23 April 2021, 05:00 WIB

Utamakan Akidah dalam Berteman


Quraish Shihab |

ISLAM sejak semula menawarkan perdamaian dan melarang memaksa seseorang memeluk agama Islam juga mempersilakan masing-masing menganut agama dan kepercayaannya.

Sejak dini Alquran juga sudah menegaskan jangan memaki orang lain, bahkan yang menyembah selain Allah. Jangan gunakan kata-kata kasar kepada mereka. Kondisi benar atau salah biar Allah yang menentukan.

Pernyataan itu merujuk pada surah Al-Mumtahanah ayat 1 yang artinya perempuan yang diuji. Penyebab turunnya surah ini berkaitan dengan kisah yang dialami Hatib ibnu Abu Balta’ah.

Dikisahkan, Hatib ialah seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin dan termasuk ahli Badar (ikut dalam Perang Badar). Dia mempunyai anak-anak, kerabat, juga harta yang ditinggalkannya di Mekah.

Ketika Rasulullah SAW bertekad akan menaklukkan Kota Mekah, Hatib malah menulis sepucuk surat kepada orang-orang Quraisy melalui suruhannya.

Tujuannya ialah untuk memberitahukan kepada penduduk Mekah rencana yang akan dilakukan Rasulullah SAW, yaitu memerangi mereka. Ia lakukan demikian itu agar dirinya mendapat jasa di kalangan mereka.

Dalam hal ini Allah telah menentukan siapa musuh-Nya yang kemudian melarang orang-orang beriman agar tidak mencintai musuhmusuh mereka.

“Jangan kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian yang mendustakan Allah dan Rasulullah sebagai para penolong dan kekasih, yang kalian cintai dan kalian jadikan sebagai teman. Mereka telah mendustakan agama dan Alquran, serta mengusir Rasulullah dari Kota Mekah karena kalian beriman kepada Allah dan Rasulullah.”

Musuh Allah yang tak patut dijadikan teman ini ialah orang yang bermaksud buruk, yang ingin mencederai. Hal ini dijelaskan dalam ayat selanjutnya yang berbunyi.

“Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu lalu melepaskan tangan dan lidahnya kepadamu untuk menyakiti dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir,” begitu bunyi ayat 2 surah ke-60 dalam Alquran.

Kepada Hatib ibnu Abu Balta’ah yang mengirimkan informasi penaklukan Mekah kepada kerabat dan juga anak-anaknya, Allah menegaskan kerabat dan anak-anaknya itu tidak akan bermanfaat baginya pada hari kiamat.

“Yang dapat menolong seseorang dari siksa Allah hanyalah iman dan amal saleh yang dilakukan selama hidup di dunia,” begitu bunyi ayat 3.

Ada hadis yang menyebutkan, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, akan Ku kumandangkan perang kepada-Nya.” Allah menyatakan begitu.

Meski begitu, Allah pun tidak melarang umat-Nya untuk menjalin persahabatan dengan orang musyrik ataupun yang berbeda keyakinan. Namun, Allah menegaskan, jika ingin mendapatkan teman, jangan yang memusuhi Anda dalam kepercayaan dan akidah Anda. Tetapi carilah yang bisa mengukuhkan keimanan, meningkatkan kemampuan, menasihati, dan bisa mengantar ke jalan yang benar.

Persahabatan dengan nonmuslim yang tulus selama tidak saling mengganggu di dalam keyakinan kita, hal itu bisa dilakukan. (Wan/H-2)

BERITA TERKAIT