19 February 2022, 06:40 WIB

Pratama Arhan dan Korean Wave


Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola | Sepak Bola

PADA ajang Piala AFF 2020 di Singapura, Desember lalu, penampilan Pratama Arhan selalu menjadi perhatian penonton. Pemain asal Semarang berusia 20 tahun itu bukan sekadar bek kiri yang hanya disiplin menjaga daerahnya. Naluri menyerangnya pun sangat kuat.

Arhan mampu membahayakan pertahanan lawan, tidak hanya dengan kakinya, tetapi juga dengan tangannya. Lemparan bolanya bisa mencapai 20 meter, dan itu tak ubahnya seperti tendangan penjuru. Itulah yang selalu membuat lawan kerepotan ketika Arhan sudah mengambil ancang-ancang untuk melakukan lemparan bola ke dalam.

Naluri menyerang yang tinggi membuat Arhan sering mencetak gol bagi timnya. Arhan mencetak gol yang sangat indah ketika berhadapan dengan Malaysia di pertandingan terakhir penyisihan grup untuk membawa Indonesia lolos ke semifinal sebagai juara grup.

Pemain dengan tinggi badan 1,72 m itu juga menyelamatkan tim nasional Indonesia dari kekalahan saat menghadapi tuan rumah Singapura di semifinal. Gol kedua Indonesia yang disumbangkan Arhan membuat pertandingan harus diselesaikan melalui perpanjangan waktu.

Tim ‘Garuda Merah-Putih’ memang akhirnya gagal untuk menjadi juara setelah dipaksa menyerah oleh Thailand. Namun, Arhan terpilih sebagai pemain muda terbaik dalam turnamen itu karena penampilannya yang selalu konsisten dan memberikan kontribusi terhadap penampilan tim secara keseluruhan.

Ketika Rabu lalu Arhan diberitakan dikontrak oleh klub Tokyo Verdy, Jepang, itu merupakan buah dari kerja kerasnya selama ini. Dengan penampilan yang selalu all-out dan memberikan yang terbaik kepada tim, wajar apabila Arhan menarik perhatian banyak klub dunia.

Di usianya yang masih muda, kesempatan untuk berkembang kini semakin terbuka. Tokyo Verdy, meski kini bermain di J2 atau Divisi II Liga Jepang, merupakan klub yang punya sejarah cukup panjang. Mereka tercatat tujuh kali pernah menjadi juara Liga Jepang, lima kali merebut Piala Kaisar, dan enam kali merebut Piala Liga.

Di bawah pelatih Hideki Nagai, Tokyo Verdy sedang berupaya untuk bisa kembali masuk J1. Kalau Arhan bisa cepat beradaptasi dengan klub barunya, ia berpeluang untuk ikut membawa Tokyo Verdy kembali ke puncak kejayaannya.

Arhan kini menjadi pemain asing ketiga yang berada di Tokyo Verdy. Dua pemain asing lainnya ialah kiper Matheus Vidotto dari Brasil dan gelandang Bryan Vasquez dari Cile. Pengalaman bermain dengan rekan dari mancanegara menjadi modal berharga bagi Arhan untuk semakin mematangkan dirinya dan permainannya.

 

Indonesian waves

Arhan bukanlah pemain Indonesia pertama yang bermain di luar negeri. Pada 1970-an beberapa bintang sepak bola Indonesia, seperti Iswadi Idris, Abdul Kadir, Risdianto pernah mendapat kesempatan dikontrak klub dari Australia dan Hong Kong.

Namun, gelombang pemain-pemain Indonesia untuk melanglang buana kemudian terhenti. Baru pada 1990-an ada inisiatif untuk menitipkan pemain berbakat Indonesia di klub luar negeri. Melalui program Primavera yang digagas Nirwan Dermawan Bakrie, pernah pemain muda Kurniawan Dwi Yulianto dititipkan di Sampdoria, Italia.

Akan tetapi, program itu berjalan sporadis dan terhenti. Sampai kemudian sekarang ini muncul kembali pemain muda, seperti Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman, yang bermain di Polandia dan Slovakia. Dengan ditariknya Arhan oleh Tokyo Verdy harapannya benar-benar terjadi gelombang besar pemain-pemain sepak bola berbakat Indonesia untuk bermain di Liga Dunia.

Harapan ini tentunya bukan sebuah utopia karena Indonesia mempunyai banyak potensi. Pemain-pemain berbakat semakin bermunculan dan kalau dipersiapkan dengan benar, mereka bisa menjadi incaran banyak klub dunia.

Di tim ‘Garuda’ sekarang ini, misalnya, masih ada Alfeandra Dewangga yang juga berpotensi untuk bisa ditarik klub luar. Cara bermain Dewangga begitu cermat dan penuh perhitungan, padahal usianya masih 20 tahun seperti Arhan.

Dengan semakin banyak pemain muda bermain di Liga Dunia, akan semakin banyak anak muda yang tertarik menjadi pemain sepak bola. Harapannya akan terdorong keinginan untuk membangun sistem pembinaan yang lebih baik di dalam negeri dan terbangun kompetisi sepak bola yang lebih sehat.

Dari sanalah Indonesia bisa berharap untuk membangun tim sepak bola yang lebih baik. Transformasi sepak bola di dalam negeri didorong banyaknya pemain yang bermain di klub luar negeri karena mereka akan memberikan perubahan pengelolaan sepak bola di dalam negeri.

 

Jalan Korea 

Jalan seperti itu ditempuh Korea Selatan. Menjelang mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Jepang, Korea mempercepat pembentukan pemain dengan mengirimkan beberapa pemain ke luar negeri. Salah satunya ialah mengirimkan Ahn Jung-hwan ke Perugia, Italia.

Dengan makin banyak pemain yang berkompetisi di luar negeri, para pemain terbiasa dengan kompetisi yang lebih berat. Hasilnya, Korea Selatan mampu membuat kejutan besar dengan menyingkirkan Portugal, Italia, dan Spanyol untuk menjadi negara Asia pertama yang mampu lolos hingga semifinal Piala Dunia.

Setelah itu terjadinya apa yang disebut Korean wave. Para pemain Korsel lebih percaya diri untuk bergabung di klub-klub Eropa. Salah satu yang melegenda ialah Park Ji-sung yang bersinar di PSV Eindhoven dan kemudian pindah ke Manchester United.

Sekarang gelombang itu terus berlanjut dan tidak pernah berhenti. Pemain Korea malang melintang di berbagai kompetisi di dunia. Generasi baru yang menjadi perhatian dunia ialah penyerang Tottenham Hotspur Son Heung-min. Hasilnya, di ajang Piala Dunia 2018, Korsel mampu membuat kejutan besar dengan mengalahkan Jerman sehingga harus pulang di babak pertama.

Revolusi sepak bola yang ditempuh Korsel bahkan kemudian berkembang menjadi gelombang di bidang budaya. Korsel mampu mengekspor pop culture-nya ke seluruh dunia. Bahkan, bintang-bintang Korea seperti kelompok penyanyi BTS dijadikan model oleh produk-produk negara maju dan sukses.

Korea Selatan kini menjadi barometer perubahan masyarakat global. Mulai seni, film, produk kecantikan, fesyen, hingga kuliner Korea menjadi acuan. Berapa banyak masyarakat Indonesia yang tergila-gila menyaksikan drama Korea atau dikenal sebagai drakor.

Semua itu memang tidak terjadi dengan sendirinya. Ada peran negara yang mendorong dan menciptakan budaya Korea menjadi budaya global. Bahkan, sejak 2005 ketika Korsel menjadi tuan rumah APEC, ada kampanye besar-besaran mengenai Korean wave.

Ketika budaya Korea semakin dikenal dan disukai, otomatis produk-produk Korea pun ikut diminati. Penetrasi pasar untuk produk elektronik maupun otomotif menjadi lebih mudah dilakukan. Apalagi bangsa Korea berani untuk melakukan promosi secara besar-besaran.

Sudah hampir satu dekade, Kia menjadi sponsor turnamen grand slam Australian Open. Itu semakin mengukuhkan citra Korea dan produk Korea di dunia. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Korsel mampu menjadi salah satu yang terunggul.

Berkaca dari pengalaman Korsel, dikontraknya Pratama Arhan oleh Tokyo Verdy tentunya jangan hanya dilihat sekadar sebagai sebuah peristiwa sepak bola. Itu seharusnya diambil sebagai momentum untuk mulai menggaungkan Indonesian waves karena kita tidak kekurangan talenta untuk menjadi ujung tombak memperkenalkan Indonesia kepada dunia.

 

 

BERITA TERKAIT