07 May 2022, 07:05 WIB

88 Detik yang Mengubah Hasil


Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola |

BEBERAPA pendukung Real Madrid yang memadati Stadion Bernabeu, Rabu (4/5) malam, itu satu per satu mulai meninggalkan tempat duduk mereka. Defisit dua gol yang dihadapi Los Blancos sepertinya mustahil bisa terkejar. Apalagi, jarum waktu sudah menunjukkan angka 89 menit sehingga mimpi untuk tampil di final Liga Champions nyaris buyar.

Namun, sebelum wasit meniupkan peluit panjang, pertandingan sepak bola memang belum berakhir. Semua harus waspada karena segala sesuatu bisa terjadi di saat-saat terakhir. Apalagi, sekarang ada aturan jelas tentang injury time yang ditetapkan tim wasit begitu waktu 90 menit pertandingan berakhir. Saat-saat terakhir itulah yang coba dimanfaatkan Karim Benzema dan kawan-kawan untuk membuat keajaiban.

Dua puluh tiga detik setelah menit ke-89 terlewati, keajaiban pertama pun datang. Real Madrid yang nyaris tidak pernah bisa mengancam langsung gawang Manchester City mendapatkan kesempatan emas. Gelandang pengganti, Eduardo Camavinga, melihat ujung tombak Benzema berada bebas di tiang jauh. Ia segera melepaskan umpan lambung ke kanan pertahanan the Citizens. Karena Benzema bergerak dari belakang, kapten Real Madrid itu lepas dari jebakan offside.

Hanya dengan satu sentuhan, Benzema mengarahkan lagi bola itu ke mulut gawang dan penyerang muda Rodrygo Silva langsung membelokkannya ke gawang Manchester City. Gerakan cepat Rodrygo tidak mampu dihadang kapten kesebelasan Ruben Dias ataupun kiper Ederson yang mencoba mempersempit ruang gerak.

Satu gol balasan itu sungguh mengagetkan pelatih Pep Guardiola. Namun, itu belum cukup untuk menyelamatkan Real Madrid karena baru bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1, sedangkan pada laga pertama di Stadion Etihad seminggu sebelumnya, Los Blancos dipaksa menyerah 3-4.

Berbeda seperti saat menghadapi Atletico Madrid di perempat final, Manchester City tidak ber upaya men-delay permainan untuk mempertahankan keunggulan. Tiga minggu sebelum nya, Kevin de Bruyne dan kawankawan membuat sebal pendukung Atletico karena memperlambat permainan dengan berpura-pura jatuh dan kesakitan ketika dihadang pemain lawan. Mereka mencoba menjaga keunggulan 1-0 di kandang dan akhirnya mampu memaksa Atletico imbang 0-0 di duel kedua.

Permainan terbuka Manchester City kali ini harus dibayar mahal. Delapan puluh delapan detik setelah gol pertama, Real Madrid mampu mencuri gol kedua. Lagi-lagi Rodrygo yang menjebol gawang Ederson. Kali ini tidak lewat kakinya, tetapi lewat sundulan kepalanya.

Umpan lambung bek kanan Dani Carvajal ke mulut gawang sebenarnya bisa dihalau center-back Manchester City Aymeric Laporte. Namun, saat Laporte melompat untuk menyundul bola, dua pemain tuan rumah yang mengapitnya, Rodrygo dan Marco Asensio, juga sama-sama melompat. Umpan Carvajal menyentuh terlebih dahulu ubun-ubun Asensio sehingga bola melewati kepala Laporte dan kemudian jatuh persis di kepala Rodrygo. Sundulan Rodrygo yang tepat waktu membelokkan bola ke tiang kanan gawang Ederson yang kosong dan membuat harapan Real Madrid hidup kembali karena kedudukan menjadi sama kuat, yakni 5-5, sehingga harus dilakukan perpanjangan waktu.

Kemampuan Real Madrid untuk menyamakan kedudukan menaikkan kepercayaan diri seluruh pemain. Apalagi mereka tampil di stadion kebanggaan mereka yang sudah 35 kali membawa mereka menjadi juara La Liga dan 13 kali juara Liga Champions. Tiga menit setelah perpanjangan waktu berjalan, kesalahan Dias di kotak penalti yang terlambat memotong gerakan Benzema diganjar penalti. Dengan gol penalti Benzema, Real Madrid memastikan lolos ke final Liga Champions menghadapi Liverpool pada 28 Mei di Stadion Parc de Princes, Paris.

 

Final kelima

Real Madrid langsung melampiaskan kegembiraan begitu wasit Daniele Orsato meniup peluit panjang karena untuk ketiga kalinya pada musim ini mereka bisa lolos dari lubang jarum. Mulai 16 besar melawan Paris St Germain, kemudian menghadapi Chelsea di perempat final, Los Blancos bisa bangkit dari ketertinggalan untuk membalikkan keadaan.

Bagi pelatih Carlo Ancelotti, musim ini semakin istimewa karena melengkapi kesuksesan dirinya menangani Real Madrid. Saat pertama dipercaya pada 2013 hingga 2015, Ancelotti memang mampu mempersembahkan trofi Liga Champions untuk Los Blancos. Namun, ketika itu ia gagal memberikan gelar juara La Liga untuk Real Madrid.

Musim ini pelatih asal Italia itu mampu membawa Real Madrid meraih gelarnya yang ke-35. Meski musim kompetisi masih menyisakan empat pertandingan, Los Blancos tidak mungkin terkejar lagi oleh lawan-lawannya untuk mengangkat piala La Liga.

Kepuasan Ancelotti makin bertambah karena dengan keberhasilan pada Rabu malam lalu membawa dirinya menjadi pelatih pertama yang bisa membawa tim asuhannya lima kali tampil di pertandingan puncak Liga Champions. Ini semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pelatih terbaik dunia karena pernah juga membawa AC Milan mengangkat piala yang sama.

Salah satu kelebihan yang dimiliki Ancelotti ialah ketenangan dalam menghadapi pertandingan. Ia tidak pernah terlihat panik meski tim asuhannya sedang berada dalam tekanan. Seperti ketika aktif sebagai salah satu bintang Milan, Ancelotti selalu tenang menganalisis permainan dan mencari jalan keluar.

Ketenangan itulah yang membuat para pemainnya tidak menjadi harus terburu-buru. Dengan sabar Benzema dan kawan-kawan terus mencoba menekan sambil menunggu kelengahan tim lawan.

Ketika tiga gelandang andalannya, Toni Kroos, Casemiro, dan Luca Modric, tidak efektif menopang serangan, Ancelotti tidak ragu menarik tiga pemain senior itu keluar. Masuknya Rodrygo, Asensio, dan Camavinga sebagai pengganti membuat Real Madrid menjadi lebih menggigit.

Rodrygo sangat efektif mengimbangi Vinicius Junior menyerang dari sayap. Federico Valverde yang semula ditempatkan sebagai penyerang sayap kanan justru lebih berperan ketika ditarik ke gelandang untuk mendampingi Asensio dan Camavinga.

Pilihan untuk memasukkan Rodrygo ternyata tepat. Bahkan kalau saja lebih beruntung, Rodrygo bisa mencetak hattrick. Sayangnya, tendangan kaki kanan menyambut umpan terobosan Benzema masih mengenai bahu kiper Ederson.

 

Ulangan 2018

Pertemuan Real Madrid dan Liverpool pada final 28 Mei nanti merupakan ulangan final Liga Champions 2018. Ketika itu, Liverpool harus menelan pil pahit setelah Mohamed Salah di-smackdown kapten kesebelasan Sergio Ramos dan digotong keluar karena lepas engsel tulang bahunya.

Salah berharap bertemu Real Madrid pada final kali ini karena ia ingin membalas kekalahan menyakitkan empat tahun lalu. Kali ini Liverpool bukan hanya lebih matang, melainkan kehadiran penyerang asal Kolombia Luis Diaz membuat 'Tim Merah' lebih menakutkan.

Pembunuh raksasa, Villareal, pun tidak mampu menahan gempuran tim asuhan Juergen Klopp. Tim 'Kapal Selam Kuning' memang sempat mengejutkan ketika mampu mencuri dua gol pertama untuk mengejar kekalahan 0-2 pada semifinal pertama di Anfield. Namun, koreksi yang dilakukan Klopp untuk menarik keluar Diogo Jota dan memasukkan Diaz mampu membalikkan keadaan.

Diaz kembali menjadi faktor penentu kemenangan Liverpool. Aksinya dari sayap kiri tidak hanya membuat serangan The Reds dari kedua sayap menjadi lebih hidup. Ketajaman pemain berusia 25 tahun itu membuat serangan lebih mematikan. Gerakan Diaz untuk datang dari belakang dalam menyambut umpan matang bek kanan Trent Alexander Arnold menjadi salah satu kunci sukses Liverpool meraih kemenangan 3-2 atas Villareal.

Dengan penampilan yang sangat konsisten, Klopp seharusnya tidak lagi ragu menempatkan Diaz sebagai starter ketimbang Jota. Pilihan Klopp untuk mencoba Jota sebagai pilihan pertama membuat Liverpool gagal meraih kemenangan penting atas Manchester City sekaligus menggeser saingannya itu dari puncak klasemen Liga Primer.

Ketika Diaz tampil menjadi starter menghadapi the Citizens di Piala FA, terbukti penyerang Kolombia itu lebih baik. Tim asuhan Klopp mampu menyingkirkan Manchester City 3-2 dan berhak tampil pada final.

Bukan hanya final Liga Champions, Diaz juga sangat dibutuhkan pada dinihari nanti saat 'si Merah' menjamu Tottenham Hotspur. Apalagi, Liverpool wajib menang untuk mempertahankan peluang mengudeta Manchester City di Liga Primer sekaligus menjaga mimpi merebut empat gelar pada musim ini.

BERITA TERKAIT