22 March 2022, 17:14 WIB

Pola Kerja Hybrid Perlu Diperkuat Teknologi Tangkal Serangan Siber


mediaindonesia.com |

POLA kerja hybrid (hybrid workplace) yang kemungkinan akan menjadi budaya kerja baru pascapandemi covid-19 mesti dibarengi dengan peningkatan keamanan siber (cyber security) oleh perusahaan atau instansi.

"Sedari awal harus dirancang bahwa informasi perusahaan tetap terjaga aman saat karyawan bekerja dari rumah setelah bergantian bekerja di kantor, dengan meningkatkan cyber security," ungkap CEO NTT Ltd di Indonesia Hendra Lesmana dalam keterangannya, Selasa (22/3).

Pola kerja hybrid yakni beberapa karyawan akan kembali bekerja dari kantor, sementara karyawan lainnya tetap mendapatkan pilihan bekerja dari rumah atau jarak jauh (remote working), atau bekerja dari kantor dan rumah atau jarak jauh secara bergantian. 

Selain itu, lanjut Hendra, perusahaan juga perlu menerapkan kebijakan zero trust yakni setiap individu perusahaan yang mendapatkan akses tertentu harus berdasarkan identitas masing-masing.

"Dengan demikian, individu tertentu tidak bisa mendapatkan akses individu atau karyawan lain, sehingga data-data perusahaan tetap aman," lanjut dia.

Baca juga: Kemenkominfo Ingatkan Masyarakat Ancaman Kejahatan Daring Catfishing

Berdasarkan laporan Global Workplace Report 2021 yang dibuat oleh NTT Ltd terungkap bahwa hanya 43,2% karyawan yang yakin informasi perusahaan tetap terjaga aman saat mereka bekerja dari rumah.

Angka ini terbilang sangat rendah mengingat sejak awal pandemi para karyawan sudah bekerja secara fleksibel.

Hal ini pun menunjukkan bahwa sebagian besar bisnis masih berjuang untuk memasang alat keamanan yang tepat dan menggunakan pelatihan untuk memastikan informasi perusahaan tetap terjaga aman saat karyawan mulai bekerja dengan sistem hybrid.

Menurut Hendra, hal lainnya yang juga perlu dilakukan perusahaan untuk mencegah ancaman siber ialah memberikan edukasi kepada pengguna dan melakukan pembaruan terhadap software (software update).

"Jangan biarkan yang sudah lama software-nya, tidak di-support dengan pembaruan terkini atas software tersebut," terangnya.

Sayangnya, lanjut dia, saat ini sebagian besar tim keamanan perusahaan tidak memiliki waktu, energi, dan sumber daya untuk secara mandiri membangun pertahanan terhadap ancaman keamanan siber yang meningkat di seluruh jejak digital yang terus berkembang.

Terkait hal itu, NTT Ltd sebagai perusahaan layanan teknologi global telah menghabiskan 20 tahun terakhir untuk berinovasi, menyempurnakan, dan berkolaborasi dengan klien dan belajar di tempat kerja cara untuk menghadirkan kemampuan dalam mendeteksi ancaman-ancaman siber dengan cerdas, otomatis, dan responsif.

"Salah satunya melalui layanan manage security system (MSS). Kami bisa mendeteksi dan merespons ancaman-ancaman atau serangan siber. Beberapa klien kami dari kalangan perbankan dan manufaktur, ada juga industri kesehatan yang kami berikan secara gratis saat awal-awal pandemi," pungkas Hendra. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT