29 January 2022, 06:45 WIB

Bendera Hitam di Kamerun


Suryopratomo Pemerhati Sepak Bola |

SABTU malam ini, The Indomitable Lions Kamerun akan tampil di perempat final Piala Afrika 2022 menghadapi Gambia. Tuan rumah Kamerun harus tampil istimewa bukan hanya untuk bisa lolos Ke semifinal, tetapi juga demi menghibur keluarga yang kehilangan orang yang dicintai akibat tragedi hitam yang terjadi di Stadion Paul Biya, Olembe, Selasa (25/1) lalu.

Bendera hitam terpaksa dinaikkan setelah delapan orang meninggal dunia akibat terinjak-injak saat hendak menyaksikan pertandingan 16 besar antara Kamerun dan Komoro. Insiden tidak terhindarkan ketika penonton berebut masuk ke stadion setelah mendengar peluit panjang tanda dimulainya pertandingan.

Para pendukung tuan rumah, yang tidak ingin tertinggal menyaksikan pemain-pemain idola mereka tampil, mencoba saling mendahului masuk. Sementara itu, panitia hanya membuka satu pintu untuk masuk ke stadion.

“Saat itu waktu menunjukkan pukul 19.50 di Olembe. Saya melihat ada sekitar 10 atau 20 petugas kepolisian berjaga di depan pintu gerbang, sementara ada sekitar 1.000 orang yang mencoba masuk ke stadion. Jelas petugas itu tidak cukup untuk bisa mengendalikan penonton yang begitu banyak,” ujar Romaric, seorang penonton yang selamat dari musibah.

“Saya masih mendengar salah seorang polisi berteriak untuk segera menutup gerbang karena di dalam stadion sudah penuh penonton. Itulah yang menjadi awal malapetaka karena semua orang saling mendorong untuk mencoba masuk dan mereka tidak lagi mau mendengar bahwa ada pintu masuk lain yang sudah dibuka,” tambah Romaric yang merasa begitu trauma.

Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika Patrice Motesepe meminta dilakukan penyelidikan atas insiden Selasa malam itu. Di tengah upaya membangun citra pengelolaan sepak bola Afrika yang lebih profesional dan maju terjadi peristiwa tragis seperti itu.

“Kami ingin tahu mengapa sampai ada perintah untuk menutup gerbang seperti itu. Kalau saja penutupan pintu yang mendadak tersebut tidak dilakukan, kejadian tragis seperti itu tidak perlu terjadi,” kata Motesepe yang menyampaikan rasa duka mendalam kepada keluarga korban.

Bagi Kamerun yang baru pertama kali sejak 50 tahun bisa menjadi tuan rumah Piala Afrika, insiden berdarah itu sangat menyakitkan.

Apalagi Stadion Olembe sebenarnya menjadi simbol penyelenggara Piala Afrika yang diharapkan bisa berjalan sukses. Pemerintah Kamerun mengeluarkan anggaran sampai US$300 juta untuk merenovasi stadion yang berkapasitas 60 ribu penonton itu.

Kini panitia penyelenggara memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Stadion Olembe sebagai tempat pertandingan perempat final. Partai antara Mesir dan Maroko diputuskan untuk dipindahkan ke Yaounde.

CAF akan mengkaji ulang apakah untuk pertandingan semifinal dan final tetap akan diselenggarakan di Stadion Olembe. Keputusan akan diambil setelah hasil penyidikan lengkap diterima CAF Jumat (28/1) atau Sabtu (29/1) pagi ini WIB.

 

 

Awal kebangkitan

Sepak bola Afrika mulai menjadi perhatian dunia saat Kamerun menggebrak di ajang Piala Dunia 1990. Ketika itu Roger Milla memimpin Kamerun untuk membuat kejutan besar menundukkan juara bertahan Argentina 1-0 di pertandingan pembukaan.

Padahal, saat itu tim 'Tango' masih dipimpin mahabintang Diego Armando Maradona. Beberapa pemain yang empat tahun sebelumnya membawa Argentina menjadi juara dunia seperti Jorge Burruchaga dan Oscar Ruggeri juga masih memperkuat tim. Belum lagi bintang muda yang mulai bersinar seperti Claudio Caniggia ikut bergabung.

Namun, para pemain Kamerun tidak gentar menghadapi nama-nama besar. Dengan gagah berani mereka meladeni permainan Argentina sehingga tim asuhan Carlos Bilardo harus mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka.

Permainan keras yang ditampilkan Kamerun memang harus dibayar mahal dengan dua kartu merah yang harus diterima Benjamin Massing dan Andre Kana-Biyik saat pertandingan pembukaan itu. Namun, dengan sembilan pemain, Maradona tetap tidak mampu menembus gawang Thomas N’Kono.

Ketangguhan yang diperlihatkan Kamerun itu membuat mereka kemudian dijuluki 'Singa yang tidak Mudah Dijinakkan' (Indomitable Lions). Apalagi Kamerun tidak hanya membuat gawang mereka tidak mampu ditembus, tetapi juga malah bisa menjebol gawang Argentina melalui kaki Francois Omam-Biyik.

Kejutan Kamerun tidak hanya terjadi di pertandingan pembukaan. Di ajang Piala Dunia 1990, Kamerun mampu lolos dari penyisihan grup sebagai juara grup. Saat tampil di 16 besar, secara gagah berani mereka menyingkirkan salah satu raksasa Amerika Latin, Kolombia, 2-1.

Langkah Kamerun baru terhenti di perempat final setelah dikalahkan Inggris 2-3 melalui perpanjangan waktu. The Three Lions bisa selamat dari kekalahan setelah Gary Lineker mencetak dua gol, pertama di menit ke-83 untuk memaksa The Indomitable Lions memainkan perpanjangan waktu 2 x 15 menit dan di menit ke-105 untuk mengakhiri perjalanan Kamerun.

Sukses Kamerun untuk menembus delapan besar dunia membuat Afrika dilirik sebagai masa depan sepak bola dunia. Klub-klub sepak bola besar Eropa mulai mengirim para pencari bakat untuk mencari calon bintang dari 'Benua Hitam'.

Kamerun tidak ketinggalan untuk memanfaatkan momentum kebangkitan sepak bola Afrika. Bintang-bintang baru asal Kamerun banyak mewarnai sepak bola dunia seperti Samuel Eto’o yang menjadi salah satu pemain yang membawa Barcelona mencapai era keemasan.

 

 

Mengembalikan kebesaran 

Sangat wajar apabila para pecinta sepak bola Kamerun berharap tim kesayangan mereka bisa mengembalikan kebesaran sepak bola negara mereka. Di ajang Piala Afrika sudah lima tahun Kamerun tidak mengangkat Piala.

Di tangan pelatih asal Portugal, Toni Conceicao, harapan itu kini dibebankan. Saat menghadapi Gambia malam ini, Kamerun tidak boleh menganggap enteng. Meski Gambia menempati peringkat terendah FIFA di antara negara Afrika, mereka mampu membuat kejutan dengan menjadi juara grup.

Tidak hanya itu, Gambia tampil luar biasa di babak 16 besar. Mereka di luar dugaan mampu mengempaskan Guinea dengan gol tunggal yang diciptakan penyerang asal Bologna, Musa Barrow.

Dengan tampil tanpa beban, bukan mustahil Gambia akan kembali bisa membuat kejutan. Itulah yang mengharuskan Vincent Aboubakar dan kawan-kawan tidak boleh lengah dan sejak awal harus berupaya untuk mencetak gol yang pertama ke gawang Gambia.

Bersama penyerang asal Bayern Muenchen Eric Maxim Choupo-Moting, Aboubakar menjadi andalan di depan. Pola 4-4-2 yang dipilih Conceicao menggambarkan keinginan Kamerun untuk lebih kuat menggedor pertahanan Gambia.

Empat gelandang Kameran Karl Toko Ekambi, Andre Zambo Anguissa, Martin Hongla, dan Nicolas Moumir Ngamaleou merupakan pilihan terbaik dan tampil menawan di empat pertandingan yang sudah dimainkan. Dengan modal rekor delapan kemenangan sejauh ini, Kamerun pantas percaya diri untuk bisa menang dan lolos ke semifinal.

BERITA TERKAIT