04 May 2021, 02:00 WIB

Orang Munafik tidak Diberi Ampunan Allah SWT


Quraish Shihab | TAFSIR AL-MISHBAH

MASIH membahas surah Al-Munafiqun yang berkisah tentang kaum munafik dan sikap mereka kepada Rasulullah SAW.

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memohonkan ampunan bagimu', mereka membuang muka dan engkau lihat mereka berpaling dengan menyombongkan diri."

Allah bersabda bahwa hendaklah umat manusia menuju Rasulullah SAW agar dimintakan pengampunan oleh Rasulullah SAW. Namun, orang-orang munafik malah menolak dan memalingkan kepala mereka dan menolak sambil angkuh.

Orang munafik pada dasarnya selalu menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya dan menampakkan apa yang bertentangan dari hatinya. Itu menyangkut sesuatu hal yang buruk.

Karena itu, Allah menyatakan janganlah menggandakan keburukan. Sudah menolak kebaikan, angkuh pula. Itu sikap munafik. Karena mereka tidak mau, Allah berkata, "Saya tidak akan beri." Hal itu ditegaskan pada ayat selanjutnya.

"Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) mohonkan ampunan untuk mereka atau tidak engkau mohonkan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Allah SWT menegaskan Dirinya tidak akan memberikan ampunan bagi orang yang fasik sekalipun ampunan tersebut diminta Rasulullah SAW. Pasalnya, orang fasik tidak pernah benar-benar memohon ampunan kepada Allah SWT.

Seandainya mereka mau dan mereka berjanji kepada Allah, meskipun mereka datang membawa dosa sebanyak bumi dan setinggi gunung, Allah SWT akan mengampuni mereka.

"Mereka yang berkata (kepada orang-orang Ansar), 'Janganlah kamu bersedekah kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)'. Padahal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami."

Lalu ayat tersebut menceritakan pertentangan Abdullah bin Ubay dengan sahabat Nabi. Dikatakan bahwa Abdullah bin Ubay menyepelekan sahabat Nabi karena dianggapnya setia kepada Nabi karena mereka banyak menerima bantuan.

Namun, ia tidak menyadari bahwa kemuliaan bukan hanya tentang materi. Terdapat tiga hal yang menjadikan sesuatu disebut mulia, yakni tidak ada yang menyamai, dibutuhkan orang banyak, dan tidak mudah disentuh.

"Mereka berkata, 'Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana'. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (Ata/H-1)

BERITA TERKAIT