02 April 2022, 06:50 WIB

Kebangkitan Kanada, Keterpurukan Italia


Suryopratomo Pemerhati Sepak bola |

HIDUP tidak ubahnya seperti roda pedati. Kadang berada di atas, tetapi kemudian bisa berada di bawah. Begitu juga dengan sepak bola. Kanada yang sebelumnya tidak pernah ada dalam radar, tiba-tiba bisa lolos ke putaran final Piala Dunia 2022. Sebaliknya Italia yang begitu gemilang menjadi juara Eropa, justru gagal lolos ke Qatar.

Kanada menjadi pembicaraan karena mereka bisa menjadi negara pertama di kawasan Amerika Utara dan Karibia yang merebut tiket ke Qatar. Mereka bisa menjadi juara kawasan dengan mengungguli langganan Piala Dunia seperti Meksiko dan Amerika Serikat.

Padahal sebelumnya tidak pernah ada yang menyangka Kanada akan bisa berjaya sebab di negara itu sepak bola bukan olahraga yang digemari. Anak-anak muda Kanada lebih bermimpi menjadi pemain hoki es daripada menjadi pemain sepak bola.

“Untuk apa saya bermain di tim nasional? Kami tidak pernah akan bisa lolos ke Piala Dunia juga,” begitu jawaban penyerang asal Kanada, Alex Bunbury, ketika ditanya pelatih West Ham United, Harry Redknapp, menjelang pertandingan penyisihan Piala Dunia 1994.

Kalaupun ada anak Kanada bermain sepak bola, semua itu lebih karena keinginan pribadinya. Tidak usah heran apabila Kanada tidak pernah mampu membangun tim nasional yang kuat.

Memang pernah di ajang Piala Dunia 1986 tim Maples Leaf lolos ke putaran final. Pelatih asal Inggris Tony Waiters mampu membangun tim barisan belakang Kanada yang tangguh sehingga mampu menyulitkan tim lawan untuk menembus. Namun, di Meksiko ketika itu, Kanada tidak mampu bersaing dengan Prancis, Hongaria, dan Uni Soviet sehingga tersingkir di babak pertama.

Setelah itu sepak bola Kanada bahkan terpuruk akibat skandal suap. Empat pemain Kanada, Chris Chueden, Hector Marinaro, David Norman, dan Igor Vrablic, terlibat pengaturan skor saat mengikuti Turnamen Merlion di Singapura, dua bulan setelah Piala Dunia 1986.

Keempat pemain itu dihukum Persatuan Sepak Bola Kanada karena dinilai merusak nama baik persepakbolaan negara mereka.

Kanada kemudian lebih dikenal sebagai negeri sepak bola putri. Anak-anak perempuan Kanada justru lebih kompak untuk membangun tim dan bahkan sempat merebut medali emas cabang sepak bola Olimpiade Tokyo 2020.

 

Alphonso Davies

Nama Kanada mulai menjadi perhatian kembali sekitar 2019. Mata pecinta sepak bola tertarik kepada penampilan bek kiri Bayern Muenchen Alphonso Davies. Anak imigran asal Liberia yang lahir di pengungsian di Ghana itu mampu menunjukkan kualitas sebagai pemain belakang yang mempunyai kecepatan sehingga bisa efektif dalam bertahan, tetapi sekaligus kuat dalam membantu penyerangan.

Davies tidak sengaja ditemukan pelatih Hans-Dieter Flick pada saat Bayern mengalami krisis pemain. Cedera dua center-back Jerome Boateng dan Niklas Sule ketika itu membuat klub raksasa Jerman tersebut harus melakukan eksperimen. Bek kiri David Alaba pun ditarik ke tengah untuk berduet dengan Javi Martinez dan posisinya di kiri dipercayakan kepada Davies.

Pada penampilan pertamanya, pemain asal Kanada itu mampu menunjukkan permainan yang mengesankan. Pelatih Hansi Flick pun jatuh cinta dan menempatkan Davies sebagai pilihan utama jika dibandingkan dengan pemain asal Prancis yang lebih ternama, Lucas Hernandez.

Setelah itu, orang pun mulai membicarakan Kanada. Ternyata memang banyak bakat muda di Kanada. Salah satunya Jonathan David, imigran asal Haiti yang pindah ke Ottawa dari Amerika Serikat saat berusia dua tahun.

Modal itulah yang membawa Kanada menapaki perjalanan menuju Qatar. Dari 14 kali pertandingan penyisihan zona CONCACAF, Kanada mencatat delapan kali kemenangan, di antaranya atas Amerika Serikat.

Hanya dua kali mereka harus menelan kekalahan, yakni dari Kosta Rika dan Panama. Kekalahan terakhir terjadi setelah Kanada memastikan lolos ke Qatar mengungguli Meksiko karena lebih produktif mencetak gol.

“Setelah kemenangan 4-0 atas Jamaika yang memastikan Kanada lolos ke Qatar, para pemain tampak begitu emosional, demikian pula saya. Kalau melihat perjuangan dan kebersamaan para pemain baik di dalam maupun di luar lapangan, mereka pantas mendapatkan itu,” puji Bunbury.

Mantan pemain Kanada yang pernah bergabung di Borussia Moenchengladbach, Rob Friend, melihat prestasi yang dibuat adik-adiknya sebagai 'monster step'. Dengan bakat yang dimiliki para pemain sekarang serta kematangan karena bermain untuk klub-klub besar di Eropa, Friend percaya, Kanada akan bisa berbicara banyak di Qatar nanti.

“Kanada yang dulu dianggap terbelakang dalam sepak bola kini berada di arah yang benar. Saya tidak mau melihat ke belakang dan membicarakan lima atau enam tahun waktu yang terbuang. Inilah kesempatan terbaik dan kini seluruh dunia akan mengamati Kanada,” tegas Friend.

 

Italia gagal lagi 

Saat Kanada larut dalam kegembiraan, tim Azzurri tenggelam dalam kesedihan. Pelatih Roberto Mancini tidak habis percaya melihat tim yang ia pimpin memenangi Piala Eropa tahun lalu di Stadion Wembley, Inggris, untuk kedua kalinya berturut-turut gagal untuk tampil di ajang Piala Dunia.

Empat tahun lalu, Italia tersingkir karena kalah dari Swedia pada pertandingan play-off, sedangkan kali ini tim 'Biru Langit' disingkirkan tim anak bawang, Masedonia Utara, 0-1. Lebih menyakitkan lagi kekalahan terjadi di semifinal pertandingan play-off dan gol yang membuyarkan harapan terjadi 2 menit setelah masa injury time berjalan.

Stadion Renzo-Barbera di Palermo yang begitu gegap gempita tiba-tiba sunyi senyap. Italia yang 66% menguasai pertandingan setidaknya 23 kali mencoba mengancam gawang Masedonia Utara. Namun, tidak ada satu pun yang bisa menembus gawang.

Justru sekali tendangan penyerang sayap Alexander Trajkovski dari luar kotak penalti tidak mampu ditahan kiper Italia Gianluigi Donnarumma dan bola pun dengan cepat menembus pojok gawang Italia. Tim Azzurri pun kehabisan waktu untuk mengejar keunggulan lawan dan buyarlah mimpi juara dunia empat kali itu untuk bisa tampil di Qatar.

Tidak terbayangkan Piala Dunia lagi-lagi tanpa Italia. Namun, setelah sukses mereka di Piala Dunia 2006, tim Azzurri sepertinya berada dalam grafik yang menurun. Di dua ajang Piala Dunia 2010 dan 2014, Italia tidak mampu lolos dari babak pertama. Setelah gagal untuk tampil di Piala Dunia 2018, kali ini Jorginho dan kawan-kawan pun gagal membawa negara mereka untuk bermain di kompetisi tertinggi di dunia.

Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan Italia karena 16 tahun waktu terlalu lama bagi mereka berada di luar jajaran elite sepak bola dunia. Apalagi sepak bola bagi masyarakat Italia tidak ubahnya seperti agama. Italia merupakan salah satu kiblat pembinaan sepak bola di dunia.

Ibarat hujan setahun dihapus hujan sehari, begitulah perjalanan tim Azzurri. Dengan prestasi 37 kali tidak terkalahkan di tangan Mancini, Italia tahun lalu secara gemilang mampu mengangkat Piala Eropa di Wembley. Ketika kemudian mereka menapaki perjalanan menuju Qatar, perjalanan pun pada awalnya berjalan mulus. Tiga kali kemenangan beruntun memberikan sinyal bahwa Italia akan mudah lolos ke putaran final.

Namun, prestasi mereka tiba-tiba merosot. Empat kali Jorginho dan kawan-kawan dipaksa bermain imbang. Bahkan dua kali dialami saat menghadapi Swiss. Padahal, saat menghadapi Swiss, dua kali tim Azzurri mendapatkan dua tendangan penalti. Ternyata dua kali kesempatan emas itu gagal menjadi gol dan Italia pun gagal mendapatkan tiket langsung ke Qatar karena kalah bersaing dengan Swiss. Roda pedati Italia pun kini berada di bawah.

BERITA TERKAIT