23 November 2022, 19:12 WIB

Euforia Piala Dunia Picu Kecemburuan di Tiongkok


Dhika Kusuma Winata |

KEGEMBIRAAN Piala Dunia 2022 ternyata tidak dirasakan semua negara. Bagi masyarakat Tiongkok, euforia di Qatar justru memicu kecemburuan dan kemarahan, karena Negeri Tirai Bambu masih menerapkan pembatasan ketat terkait covid-19.

Di sejumlah stadion Qatar, para penonton yang bersuka ria tanpa masker, membuat warga Tiongkok iri. Pasalnya, mereka jenuh atas pembatasan yang diberlakukan pemerintah. Mereka pun mulai mempertanyakan soal pendekatan lockdown, ketika seluruh dunia kini hidup berdampingan dengan pandemi covid-19.

"Orang-orang menonton pertandingan Piala Dunia secara langsung tanpa masker. Sedangkan, yang lainnya dikurung di rumah selama sebulan. Dikurung di kampus selama dua bulan, bahkan tanpa bisa keluar," ujar seorang pengguna jejaring sosial Weibo di Guangdong.

Baca juga: Kematian Covid-19 di Beijing karena Vaksinasi Booster Lansia Rendah

"Siapa yang telah mencuri hidupku? Aku tidak akan mengatakannya," imbuhnya.

Tiongkok merupakan negara besar terakhir yang saat ini masih berupaya melawan penyebaran covid-19. Pemerintah setempat terus mengisolasi sejumlah kota, area permukiman, hingga memberlakukan tes covid-19 wajib terhadap jutaan warga.

Varian Omikron yang menyebar cepat membuat kasus harian di negara tersebut mencapai 29.157 orang per hari. Kontras dengan euforia di Qatar, pemerintah Tiongkok membuat seperempat populasinya mengalami lockdown.

Di aplikasi WeChat, yang juga populer di Tiongkok, sebuah surat terbuka mempertanyakan kebijakan covid-19. Surat terbuka itu menyangsikan apakah Tiongkok berada di planet yang sama, karena kegembiraan tanpa masker di Qatar mengindikasikan sebaliknya. 

Baca juga: Enam Langkah Qatar Promosikan Islam di Piala Dunia 2022

Namun, surat terbuka tersebut langsung mendapat sensor. Pertandingan Piala Dunia turut disiarkan di Tiongkok oleh stasiun televisi milik negara CCTV. Stasiun televisi itu dikenal kerap memberitakab laporan negatif seputar kematian massal dan kekacauan akibat covid-19.

"Kebijakan antiepidemi Nigeria memiliki hasil yang jelas. Kami tidak belajar dari Nigeria dan hanya melihat data Amerika Serikat. Apa arti sebenarnya dari ini untuk pencegahan epidemi di negara kami?" bunyi surat terbuka.

Kemarahan publik atas pembatasan yang dinilai sewenang-wenang itu baru-baru ini turut menimbulkan aksi protes. Termasuk di wilayah Guangzhou, ketika ratusan warga turun ke jalan menentang kebijakan lockdown.(AFP/OL-11)

BERITA TERKAIT