19 January 2022, 20:14 WIB

Erick Thohir Sebut NFT Jadi Pendorong Anak Muda Jadi Kreator 


Despian Nurhidayat | Teknologi

MENTERI Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir ikut mengomentari teknologi Non-Fungible Token atau NFT yang saat ini tengah ramai diperbincangkan. Menurutnya, NFT merupakan hal yang positif dalam mendorong generasi muda Indonesia menjadi kreator. 

"Memang yang namanya NFT ini bagian dari pada yang dinamakan Metaverse dan ini menjadi hal yang positif. Karena itu kita mendorong generasi muda Indonesia dengan jumlah populasi yang sangat besar berpotensi untuk menjadi kreator," ungkapnya, Rabu (18/1). 

Erick menegaskan, saat ini Metaverse telah berkembang dan menjadi tren, dengan membangun sebuah dunia baru tetapi sistem keuangannya terdesentralisasi. 

Contohnya, kata dia,  ketika dulu seorang pelukis menghasilkan karya lalu ditransaksikan dari pembeli A ke pembeli B, maka pelukisnya tidak mendapatkan apapun dari transaksi tersebut. 

Namun karena saat ini terdapat otentifikasi, maka lukisan itu ketika diperdagangkan dan ada teknologi yang namanya cryptocurrency serta sistem blockchain, maka untuk setiap transaksi yang terjadi pelukis tersebut mendapatkan komisi 10%. 

"Maka dari itu kita mendorong generasi muda jangan menjadi generasi yang konsumtif, namun menjadi generasi yang produktif," kata Erick. 

Baca juga : Aplikasi BukuWarung Bantu Akselerasi UMKM dan Digitalisasi Pemasaran

Erick menambahkan, saat ini juga dalam industri gim, terdapat fenomena baru bernama game finance. Di mana saat ini bermain gim dapat menghasilkan uang daripada mengeluarkan uang. 

Hal itu menjadi kesempatan bagi generasi muda agar jangan hanya memainkan gim saja, namun masuk ke dalam ekosistem dari gim tersebut. Menurutnya, bukan tidak mungkin entrepreneur muda dapat menjual baju kepada para pemain yang main gim di situ. Contoh saja kenapa nanti Intellectual property -Intellectual property (IP) lokal harus didaftarkan. 

"Itulah alasan konten kreator ke depan menjadi sangat penting, dan kalau melihat juga banyak riset menyatakan generasi muda Indonesia saat ini ingin menjadi YouTuber atau online gamers. Itu tidak masalah karena berkaitan dengan pembukaan lapangan kerja," tuturnya. 

Menurut Erick, hal itu juga menjadi bagian dari penciptaan lapangan kerja, karena sampai dengan 2034 Indonesia membutuhkan 17,5 juta tenaga kerja yang melek teknologi. Jika generasi muda Indonesia tidak melek teknologi maka kesempatan kerjanya bakal diambil lagi oleh bangsa lain. 

"Hal-hal ini yang perlu diantisipasi, makanya kita selalu menekankan bagaimana fundamental ekonomi Indonesia harus betul-betul dijaga," pungkas Erick. (OL-7)

BERITA TERKAIT