22 November 2021, 19:33 WIB

Sukses Hasilkan Lebih dari 1000 Developer, Hacktiv8 Siap Penuhi Kebutuhan Talenta Digital Indonesia 


Ghani Nurcahyadi | Teknologi

INDONESIA merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan sektor teknologi paling cepat di dunia. Badan Kebijakan Fiskal memprediksi pertumbuhan teknologi tanah air tahun depan mampu mencapai angka 10,1%. Sektor yang terus bertumbuh ini juga mendatangkan kebutuhan terhadap SDM teknologi yang tinggi. 

Data dari Korn Ferry Indonesia mengestimasikan bahwa Indonesia akan mengalami pertumbuhan jumlah kekurangan talenta digital dari 1,8 juta hingga 3,8 juta orang dalam 10 tahun mendatang. Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mengkonfirmasi bahwa kebutuhan akan SDM teknologi di Indonesia belum terpenuhi di berbagai kategori terutama pada sektor pemrograman.  

Sadar akan pentingnya pemenuhan kesenjangan SDM tersebut, perusahaan pemberdaya talenta digital, Hacktiv8 siap mengakselerasi percetakan talenta pemrograman berkualitas. 

“Indonesia menghabiskan sekitar Rp21,3 triliun untuk pendidikan tingkat tinggi pemrograman, dengan 250 ribu pelajar baru setiap tahunnya. Namun, menurut data dari Bank Dunia, hanya sekitar 17% lulusan Teknologi Informatika (TI) yang bekerja di bidang pengembangan software. Kesenjangan inilah yang ingin kami atasi dengan solusi pendidikan yang kami tawarkan," ujar Ronald Ishak, CEO & Founder Hacktiv8. 

Berdasarkan survei dari McKinsey tahun 2018, 15 dari 20 eksekutif perusahaan teknologi mengaku kesulitan menemukan talenta digital yang tepat, dan setengah diantaranya kesulitan mempertahankan mereka. 

“Walau Google dan Temasek memproyeksi akan ada lebih dari 200 ribu talenta digital profesional di Asia Tenggara pada 2025, kenyataannya masih jauh dari angka tersebut. Kini, kebanyakan posisi tersebut didominasi oleh profesional yang lebih senior dari sektor perbankan, ritel, dan perusahaan di luar wilayah tersebut,” tambah Ronald.  

Berangkat dari misi tersebut, saat ini Hacktiv8 telah mencetak lebih dari 1,100 talenta digital berkualitas yang bekerja di perusahaan-perusahaan digital ternama yang juga menjadi hiring partner seperti Investree, SIRCLO, Xendit, Mekari, Loket, Qlue, dan Axiata Digital. 

Kebanyakan lulusan mereka telah melalui coding bootcamp professional yang terdiri dari program Full Stack Javascript  dan Data Science. 

“Full Stack Javascript merupakan program kursus selama 16 minggu untuk mempelajari pemrograman dasar dan bahasa pemrograman seperti JavaScript, Node.js, Vue.js, dan framework Facebook’s React dengan ratusan sesi latihan yang dibimbing oleh instruktur. Sedangkan program Data Science merupakan program intensif 12 minggu yang memberikan siswa ilmu pengolahan data, seperti pemrograman, statistik, hingga bisa menjadi seorang Data Scientist atau Data Analyst yang dapat memberikan kesimpulan dari data yang diolah,” jelas Ronald.  

Kurikulum di Hacktiv8 juga dirancang dengan melibatkan para hiring partner agar para lulusannya dapat langsung mempraktikkan ilmu yang didapatkan di perusahaan tempat mereka bekerja. 

Baca juga : Kiat Memanfaatkan IG Reels untuk Kebutuhan Bisnis

“Model bootcamp kami menuntut pelajar untuk menghabiskan waktu sekitar 10 hingga 12 jam sehari, sehingga hanya yang terbaik saja yang bisa lulus dari program dan mendapatkan pekerjaan,” ujar Ronald. 

Secara rata-rata, lulusan Hacktiv8 bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu 2 hingga 3 minggu. 

Hacktiv8 punya filosofi bahwa menjadi seorang talenta digital juga perlu softskill dan sisi humanis yang memadai. Maka dari itu, salah satu fasilitas yang diberikan adalah Engineering Empathy atau sesi konsultasi pengembangan diri. 

“Fasilitas ini membekali para lulusan kami dengan berbagai keterampilan untuk menghadapi dunia kerja, seperti growth mindset, time management, stress management, dan bahkan cara menghadapi impostor syndrome (sebuah sindrom dimana seseorang tidak percaya akan kemampuan yang dimilikinya). Banyak yang terkejut bahwa Hacktiv8 punya konselor khusus untuk membantu para siswa melewati tantangan dan tekanan yang dihadapi mereka,” tambah Ronald. 

Lulusan dari Hacktiv8 juga tidak perlu khawatir akan biaya yang perlu dikeluarkan untuk belajar di bootcamp dikarenakan fitur Income Share Agreement (ISA) atau perjanjian bagi hasil. 

“Kami melihat belum banyak pendidikan formal di bidang teknologi informatika yang benar-benar terjangkau. Pinjaman pendidikan yang berbunga juga cenderung tidak Syariah. Melalui ISA ini, siswa akan membayar biaya pendidikan ketika mereka sudah mendapatkan pekerjaan, dengan menyisihkan sebagian dari gaji mereka. Fitur ini diharapkan dapat membuka akses bagi banyak orang yang ingin belajar pemrograman tanpa harus terkendala biaya.” tutup Ronald. 

Di pandemi ini, Hacktiv8 juga telah membantu beberapa siswa yang sebelumnya kehilangan Salah satunya adalah Diardo yang sebelumnya bekerja di industri kargo penerbangan, ketika pandemi dan penerbangan dibatasi, Diardo erkena lay off dan memutuskan untuk mengikuti bootcamp Hacktiv8. 

Saat ini Diardo telah menjadi seorang front end developer dan bekerja di salah satu hiring partner Hacktiv8. Selama pandemi, Hacktiv8 telah membantu setidaknya 300 orang untuk beralih ke dunia teknologi informatika. 

Hingga saat ini, Hacktiv8 mencatat 100% placement rate atau tingkat penempatan pekerjaan untuk alumni. Setiap bulannya, Hacktiv8 menerima lebih dari 450 pendaftar. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT