03 May 2021, 02:00 WIB

Berhati-hati pada Golongan Munafik


Quraish Shihab | TAFSIR AL-MISHBAH

TAFSIR Al Mishbah episode 21 kali ini membahas sifat munafik.

Sifat munafik atau perbuatan yang menampilkan sisi baiknya, tetapi di hatinya menyimpan keburukan dan kebencian ialah hal yang dibenci Allah SWT. Seorang mukmin amat takut jika dirinya memiliki sifat itu karena Allah menyeru bahwa kaum munafik menjadi musuh yang besar sebagaimana dijelaskan dalam Al-Munafiqun, surah ke-64 dalam Alquran.

Dalam ayat pertama dijelaskan apabila orang-orang munafik hadir kepada Nabi, mereka akan mengakui dengan tidak ragu sedikit pun Muhammad itu benar-benar rasul dari sisi Allah, telah diberi wahyu, dan diturunkan kepadanya kitab Alquran sebagai rahmat kepada hamba-hamba Allah.

Namun, Allah mengetahui kebohongan orang-orang munafik itu di dalam pengakuan mereka. Orang munafik ialah orang yang beriman secara lahiriah, tetapi tidak secara batiniah. Allah menegaskan, Allah juga menyaksikan bahwa 'engkau (Muhammad) tapi menyaksikan pun hati orang munafik, mereka itu pembohong'.

Kata munafik atau nifak terambil dari kata nafaq atau terowongan yang mana punya dua muka kiri kanan, kalau dikejar dari mulut a, lari ke mulut b. Ada sesuatu yang disembunyikan yang tidak terlihat dari mata.

Atau ada pula yang menggambarkannya dengan tikus yang tinggal di terowongan. Ia menggali tanah, tapi mulut terowongan itu ditutupi tanah sehingga tidak terlihat. Dengan kata lain, ia menampakkan sesuatu yang baik ke luar, tapi maksud hatinya buruk.

Sulit memang diketahui, tetapi kita harus sadar bahwa mereka ialah musuh dalam selimut dan pembohong.

Kadar kemunafikan memang bermacam-macam. Namun, golongan munafik itu lebih berbahaya jika dibandingkan dengan orang kafir. Dijelaskan, orang kafir sejak awal telah membenci Islam sehingga kita bisa menakarnya dan menghadapinya. Itu berbeda dengan golongan munafik yang memang bergaul dengan kita, ikut salat, dan berpuasa sehingga ia menipu.

Sebagaiman diketahui, tanda orang munafik itu ada tiga, yakni apabila berkata, ia berbohong; apabila berjanji, mengingkari; dan bila diberi amanat, ia berkhianat.

Dalam ayat ke-3 bahkan disebutkan sumpah itu sebagai perisai atau tameng dari hukuman dan siksa dunia. Hal itu disebabkan keimanan mereka tidak sampai pada hati. Mereka kafir secara diam-diam. Karena itu, Allah menutup hati mereka sehingga mereka tidak dapat memahami apa yang baik dan benar bagi mereka. (Wan/H-3)

BERITA TERKAIT