17 May 2021, 20:12 WIB

Robot Kolaboratif Bantu Peningkatan Kualitas Industri Manufaktur


Ghani Nurcahyadi | Teknologi

KEHADIRAN robot kolaboratif (cobot) dalam industri manufaktur dinilai dapat mendukung peningkatan produktivitas dan mengurai masalah kurangnya tenaga kerja (sdm) terampil. Hal itu tercetus pula aporan "Collaborative Robot Market by Payload, Component, Application, Industry, and Geography - Global Forecast to 2026" yang dikeluarkan oleh Lembaga Riset Markets and Markets, 

Laporan itu menyebutkan cobot semakin banyak diadopsi oleh berbagai industri khususnya di bidang manufaktur karena adanya keuntungan-keuntungan yang diperoleh, seperti peningkatan produktivitas dan SDM yang efektif.  

Secara global, pasar cobot diharapkan akan mencapai US $7.972 juta pada 2026 dengan CAGR 41,8%.  Untuk wilayah asia pasifik, pasar cobot diperkirakan akan melampaui pasar Eropa pada  2021, dikarenakan semakin banyaknya industri manufaktur berskala besar seperti sektor otomotif, elektronik, dan logam yang menggunakan cobot.  

Regional Director of Asia-Pacific di Universal Robots (UR) James McKew mengatakan, penggunaan teknologi robotika telah menunjukkan manfaat yang besar bagi industri di Indonesia dan semakin membantu pemerintah dalam mewujudkan visinya untuk membangun industri 4.0   

"Industri manufaktur Indonesia akan sangat diuntungkan dengan adanya teknologi robotika yang memiliki kemampuan dalam menyelesaikan tugas berulang dalam ruang yang terbatas dan terstruktur," katanya dalam keterangan tertulis.

Cobot dapat bekerja sepanjang waktu untuk menghasilkan pekerjaan yang konsisten dengan kondisi kerja yang membutuhkan intensitas tinggi tanpa istirahat. Indonesia memiliki potensi besar dalam mengimplementasikan otomatisasi pada industri dalam negeri, namun saat ini tingkat otomatisasi tersebut masih sangat rendah. 

Untuk per 10.000 karyawan, industri manufaktur Indonesia hanya memiliki 440 robot, lebih rendah dari Tiongkok dan Korea Selatan yang masing-masing memiliki 732 dan 2.589 robot per 10.000 karyawan pada tahun 2019.  

Baca juga : Genjot Digitalisasi, Ratusan Ribu UMKM Gabung di Tokotalk

Saat ini, cobot yang diproduksi oleh UR memungkinkan SDM perusahaan dialihkan ke aktivitas yang memiliki nilai lebih tinggi, yang dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja dari SDM tersebut. 

"Segi keamanan adalah prioritas utama yang sangat penting dan telah menjadi pintu masuk ke pasar cobot saat ini. UR percaya, dalam mengembangkan suatu cobot harus mempunyai elemen yang terjangkau, ringan dan fleksibel yang dapat memberikan ROI cepat bagi industri manufaktur.” Jelas McKew, 

Dengan waktu pengembalian modal rata-rata paling singkat 12 bulan karena peningkatan produktivitas, kualitas dan konsistensi, perusahaan manufaktur Indonesia akan dapat memperkirakan pengembalian investasi mereka (ROI) sebelum akhir tahun ini atau awal tahun 2022.

McKew mencotohhkan penerapan cobot yang berhasil dilakukan oleh Yokota Corporation, sebuah perusahaan berbasis di Jepang yang mendesain dan memproduksi bearing untuk balapan, peralatan Factory Automation (FA), mesin untuk perakitan, pengepakan dan inspeksi. Yokota memilih cobot UR5 untuk mengatasi kekurangan SDM nya. 

Awalnya, perusahaan mencoba melibatkan karyawan paruh waktu dan mempekerjakan kembali pekerja dari departemen lain. Namun, tindakan tersebut terbukti tidak produktif. Robot industri tradisional juga dianggap sebagai solusi tetapi kemudian ditemukan tidak layak karena kebutuhan ruang tambahan dan kebutuhan untuk penjagaan keselamatan.

Dengan keamanan dan fleksibilitas sebagai faktor manfaat utama, penerapan cobot UR5 mengarah pada pembentukan sistem produksi yang stabil, menghasilkan peningkatan produksi sebesar 20% tanpa perlu tambahan SDM.  Karena Asia masih menjadi pasar terkuat bagi industri robot, Universal Robots sangat menganjurkan para manufaktur lokal untuk segera cobot di pabriknya.

“UR telah memperkecil hambatan yang memampukan otomatisasi pada area-area yang sebelumnya dianggap terlalu kompleks dan mahal.  Kami berharap teknologi yang kami miliki ini, dapat membantu industri manufaktur di Indonesia untuk mewujudkan produktivitas yang lebih tinggi dan mempertahankan pemanfaatan SDM yang lebih efektif di perusahaan," pungkas McKew. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT