaan yang diciptakan di Indonesia, tetapi proses rekrutmen, terutama di segmen kerah biru, tetap menjadi tantangan. Tim pendiri Pintarnya membawa pengalaman bertahun-tahun yang luar biasa dalam membangun produk-produk teknologi dan finansial untuk mengatasi tantangan ini, dan kami sangat bangga untuk berpartner dengan mereka dalam perjalanannya untuk membantu jutaan orang Indonesia mewujudkan potensi ekonomi mereka.” ujar Abheek Anand, MD Sequoia India. 

Alex Tran dari General Catalyst berkomentar, "Indonesia memiliki salah satu populasi termuda di dunia, yang merupakan hal langka dan potensi bonus demografi jika orang diberi kesempatan untuk menjadi produktif dan stabil secara finansial. Hal Ini adalah tantangan dan peluang besar yang dapat dipecahkan oleh teknologi.” (H-3)

BERITA TERKAIT