22 July 2021, 18:43 WIB

Orang Indonesia Paling Suka Bayar Secara Digital Dibandingkan Negara ASEAN Lainnya


Siswantini Suryandari | Teknologi

DARI hasil studi VMware Digital Frontiers 3.0, sebanyak 9 dari 10 (90 persen) responden Indonesia  lebih menerima sistem pembayaran nirkontak. Meski demikian 24 persen responden menyatakan bahwa organisasi-organisasi layanan finansial masih belum mampu beradaptasi atau meningkatkan layanan di tengah dinamika industri yang terjadi saat ini

Dalam VMware Digital Frontiers 3.0 Study juga disebutkan, bahwa peta kompetisi pada industri layanan finansial telah beralih ke daring. Ini dibuktikan dengan 9 dari 10 (90 persen) responden Indonesia menyatakan lebih memilih beralih dari sistem pembayaran tunai ke nirkontak. Angka ini tertinggi dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain yang disurvei yakni Singapura (88 persen), Filipina (76 persen), Malaysia (87 persen) dan Thailand (85 persen).

Selain meningkatnya pengadopsian platform perbankan digital, terdapat hampir 24 persen responden Indonesia yang merasa bahwa organisasi-organisasi layanan finansial kurang mampu beradaptasi atau meningkatkan layanan di tengah dinamika yang terjadi di industri. Angka ini menggambarkan urgensi bagi industri tersebut dalam memperkuat tumbuhnya inovasi mutakhir sebagai strategi dalam memuaskan kebutuhan nasabah.

Nasabah Indonesia sigap dalam beralih ke lingkungan digital-first dan menerima suguhan digital experience terbaru dengan baik. Menurut studi tersebut, sebanyak 58 persen responden Indonesia menyatakan antusiasme mereka dalam pelibatan dengan organisasi-organisasi layanan finansial. Capaian ini dirasa cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Singapura (44 persen), Filipina (57 persen), Malaysia (56 persen), dan Thailand (62 persen).

Dengan 53 persen masyarakat Indonesia lebih memilih mengakses layanan perbankan melalui aplikasi daripada langsung mengunjungi gedung cabang secara langsung, tentu prioritas utama nasabah adalah bagaimana dapat merasakan layanan yang lancar dan akses ke aplikasi yang efektif.

Ini tercermin dari adanya sebanyak 70 persen responden Indonesia yang mengutamakan kemudahan dalam mengakses aplikasi dan layanan digital sebagai prioritas utama dalam memilih penyedia layanan finansial. Angka ini termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya, Thailand (80 persen), Singapura (61 persen), Filipina (63 persen) dan Malaysia (67 persen).

Lebih dari setengah responden Indonesia yang menganggap bahwa lembaga-lembaga layanan finansial lebih baik dalam menghadirkan digital experience dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ritel, layanan kesehatan, pemerintahan, hingga edukasi.

Ini menggambarkan tingkat urgensi yang tinggi bagi industri agar lebih fokus dalam memperkokoh bangunan fundamental mereka sehingga mampu menghadirkan digital experience yang lebih baik bagi konsumen. Dari peningkatan keamanan dan proteksi data (53 persen), kemudahan dalam penggunaan di lintas perangkat (51 persen), hingga kecepatan layanan (40 persen).

"Industri layanan finansial di Indonesia gesit beralih ke dunia digital selama pandemi ini. Mereka mengembangkan inovasi-inovasi dalam menghadirkan digital experience mutakhir yang mulus berbasis pada teknologi masa depan. Kini nasabah telah mafhum dengan teknologi-teknologi tersebut dalam mendukung interaksi mereka dengan layanan bank," ujar Cin Cin Go, Country Manager, VMware Indonesia dalam keterangan tertulis, Kamis (22/7).

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi hub ekonomi syariah terbesar di Asia berikutnya, penting bagi perusahaan di Indonesia untuk menjaga ketangguhan dan tingkat kompetitif dengan memperkokoh bangunan fondasi teknologi masa depan. Seperti pemanfaatan Cloud, sebagai prioritas dalam memacu transformasi di ranah ekosistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan perekonomian digital bangsa.

baca juga: Ekonomi Digital

"Tidak sebatas di ranah digital, dukungan dari pemerintah dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif merupakan kunci keberhasilan bangsa Indonesia dalam cakap merespons, beradaptasi, serta mempercepat pertumbuhan bisnis di dalam paradigma digital yang baru saat ini," lanjut Cin Cin Go.

Selain itu keamanan menjadi fondasi pada pengembangan digital experience. Sebanyak 79 persen responden menyatakan bahwa sisi keamanan menjadi prioritas utama bagi nasabah dalam memilih penyedia layanan finansial, disusul kemudahan dalam penggunaan aplikasi dan layanan digital sebanyak 70 persen. (N-1)

BERITA TERKAIT