07 November 2022, 19:01 WIB

Awas, Peretasan terhadap Kritikus Piala Dunia 2022 Qatar


Cahya Mulyana |

KELOMPOK peretas yang berbasis di India menargetkan para kritikus Piala Dunia 2022 Qatar. Tuduhan itu muncul dari hasil investigasi media Inggris, Sunday Times.

"Peretasan terjadi kepada selusin pengacara, jurnalis, dan orang-orang terkenal dari 2019 yang ditugaskan oleh satu klien tertentu. Investigasi ini menunjukkan dengan kuat bahwa klien ini menjadi tuan rumah (Piala) Dunia Qatar," kata laporan tersebut.

Namun pihak Qatar membatah telah menggerakkan peretas itu. Di antara mereka yang menjadi sasaran ialah Michel Platini, mantan kepala sepak bola Eropa.

Platini mengalami peretasan menjelang pembicaraan dengan polisi Prancis tentang klaim korupsi terkait Piala Dunia Qatar. Dia mengatakan dia akan mengeksplorasi semua kemungkinan jalur hukum atas pelanggaran serius terhadap privasinya.

Konsultan yang berbasis di London, Ghanem Nuseibeh, pemilik perusahaan Cornerstone membuat laporan tentang korupsi yang berkaitan dengan Piala Dunia juga menjadi sasaran peretasan. Sunday Times juga melaporkan korban lain yakni Nathalie Goulet, seorang senator Prancis dan kritikus vokal terhadap Qatar karena diduga mendanai terorisme.

Lainnya yaitu Mark Somos, seorang pengacara yang berbasis di Jerman, yang telah mengajukan keluhan tentang keluarga kerajaan Qatar ke Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Kontroversi itu muncul dua minggu sebelum Piala Dunia akan dimulai di negara Teluk yang konservatif itu pada 20 November. Surat kabar itu menuduh bahwa peretasan itu didalangi oleh seorang karyawan firma akuntansi berusia 31 tahun.

Berbasis di pinggiran kota teknologi India, Gurugram, dekat Delhi, jaringan peretas komputer itu diduga menjerat target menggunakan teknik phishing untuk mendapatkan akses ke kotak masuk email korban. Secara total lebih dari 100 korban memiliki akun email pribadi mereka yang ditargetkan oleh geng tersebut. Ini termasuk politikus yang berurusan dengan masalah yang berkaitan dengan Rusia seperti mantan Menteri Keuangan Inggris, Philip Hammond.

Dia menjadi sasaran selama berurusan dengan serangan Novichok 2018 terhadap mantan agen ganda Sergei Skripal yang dituduh Inggris berpihak kepada Rusia. Presiden Swiss dan wakilnya juga diretas setelah bertemu dengan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson.

Kelompok peretas juga menguasai komputer milik politisi dan jenderal Pakistan dan memantau percakapan mereka. "Itu tampaknya atas perintah dinas rahasia India," tambah Sunday Times.

Seorang pejabat Qatar menolak tuduhan itu dan menggambarkan laporan yang dilakukan Biro Jurnalisme Investigasi (TBIJ) itu sebagai kebohongan yang merusak kredibilitas organisasi mereka. "Laporan itu bergantung pada satu sumber yang mengeklaim klien utamanya ialah Qatar, meskipun tidak ada barang untuk membuktikannya," kata pejabat Qatar.

"Keputusan TBIJ untuk menerbitkan laporan tanpa satu pun bukti kredibel untuk menghubungkan tuduhan mereka ke Qatar menimbulkan kekhawatiran serius tentang motif mereka. Ini tampaknya didorong oleh alasan politik, bukan kepentingan publik," tambah pejabat itu. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT