28 July 2021, 21:44 WIB

GajiGesa Bantu Karyawan Dapatkan Sistem Penggajian Transparan dengan Teknologi


Ghani Nurcahyadi | Teknologi

PANDEMI Covid-19 masih berlanjut di Indonesia, di tengah ketidakpastian dan disrupsi akibat pembatasan mobilitas dan aktifitas sosial masyarakat, menimbulkan permasalahan baru, yakni kekhawatiran akan ekonomi dan finasial terutamanya bagi pekerja.

Salah satu isu yang dihadapi pekerja adalah siklus gaji bulanan, sebagaimana diketahui di Indonesia penggajian di Indonesia menggunakan skema pembayaran bulanan. Hal ini tentu saja menimbulkan permasalahan bagi pekerja yang tentu saja memiliki kebutuhan seperti biaya kontrakan, pembayaran listrik, pulsa dan lain-lain. 

Hal itu menyebabkan banyak pekerja yang terpaksa mengajukan pinjaman jangka pendek kepada lembaga keuangan untuk mengamankan arus kas pekerja. 

Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan oleh pekerja adalah platform GajiGesa, startup fintech yang didirikan pada 2020 oleh Vidit Agrawal dan Martyna Malinowska itu menyediakan akses ke Earned Wages (EWA), sehingga pekerja dapat menerima pembayaran pro-rata lebih awal dari perusahaan.

Perlu diketahui bahwa EWA bukan merupakan dana talangan oleh perusahaan, namun merupakan pembayaran kepada karyawan berdasarkan hasil jam kerja dan merupakan hak karyawan atas kerja kerasnya. Kelebihan utama menggunakan Gajigesa bagi karyawan adalah fleksibilitas yang ditawarkan dan dapat diakses kapan saja di mana saja dan secara real-time.

“Prinsip utama kami adalah menciptakan nilai tambah yang kongkrit di lapangan, kami ingin menciptakan dampak positif bagi pekerja terutamanya para karyawan yang bekerja secara gigih namun tidak pernah mendapatkan credit scores oleh lembaga finansial atas usaha dan waktu yang mereka luangkan” Kata Vidit Agrawal, Co-Founder GajiGesa dalam diskusi virtual, Rabu (28/7).

Vidit menjelaskan, misi utama dari GajiGesa adalah menciptakan ekosistem yang menguntungkan perusahaan dan karyawan. Bagi perusahaan tujuan utamanya adalah mendapatkan kas yang sehat dan menjaga kestabilan perusahaan dan bagi karyawan dapat mendapatkan gaji lebih awal hingga dapat mengurangi ketergantungan karyawan untuk pinjaman tenor pendek ataupun rentenir untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya sehingga mengurangi stres finansial yang mereka hadapi.

Dia menambahkan,  saat ini di Indonesia masih banyak perusahaan yang belum mengunakan teknologi untuk pengelolaan payroll, sehingga banyak pekerjaan administrasi terkait pembayaraan gaji masih di lakukan secara manual.

“Kami ingin memberi solusi permasalahan yang sering yakni tidak adanya fleksibilitas dalam benefit bagi karyawan dan terkadang BPJS tidak dibayarkan, pajak tidak dibayarkan. serta kurangnya optimalisasi teknologi dan digitalisasi oleh perusahaan terutamanya disektor informal” tambahnya.

Seirama dengan pernyataan Vidit, riset GajiGesa mengungkapkan bahwa 60% karyawan dalam sepuluh tahun terakhir di Indonesia lebih memilih untuk mengajukan pinjaman kepada lembaga keuangan informil atau yang lebih dikenal sebagai rentenir, terutamanya pegawai yang memiliki pendapatan dibawah Rp10juta yang lebih rentan untuk mengajukan pinjaman kepada rentenir.

Baca juga : Digitalisasi UMKM Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Pasca-Covid-19

“Bunga pinjaman di sektor informal di Indonesia sangat tinggi dan dapat mencapai hingga 28% perbulan dan lebih dari 300% pertahunnya, serta dapat mencapai lebih di beberapa daerah di Indonesia” ungkap Martyna Malinowska, Co-Founder GajiGesa tersebut.

Pandemi Covid-19 juga meningkatkan kebutuhan karyawan sebagaimana terlihat dari peningkatan jumlah pengguna platform GajiGesa selama beberapa bulan ini dikarenakan kebutuhan sehari-hari yang meningkat dan adanya kebutuhan yang tidak terduga. Hal ini meningkatkan beban stress finansial bagi karyawan sehingga mengurangi produktifitas mereka.

“Riset dan wawancara kami di berbagai daerah di Indonesia menungkapkan 80%-90% pegawai menungkapan bahwa salah alasan mereka tidak bahagia di tempat kerjanya adalah stress finansial yang menyebabkan mereka tidak nyaman bekerja dan bahkan menurunkan produktifitas mereka” ungkap Martyna.

Country General Manager GajiGesa Indonesia Ade Yuanda Saragih menhungkapkan, potensi well-tech di Indonesia sangat besar, terutama di kondisi pandemi dimana perusahana ingin memberikan benefit yang lebih bagi karyawannya.

“Kehadiran pihak ketiga yang dapat memberikan solusi bagi perusahaan yang ingin memberikan manfaat yang lebih kepada karyawannya agar karyawan merasa nyaman dan bekerja di perusahaan tersebut.” Kata Ade Yuanda Saragih.

Potensi pertumbuhan welltech juga didukung oleh kebijakan-kebijakan strategis yang diambil oleh pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selaras dengan pertumbuhan bisnis GajiGesa. 

Saat ini partner dan perusahaan yang bekerjasama dengan GajiGesa memiliki karyawan yang usianya variatif dari generasi milennial hingga generasi yang lebih tua. Sehingga menjadi sebuah peluang bagi GajiGesa karena kebutuhan dari karyawan semakin bertambah seperti kuota internet, e-wallet ataupun pembelanjaan online.

“Kami juga menyediakan layanan yang terintegrasi dimana mereka bisa menarik gaji mereka untuk mengisi e-wallet mereka seperti Shopee, Dana, Gojek, OVO sehingga platform kami dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.” Tutup Ade. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT