23 December 2020, 23:53 WIB

Infrastuktur Keamanan SIber Dorong Kelancaran Transformasi Digital


Ghani Nurcahyadi | Teknologi

PANDEMI Covid-19 telah mendorong percepatan transformasi digital di berbagai lini. Namun, di sisi lain, isu keamanan siber juga makin gencar di tengah pesatnya arus transformasi digital.

Di lingkup bisnis, CEO Security Division NTT Matt Gyde mengatakan, salah satu isu sederhana dalam keamanan siber ialah banyak pelaku bisnis merasa sulit untuk lincah bergerak dalam menyediakan karyawannya perangkat dan infrastruktur jaringan yang dibutuhkan untuk beroperasi dan berkomunikasi dengan lancar ketika Covid-19 pertama kali menyerang.

Berdasarkan Intelligent Workplace Report 2020 dari NTT bertajuk  ‘Shaping Employee Experiences for a World Transformed’, dalam banyak kasus, karyawan dibiarkan menggunakan perangkat dan aplikasi pribadi mereka, sehingga meningkatkan risiko kerentanan pada keamanan.

"Sebagai tambahan, hanya 46,4% bisnis global yang disurvei untuk laporan yang sama mengklaim bahwa mereka telah meningkatkan kemampuan keamanan TI mereka demi menjaga keamanan organisasi dan karyawan mereka," katanya dalam keamanan tertulis.

Peningkatan ancaman siber selama pandemi secara jelas telah diuraikan dalam Global Threat Intelligence report dari NTT ketika peretas berusaha mengeksploitasi kepanikan masyarakat terkait virus korona.

Serangan tersebut termasuk malware pencuri informasi yang diimplan ke dalam aplikasi World Health Organization (WHO) palsu, sementara email phishing menawarkan permintaan barang termasuk masker wajah, pembersih tangan, dan tes virus Corona. Peristiwa itu sangat buruk hingga World Health Organization (WHO) menyebutnya sebagai "infodemi". 

Sayangnya, lanjut Gyde, sama seperti Covid-19, penjahat siber dan mata-mata tidak pernah lelah dengan dampak yang dihasilkan terhadap kebebasan pribadi dan profesional, serta prospek-prospek lainnya.

Baca juga : Kaspersky Memprediksi Ancaman Keuangan Tahun 2021

"Aktor dan organisasi ancaman siber begitu oportunistik dan terorganisir dengan baik serta mereka cukup didanai dalam meningkatkan aktivitas kejahatan mereka, terlepas dari adanya krisis global saat ini," ujarnya.

"Mungkin banyak organisasi belum menanamkan sistem keamanan di organisasinya karena mereka melihat keamanan sebagai penghalang dan bukan pendorong pemberdayaan digital. Perubahan pola pikir budaya perlu terjadi. Keamanan dapat membantu bisnis menghadirkan teknologi secara transformasional yang memungkinkan untuk mendapatkan pengalaman pengguna terbaik, dan terkait dengan perlindungan data," imbuhnya

Dalam laporan ‘Future Disrupted: 2021’, NTT memperkirakan bahwa konsep 'Secure Access Service Edge' (SASE), istilah yang diciptakan oleh Gartner, akan menjadi tren utama dalam 12 bulan ke depan.

SASE berfokus pada pencapaian pengalaman terbaik bagi pengguna akhir dalam paradigma jaringan SaaS dan perangkat lunak yang semakin meningkat, dengan mengamankan API dan memanfaatkan skenario 'as-a-service' seperti firewall-as-a-service (FWaas) atau Cloud Access Security Broker (CASB)-as-a-service.

Untuk memulai SASE, bisnis perlu benar-benar mengevaluasi aset apa dan aset mana saja yang ingin dilindungi, di mana beban kerja terdistribusi sedang berlangsung, bagaimana proses menggunakan aplikasi dan memastikan infrastruktur sesuai dengan tujuan penggunaan:

"Bisnis harus semakin fokus untuk memastikan bahwa keamanan siber bukanlah penghalang, melainkan pendorong bagi transformasi digital serta menggunakan kerangka kerja dan kemitraan yang tepat dalam ekosistem untuk dapat melakukannya," pungkas Gyde. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT