24 September 2022, 07:15 WIB

Mbappe Mencoba Menapaki Jalan Pele


Suryopratomo pemerhati sepak bola |

SAAT masih menjadi murid Akademi Sepak Bola AS Monaco pada Mei 2014, Kylian Mbappe pernah mendapatkan tugas. Salah satu tugas yang diberikan tim pengajar setelah bergulat dengan berbagai latihan sepak bola ialah membuat desain kover majalah.

Dengan beberapa teman dalam satu kelompok, Mbappe dipancing dalam hal kreativitas. Mereka harus membuat desain dengan mereka yang ada dalam kelompok itu menjadi modelnya.

Berbeda dengan kelompok lainnya yang memilih membuat kover untuk majalah terbitan Prancis seperti Paris Match, GQ, atau Vogue, Mbappe mengajak rekan satu kelompoknya mendesain majalah Time. Yang menjadi model ialah dirinya sendiri.

Mbappe kemudian meminta rekannya untuk mengambil foto dirinya yang sedang duduk di kursi dengan dua tangan saling menggenggam dan menopang dagunya. Di bawah foto dirinya dibuat judul besar 'Kylian Mbappe El Maestro'. Judul kecil di bawah nama Time dituliskan 'Pemain Muda Terbaik Dunia', 'Pilihan Utama Pelatih Deschamps', dan 'Kylian adalah Masa Depan - J Mourinho'.

Siapa yang menduga lima tahun kemudian Mbappe menjadi model sesungguhnya dari majalah Time. Ia menjadi kover majalah setelah bersama Les Bleus merebut Piala Dunia untuk kedua kalinya di Rusia 2018.

“Gila,” ucap Mbappe ketika ditunjukkan kover majalah yang sesungguhnya menjelang wawancara dengan The New York Times pada Juli lalu. “Pada saat berusia 15 tahun, setiap orang pasti punya ambisi. Setiap anak pasti punya ambisi, tetapi ketika apa yang kita inginkan itu terjadi dalam waktu begitu pendek, itu sesuatu yang gila.”

Mbappe pun kini dianggap menjadi penjelmaan mahabintang sepak bola Pele. Bintang sepak bola Brasil itu menjadi pemain termuda yang mengangkat trofi Piala Dunia setelah membawa tim 'Samba' memenangi Piala Dunia 1958 di Swedia saat berusia 17 tahun. Mbappe berusia 19 tahun ketika ikut membawa Prancis menjadi tim terbaik di dunia.

Sekarang semua orang menunggu kiprah Mbappe untuk mengikuti jejak Pele lagi, yakni membawa tim nasional Prancis merebut Piala Dunia dua kali berturut-turut. Sebuah prestasi yang belum pernah bisa diulang pemain dan kesebelasan nasional negara mana pun, kecuali Pele dan Brasil yang menjadi juara dunia 1958 dan 1962.

 

Untuk Prancis

Keinginan Prancis untuk mempertahankan gelar Piala Dunia tidaklah main-main. Presiden Emmanuel Macron turun tangan langsung untuk memuluskan jalan menggapai mimpi negaranya. Caranya dengan menemui dan meminta Mbappe tidak meninggalkan Prancis dan fokus untuk membela Le Bleus.

Sejak kecil mimpi Mbappe sebenarnya bisa bermain di Real Madrid. Bahkan, ketika memutuskan untuk mengikuti akademi, pilihan pertamanya ialah ikut sekolah sepak bola klub besar Spanyol itu.

Real Madrid pun sudah menyiapkan karpet merah untuk Mbappe. Apalagi di sana ada mahabintang sepak bola Prancis, Zinedine Zidane. Anak mana yang tidak mau diajak naik mobil sport yang dikemudikan Zidane.

Setelah sukses membawa Prancis memenangi Piala Dunia untuk ke dua kalinya, keinginan Real Madrid untuk mendatangkan Mbappe semakin tinggi. Raksasa sepak bola Eropa menyiapkan anggaran US$250 juta agar bintang Paris Saint Germain ini mau pindah ke Madrid. Kebetulan Juni lalu kontrak Mbappe dengan PSG sudah berakhir.

“Saya tidak pernah membayangkan saya akan membahas masa depan saya, masa depan sepak bola saya dengan presiden. Itu sesuatu yang gila, benar-benar gila,” kata Mbappe.

“Presiden mengatakan kepada saya, ‘Saya mau kamu tetap di sini. Saya tidak mau kamu meninggalkan negeri ini sekarang. Kamu terlalu penting untuk negara ini’,” ujar Mbappe menceritakan pesan yang disampaikan Presiden Macron.

Apa yang dialami Mbappe hampir mirip dengan apa yang dialami Pele. Pada 1961 pemerintah Brasil menetapkan Pele sebagai 'harta nasional' bahkan penetapannya melalui sebuah undang-undang. Dengan peraturan itu, Pele dilarang untuk bermain di luar negeri, padahal begitu banyak klub yang ingin mengontraknya.

Presiden Macron memang tidak menetapkan larangan Mbappe meninggalkan Prancis dengan peraturan khusus. Namun, ia meminta Mbappe setidaknya sampai usai Piala Dunia 2022 tidak bermain di luar Prancis, baru setelah Piala Dunia selesai dipersilakan.

“Karena ini permintaan dari presiden, tentu saya harus memperhatikan dan mempertimbangkan. Namun, keputusan ini tidak saya ambil sendiri dan selalu ada dua orang yang ikut memutuskan, yaitu ibu saya dan pengacara saya, Delphine Berheyden,” jelas Mbappe.

PSG mendukung langkah Presiden Macron dengan tawaran yang menarik. Mbappe dijanjikan bonus yang sulit untuk ditolak, yakni sampai US$125 juta oleh pemilik klub asal Qatar agar tetap mau bertahan di PSG.

“Saya sudah memutuskan untuk setidaknya dalam tiga musim ke depan tetap bersama PSG. Tugas saya sekarang bagaimana membawa PSG merebut Liga Champions, membawa Prancis memenangi Piala Dunia 2022, dan tampil di Olimpiade Paris 2024,” ujar pemain berusia 23 tahun itu.

Mbappe tetap berharap satu saat bisa bermain untuk Real Madrid. Ia merasa ada waktu untuk bermain bersama Los Blancos karena setelah 2024 usianya masih 26 tahun. Usia paling matang bagi seorang pemain sepak bola.

 

Tergantung dirinya

Tantangan terberat untuk mencapai semua target itu ialah dirinya sendiri. Ketenaran, kehebatan, kebesaran, dan kekayaan bisa mengubah seseorang. Bintang sekelas Diego Maradona pun terpuruk karena ketidakmampuan untuk mengendalikan dirinya.

“Saya merupakan tipe orang yang tidak mengenal batas. Untuk memacu diri, kita harus menetapkan target setinggi yang bisa kita raih,” ujar Mbappe.

Prancis sangat mengandalkan sosok Mbappe untuk mempertahankan Piala Dunia. Tantangan itu tidak mudah karena dalam dua Piala Dunia terakhir juara dunia justru tersingkir di babak penyisihan. Le Bleus harus berhati-hati apabila tidak ingin menjadi juara dunia ketiga yang pulang lebih awal.

Di ajang Liga Antarnegara Eropa, Le Bleus dipastikan gagal maju ke putaran final. Dengan dua kali kalah dan dua kali imbang, Prancis bahkan sempat berada di klasemen paling buncit. Mereka hanya tinggal berharap tidak terdegradasi ke kelompok bawah.

Mbappe menjadi penyelamat dari keterpurukan. Dengan satu gol yang disumbangkan Kamis lalu, Le Bleus mampu mengandaskan Austria 2-0 dan untuk sementara lepas dari jurang degradasi. Ini bisa menjadi modal untuk lebih siap menghadapi Piala Dunia 2022 yang tinggal dua bulan lagi akan bergulir.

BERITA TERKAIT