27 November 2020, 02:11 WIB

Jaga Keamanan Data, Check Point Tambah Investasi di Cloud Security


Ghani Nurcahyadi | Teknologi

SAAT organisasi beralih ke cloud publik, mereka perlu memastikan bahwa lingkungan dan beban cloud publiknya, telah mengikuti praktek keamanan yang terbaik dan memenuhi standar kepatuhan.  Karena sifat cloud adalah dinamis dan cekatan, maka praktek kepatuhan yang  berkelanjutan dan remediasi otomatis kesalahan konfigurasi, perlu untuk diterapkan.

Hal itu pun menjadi perhatian penyedia solusi keamanan siber, Check Point Software Technologies. Lewat investasi terbarunya di kawasan Asia Pasifikn dalam kapabilitas cloud geoforced lokal, Check Point membantu organisasi-organisasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjaga beban kerja cloud mereka tetap aman, sambil tetap memenuhi persyaratan residensi dan kepatuhan data lainnya, seperti MAS TRM, HIPPA, GDPR, NIST dan PCI-DSS.

Solusi Manajemen Postur Keamanan Cloud CloudGuard merupakan bagian dari Check Point CloudGuard Cloud Security platform.  Solusi ini menampilkan GSL Builder yang unik, yang memberi manfaat keamanan bagi organisasi ketika menggunakan cloud publik, sambil tetap memenuhi standar residensi dan kepatuhan data secara sederhana dan efisien.

Bahkan selama migrasi cloud dan berada di lingkungan multi-cloud, pelanggan dapat tetap patuh dengan melihat dan memodifikasi lingkungan cloud mereka berdasarkan rekomendasi yang diberikan dari solusi tersebut.

Vice President and General Manager, Asia Pacific & Japan, Check Point Software Technologies Sharat Sinha mengatakan, solusi tersebut juga telah dilengkapi dengan CloudGuard Intelligence and Threat Hunting,  teknologi intelijen keamanan native cloud, yang memberikan deteksi intrusi cloud, visualisasi lalu lintas jaringan, dan analitik aktivitas pengguna.

Baca juga : Muluskan Digitalisasi Bisnis,Multipolar Hadirkan Platform VisionDG

Dengan ini, pelanggan dapat mengidentifikasi lalu lintas dari sumber yang tidak diinginkan, atau celah dalam pengaturan keamanan, dan memperbaikinya. CloudGuard menggabungkan inventaris cloud dan informasi konfigurasi dengan data pemantauan waktu nyata dari berbagai sumber, termasuk dari VPC Flow Logs, CloudTrail, AWS Inspector, serta umpan intelijen ancaman saat ini, reputasi IP, dan database geolokasi.

"Pandemi virus korona telah mengakibatkan lebih banyak organisasi di kawasan ini beralih ke cloud untuk mendukung kerja jarak jauh dan kolaborasi online. Pada saat yang sama, kami memahami bahwa mereka masih memiliki persyaratan residensi dan kepatuhan data, terutama di industri seperti Jasa Keuangan dan Pemerintah. Karena semakin banyak pelanggan kami yang pindah ke cloud, Check Point akan hadir untuk mengamankan beban kerja dan memenuhi kebutuhan keamanan cloud mereka dengan rangkaian lengkap solusi industri terkemuka kami," katanya dalam keterangan tertulis.

CloudGuard Cloud Security Posture Management membantu perusahaan mengotomatiskan tata kelola di seluruh aset dan layanan multi-cloud melalui kapabilitas utama seperti visualisasi dan penilaian postur keamanan, deteksi kesalahan konfigurasi, dan penerapan praktik terbaik keamanan dan kerangka kerja kepatuhan.

Sinha menegaskan, solusi keamanan Check Point adalah salah satu yang pertama mengadopsi pendekatan pencegahan terhadap keamanan di industri. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT