23 July 2021, 18:00 WIB

Perlu kolaborasi untuk Mengatasi Ancaman Siber


Mediaindonesia.com | Teknologi

TRANSFORMASI digital membawa keterhubungan antara perangkat dan sistem. Di satu sisi keterhubungan itu membuka potensi untuk meningkatkan produktivitas, namun di sisi lain juga menimbulkan risiko serangan siber yang dapat membahayakan seluruh sistem. Terlebih dewasa ini jenis ancaman siber makin berkembang, ancaman tak dikenal (unknown threads) semakin banyak.

“Ancaman tak dikenal yang terus berkembang menjadi tantangan bagi para peneliti keamanan siber. Ini membutuhkan inovasi baru dan berkelanjutan dalam mendeteksi ancaman yang tidak diketahui dengan memanfaatkan analitik dari gabungan log dan informasi sistem internal dan eksternal,” ujar pakar teknologi informasi dari Swiss German University (SGU), Eka Budiarto, dalam webinar bertajuk Security Insights in the Data Analytics era yang digelar SGU, Kamis (21/7).

Baca juga: Maroko Ancam Lakukan Tindakan Hukum atas Tudingan Spyware ...

Hal itu, lanjutnya, memunculkan peluang untuk menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi pola yang mencurigakan dan berbahaya, memungkinkan analisis ancaman berbasis perilaku yang mendetail untuk meningkatkan akurasi yang lebih tinggi dalam deteksi ancaman. “Kolaborasi seluruh pihak terkait juga sangat diperlukan, agar upaya mengatasi unknown threads semakin efektif,” kata Eka.

Menurutnya, keamanan siber harus menjadi bagian integral dari upaya transformasi digital. Dalam hal ini, Master of Information Technology (MIT) di Swiss German University (SGU) memiliki visi untuk menciptakan arsitek transformasi digital, yang berfungsi memastikan bahwa transformasi digital benar-benar menciptakan nilai tambah. Sebab keamanan siber merupakan bagian integral dari transformasi digital. Dengan pemikiran ini, MIT SGU telah mengembangkan keamanan siber sebagai salah satu fokusnya dalam kurikulum dan inisiatif penelitian.

MIT SGU percaya bahwa potensi besar ini memungkinkan kemungkinan kolaborasi penelitian antara industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas keamanan siber untuk berbagi informasi. Hal itu mendorong MIT SGU  menyelenggarakan acara yang mendorong kolaborasi dan pertukaran informasi berbagai mitra,.

Webinar tersebut dihadiri Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Komunikasi dan Informatika, sektor masyarakat seperti Indonesian Honeynet Project (IHP), dan sektor industri, seperti Fire Eye, Aruba, F5, NSFocus, Xynesis, PT Sinergi Wahana Gemilang, Keysight Technologies, Microfocus, SoftScheck dan datacomm.

Kepala BSSN Hinsa Siburian mengatakan saat ini banyak serangan siber yang bertujuan untuk memecah belah bangsa dengan berbagai informasi hoaks. Karena itu, pihaknya menerapkan strategi keamanan nasional untuk menangkis serangan-serangan tersebut.

Sementara itu Dirjen Aptika, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan saat ini Indonesia tengah menjalani transformasi digital. Serangan siber menjadi salah satu ancaman yang perlu terus diantisipasi. Termasuk ancaman terhadap data pribadi masyarakat. Pemerintah dan semua pihak harus memperhatikan dan melindungi keamanan data pribadi pengguna.

“Perusahaan yang mengelola dan menyimpan data pengguna harus benar-benar menjaga dan melindunginya dengan sistem keamanan berlapis. Perusahaan juga harus memberikan edukasi kepada para pegawainya tentang pentingnya perlindungan data pribadi karena kecerobohan mereka bisa mengakibatkan kebocoran data pribadi,” ujarnya. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT