26 October 2021, 09:22 WIB

Facebook Laporkan Kenaikan Laba di Tengah Kontroversi Facebook Papers


Basuki Eka Purnama | Teknologi

RAKSASA media sosial Facebook, Senin (25/10) waktu setempat, melaporkan laba yang lebih tinggi untuk kuartal terakhir di tengah kontroversi dokumen Facebook Papers yang mengklaim platform tersebut menempatkan keuntungan perusahaan di atas keamanan pengguna.

Facebook mengatakan laba bersih mereka tumbuh 17% pada periode Juli hingga September menjadi US$9,19 miliar, didukung oleh pendapatan iklan yang kuat. Laba tersebut naik dari US$7,85 miliar setahun sebelumnya.

Pendapatan tumbuh 35% menjadi US$29,01 miliar. Saham perusahaan juga naik 2,5% setelah ditutup naik 1% pada Senin (25/10).

Baca juga: Indosat Ooredoo Luncurkan Inovasi Kesehatan Digital Lewat Aplikasi IMove

"Untuk saat ini, gambaran pendapatan untuk Facebook terlihat sebaik yang diharapkan," kata analis eMarketer Debra Aho Williamson.

Facebook Papers merupakan dokumen internal perusahaan yang dibocorkan mantan karyawan Frances Haugen dan diberikan kepada media Wall Street Journal dan anggota parlemen Amerika Serikat (AS).

The New York Times, The Washington Post, dan Wired termasuk di antara media yang sekarang telah menerima akses ke dokumen tersebut.

Pada Senin (25/10), laporan baru The Washington Post menyebutkan CEO Mark Zuckerberg tunduk pada sensor negara di Vietnam serta mencatat bahwa platform tersebut mengizinkan ujaran kebencian berkembang didorong
oleh masalah moderasi konten di negara yang tidak berbahasa Inggris.

Laporan tersebut juga menyebutkan perusahaan mengetahui algoritmenya dapat memicu polarisasi beracun secara daring.

"Dokumen-dokumen yang memberatkan ini menggarisbawahi kepemimpinan Facebook secara kronis mengabaikan alarm internal yang serius, memilih untuk menempatkan keuntungan di atas orang-orang," kata Senator AS Richard Blumenthal dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Selasa (26/10).

Pada Senin (25/10), Haugen juga bersaksi di hadapan anggota parlemen Inggris dengan kembali menekankan bahwa perusahaan menempatkan keuntungan di atas kepentingan dan keselamatan pengguna.

"Facebook tidak mau menerima bahkan sedikit keuntungan dikorbankan untuk keselamatan, dan itu tidak dapat diterima," katanya kepada anggota parlemen. 

Ia juga menambahkan konten yang berisi kemarahan atau kebencian merupakan cara termudah untuk mengembangkan platform media sosial. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT