06 December 2021, 21:31 WIB

Ini 5 Tips Penting Bagi Startup Agar Produknya Sesuai Kebutuhan Pasar


Ghani Nurcahyafi | Teknologi

PERUSAHAAN rintisan atau startup terus tumbuh di Indonesia seiring tren digitalisasi yang semakin masif. Namun, dalam pengembangannya, startup harus bisa menyesuaikan produknya dengan kebutuhan pasar atau disebut Poduct Market Fit (PMF). Fase ini dinilai krusial agar solusi yang ditawarkan startup sesuai dengan pasar yang jadi sasaran. 

Menurut riset yang dilakukan oleh CB Insights, tidak adanya kebutuhan pasar menjadi penyebab terbesar dari kegagalan sebuah startup (42%). Artinya, startup telah menawarkan produk digital, namun frekuensi serta jumlah penggunanya tidak cukup besar untuk membuat perusahaan bisa bertahan dan berkembang. 

Dengan adanya pandemi yang memberikan dampak negatif pada sebagian besar startup di Indonesia (42,5%), maka semakin penting bagi startup tahap awal untuk mempelajari cara terbaik menemukan PMF agar bisa bertahan. 

Jika tidak berhasil melalui proses PMF, maka bisa dipastikan bahwa startup tersebut akan gagal atau menjadi startup “zombie”. Startup “zombie” merupakan sebutan untuk perusahaan-perusahaan rintisan yang masih bertahan, namun tidak memiliki pertumbuhan bisnis. 

Oleh karena itu, Startup Studio Indonesia merangkum lima tips penting untuk mencari PMF. 

Lakukan uji pasar sesegera mungkin

Salah satu kesalahan utama startup adalah menunggu terlalu lama untuk menguji apakah pasar menerima produk mereka dengan baik atau tidak. Jika model bisnis startup adalah dengan basis langganan, maka tawarkan biaya langganan yang ideal kepada para pengguna, dan evaluasi feedback yang mereka berikan untuk menentukan apakah skema tersebut bisa berjalan dengan baik atau tidak. 

“Banyak founder startup yang menciptakan problem-problem yang sebenarnya tidak ada atau tidak signifikan di pasaran. Kita harus bisa membedakan antara ‘keyakinan’ dan ‘fakta’. Dan proses ini harus berjalan dengan cepat, apakah benar ada problem tersebut? Berapa orang yang benar-benar membutuhkan solusinya? Jika terlalu lama, kita hanya akan menghabiskan terlalu banyak sumber daya dan waktu untuk hal yang sia-sia,” ungkap Grady Laksmono, Co-founder Moka dan Head of Selly di GoTo Financial.

Lakukan A/B testing untuk menghitung dampak nyata

Dalam operasional startup, seringkali perusahaan menghadirkan fitur-fitur baru dengan harapan untuk menarik semakin banyak pengguna. Namun, hal ini justru bisa menjadi distraksi dari tawaran utama startup.

Oleh karena itu, Co-founder dan CTO HappyFresh Fajar Budiprasetyo menyarankan startup untuk menjalankan A/B testing agar bisa menghitung dampak nyata dari sebuah promo/fitur/kemitraan baru. Ia pun mengaku budaya eksperimen ini telah ia pupuk sejak mengembangkan HappyFresh.  

Baca juga : Aplikasi Konekto Beri Kemudahan Bisnis Bagi Kaum Disabilitas

Dengarkan umpan balik dari pengguna

Pemikiran kritis menjadi hal esensial yang harus dimiliki semua founder startup. Untuk bisa mencapai PMF, maka jalan terbaik adalah untuk benar-benar memahami target pengguna, mulai dari kebutuhan, keinginan, hingga harapan mereka. 

“Semua pengguna ingin mencoba layanan startup agar bisa mempermudah hidup mereka. Untuk itu, terlebih bagi para startup B2B atau startup yang model bisnisnya rumit dan membutuhkan edukasi lebih, kalau pengguna belum tertarik mencoba, kita yang harus giat ‘jemput bola’ dan mengajak mereka untuk menggunakan sistem kita, jelaskan apa saja kelebihan-kelebihannya,” kata Phil Opamuratawongse, Co-founder Shipper

Fajar juga menekankan bahwa umpan balik dari pengguna menentukan jalan masa depan bagi perusahaan. 

“Di HappyFresh, kami memiliki tim teknologi dan produk yang terintegrasi untuk membentuk mindset yang agile dan kolaboratif. Kami juga mengajak tim engineering untuk berbicara langsung dengan pengguna, supaya mereka semakin mendalami pain points dari pengguna dan menciptakan solusi yang tepat.” 

Bersikap fleksibel dalam mengadaptasi produk

Faktanya, tidak semua startup akan sering digunakan oleh pengguna. Bergantung pada jenis bisnisnya, ada startup-startup yang hanya digunakan sekali sebulan atau sekali dalam beberapa bulan. Ini akan menurunkan tingkat retensi pengguna.

Mengomentari permasalahan ini, Phil menyarankan founder startup untuk bisa membangun produk atau fitur-fitur baru yang bisa melengkapi solusi utama tersebut. Dengan memberikan fitur-fitur baru yang diakses lebih sering, maka kemungkinan untuk menambah aliran pendapatan juga semakin besar. Karena itu, penting bagi startup untuk bersikap fleksibel dan bisa mengadaptasi produk digitalnya sesuai dengan kebutuhan pengguna. 

Grady juga mengungkapkan hal yang sama, “Kita harus terus menerus mempertanyakan asumsi kita. Jangan bergantung di satu jawaban, tapi harus berani berevolusi. Misalnya, ketika masyarakat sedang menghadapi periode ‘New Normal’, perubahan gaya hidup seperti apa yang bisa kita antisipasi.”

Fokus mengembangkan ‘power user’

Hal lain yang tak kalah penting untuk menentukan PMF adalah fokus dalam pengembangan basis ‘power user’. “Kenali siapa saja power user atau pengguna setia kita, dan berfokuslah untuk memperluas segmen ini dengan membangun produk-produk baru sesuai dengan kebutuhan mereka. Pahami apa yang membuat power user ini loyal dan tertarik untuk mencoba produk startup kita. Merekalah yang menentukan apakah startup kita bisa makin berkembang atau tidak,” jelas Grady. 

Mengingat pentingnya tahap PMF untuk startup, SSI memberikan pelatihan tersebut pada 15 startup yang lolos program inkubasi batch ketiga. SSI berharap pelatihan tahun ini bisa berkontribusi dalam mencetak 150 startup digital yang mampu mengembangkan skala bisnisnya, dari segi jumlah pengguna, jumlah pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan pendanaan dari Venture Capital pada 2024 mendatang. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT