05 April 2022, 19:54 WIB

Ingin Kembali Berjaya? Setan Merah Harus Lakukan Empat Hal Ini


Widhoroso |

DALAM beberapa tahun belakangan, Manchester United makin tertinggal dari duo rival mereka, Liverpool dan Manchester City. Setan Merah disebut tidak punya rencana komprehensif untuk bisa mengejar keduanya.

Menyikapi hal itu, pelatih ad interim Manchester United, Ralf Rangnick menyampaikan sarannya kepada petinggi klub untuk bisa membangkitkan kembali masa jaya The Red Devils. Kepada petinggi klub, Rangnick yang akan mundur dari kursi pelatih dan beralih ke peran konsultan di akhir musim, sudah menyampaikan empat hal yang mesti dilakukan Manchester United jika ingin bangkit.

Empat poin tersebut adalah memperbaiki rekrutmen jangka panjang dan bangun skuad dengan bertumpu pada manajer permanen baru, prioritaskan pemain agresif dengan fisik unggulan alih-alih pemain dengan keterampilan teknik, periksa kepribadian pemain sebelum direkrut, dan terakhir harus menerima fakta bahwa ini bukan pekerjaan jangka pendek.

"Skuad Manchester City dan Liverpool dibangun dalam periode lima atau enam tahun. Semuanya di bawah ide terkait bagaimana pelatih mereka ingin bermain. Saya bilang kepada dewan, Manchester United harus seperti itu," ucap Rangnick dilansir dari 90min
 
"Tiap kali ada pelatih baru, harus begini: bagaimana dia ingin bermain dan pemain seperti apa yang kita butuhkan untuk mencapainya? Barulah kita kembali kepada DNA, kecepatan, fisik, tempo. Kita butuh apa? Tim ini enggak kekurangan pemain teknis, [tetapi] bisa dipoles dengan lebih banyak [pemain] fisik," imbuhnya.

Pelatih asal Jerman itu menambahkan, butuh keputusan tepat dan kejelasan soal ke mana arah yang ingin dituju klub, pemain seperti apa, manajer seperti apa, dan di setiap jendela transfer, usahakan mendapatkan yang terbaik.

"Ini sulit kayak ilmu roket. Harus dilakukan dan tidak harus membutuhkan tiga atau empat tahun. Mungkin dua atau tiga jendela transfer, barulah situasinya bisa berbeda," ujarnya.

Soal pemain dengan fisik unggulan, Rangnick menyoroti contohnya ketika anak asuhnya ditahan imbang Leicester City, Sabtu (2/4) lalu. "Menurut saya kami bukan kekurangan karakter, tetapi yang terlihat jelas di beberapa fase pertandingan adalah kami selalu kalah di kontes fisik," ujarnya.

"Ini soal duel satu lawan satu. Dalam satu momen serangan balik, kami ditekel dua kali sama mereka, dan dalam dua detik mereka mencetak gol]. Momen lain juga begitu. Tiap kali ada kontak badan, sering sekali kami kalah. Harus lebih baik di sisa musim ini, lebih-lebih musim depan," tambahnya. (Goal/OL-15)

BERITA TERKAIT