05 November 2021, 20:39 WIB

Pelaku Bisnis Perlu Untuk Percepat Penerapan Supply Chain Digital 


mediaindonesia.com | Teknologi

PLATFORM full-stack invoicing &payment Business to Business (B2B), Paper.id, menggelar webinar berseri pada 7-28 Oktober 2021.

Bekerja sama dengan beberapa institusi ternama seperti GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia), ISCEA (International Supply Chain Education Alliance), Crowe Indonesia, Bincang Supply Chain, dan Politeknik Praktisi, event ini ditujukan untuk pebisnis dan kaum profesional yang berkecimpung di dunia supply chain. 

Hingga seri ketiga, acara ini telah diikuti lebih dari 700 peserta yang datang dari berbagai industri seperti Fast-moving consumer goods (FMCG), logistik, perusahaan multinasional, e-commerce, serta asosiasi ahli supply chain.

Webinar ini menjadi wadah informasi serta diskusi yang menghadirkan berbagai sosok penting yang telah berpengalaman di bidang masing-masing.

Hadir sebagai narasumber di antaranya Prof. Nyoman Pujawan (Presiden ISCEA Indonesia), Yongky Susilo (Ex-Direktur Eksekutif Nielsen), Muljadi Teo (CTO Sirclo), Iman Kusnadi (CEO Ritase), Asryan Aghati (Digital Native Reps Google Cloud), Marko Suswanto (Lead Partner Technology Services Crowe Indonesia) Yosia Sugialam (CTO Paper.id), dan lainnya. 

Webinar ini memaparkan pandemi Covid-19 memberikan efek besar dalam berbagai industri. Sebagai contoh, sebagian besar pelaku usaha di industri logistik merasakan masalah, seperti pengiriman barang menjadi telat serta biaya operasional yang membengkak.

Selain itu, pandemi juga memaksa semua orang untuk melakukan segala aktivitas di rumah, termasuk belanja secara online

Perubahan tersebut menjadi faktor penting yang memaksa para pelaku usaha untuk mengubah proses bisnis konvensional ke digital. Selama ini, digitalisasi masih berjalan lambat.

Namun, dengan adanya pandemi Covid-19, hal ini menjadi titik percepatan untuk menerapkannya dalam proses bisnis. 

Pada keterangan pers, Jumat (5/11), Eks Direktur Eksekutif Nielsen, Yongky Susilo, berpendapat,“Krisis yang terjadi sekarang berbeda dengan krisis sebelumnya, di mana banyak orang hanya dapat beraktivitas di dalam rumah saat ini”.

"Hal ini merubah pola pikir dan gaya hidup yang sekaligus mendorong para pebisnis untuk mengotomasi bisnis mereka agar bergerak lebih cepat dalam menerapkan digitalisasi sebagai investasi masa depan," katanya. 

"Tetapi, hal ini juga perlu didukung dengan berbagai faktor, seperti infrastruktur, kebijakan, dan skill individu," tambah Yongky.

Menurut Lead Partner Technology Services Crowe Indonesia Marko Suswanto, baik individu maupun perkembangan teknologi harus berjalan berdampingan.

"Kenyataannya, perkembangan teknologi yang sekarang bertumbuh sangat kencang dan tidak diiringi dengan peningkatan kemampuan individu dalam mengoperasikannya," jelasnya. 

“Dengan adanya teknologi yang berkembang kencang dan skil individu yang mumpuni, hal ini dapat menciptakan sebuah consumer journey yang nyaman dan transparan” imbuh CTO Sirclo, Muljadi Teo.

"Yang harus diperhatikan adalah, keberhasilan penerapan digitalisasi tidak hanya diukur hanya dari pergantian kebiasaan dari penggunaan kertas ke digital," tutur Muljadi.

Asryan Aghati dari Digital Native Reps Google Cloud mengatakan,“Para pebisnis juga perlu menerapkan otomasi untuk mengubah proses operasional bisnis mereka menjadi lebih efisien dan efektif.”

Tentunya, momen ini perlu dimanfaatkan oleh para pebisnis guna melakukan digitalisasi sebagai bentuk investasi di masa yang akan datang. Dengan begitu, opportunity cost bisnis akan berkurang drastis, pengelolaan bisnis akan berjalan lebih efektif dan meningkatkan tingkat kompetitif perusahaan di masa yang akan datang.

Hal ini sejalan dengan pendapat Presiden ISCEA Indonesia, Prof. Nyoman Pujawan, yang mengatakan bahwa pengelolaan arus kas dipengaruhi oleh dua elemen, pendapatan dan biaya.

"Jika keduanya dapat dikontrol dengan mekanisme supply chain yang baik, keuangan perusahaan akan menjadi sehat serta meningkatkan efektivitas komunikasi antar divisi dalam operasional bisnis," jelasnya.

CTO Paper.id, Yosia Sugialam, menambahkan bahwa komunikasi bukan sekedar dari hubungan internal perusahaan saja, tapi juga dari eksternal, hubungan antara buyer dan supplier.

Menurutnya, proses transaksi antara buyer dan supplier bisa berjalan lebih efektif dengan menggunakan faktur & pembayaran digital untuk mempermudah transaksi antara buyer dan supplier hingga mendapatkan akses pendanaan usaha yang lebih mudah untuk bisnis.

Hal ini diyakini bisa menjadi faktor penting guna mendongkrak perkembangan bisnis terutama di saat pandemi Covid-19. 

Dengan penerapan digitalisasi di supply chain, beragam proses operasional bisnis dapat berjalan lebih cepat dengan hasil yang lebih maksimal, salah satunya proses penagihan.

Di kala pandemi, proses penagihan berjalan lebih lambat. Banyak pebisnis meminta untuk memperpanjang tempo agar kas bisnis tetap aman. 

Untuk mengatasi hal ini, solusi supply chain financing dapat digunakan untuk memberikan pendanaan usaha, agar bisnis tetap berjalan lancar, terutama bagi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT