16 October 2021, 09:45 WIB

Infantino Bela rencana Gelar Piala Dunia Setiap Dua Tahun Sekali


Basuki Eka Purnama | Sepak Bola

PRESIDEN FIFA Gianni Infantino, Jumat (15/10), membela rencana untuk menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali kala bertandang ke Venezuela, negara yang belum pernah lolos ke pesta sepak bola dunia itu.

Proyek Piala Dunia setiap dua tahun sekali mendapatkan kritik tajam dari sejumlah federasi sepak bola kontinental, seperti UEFA dan CONMEBOL, serta para pelatih dan pengamat sepak bola.

"Tugas kami di FIFA adalah terus menerus mencari cara untuk memperbaiki sepak bola di dunia, menjadikan sepak bola sebagai olahraga global," ujar Infantino saat berada di Caracas, ibu kota Venezuela.

Baca juga: Tekuk Uruguay, Brasil Pesta Gol di Kualifikasi Piala Dunia

"Presiden FIFA adalah presiden dari 111 negara dan semua negara itu berhak bermimpi, begitu juga dengan Vinotinto (julukan timnas Venezuela)."

"Mereka juga berhak mencapai impian itu karena jika Anda hanya bisa bermimpin, Anda akhirnya memilih melakukan hal lain," lanjutnya.

Infantino bersikeras menggelar Piala Dunia setiap dua tahun sekali akan memperbesar peluang negara kecil untuk lolos.

"Saa diputuskan untuk menggelar Piala Dunia empat tahun sekali, kurang lebih 100 tahun lalu, FIFA hanya beranggotakan 40 negara. Sudah tiba saatnya mengevaluasi hal itu," kata Infantino.

Infantino mengklaim negara Amerika Selatan dirugikan karena jumlah perjalanan yang harus mereka lakukan ketimbang tim asal Eropa.

Eropa telah menggelar Piala Dunia dua kali lebih banyak (11 kali) dibandingkan benua lain.

Amerika Selatan telah menggelar Piala Dunia lima kali sementara Afrika dan Asia masing-masing satu kali.

"Jika Messi harus melakukan perjalanan sejauh 350 ribu kilometer untuk bermain di laga Piala Dunia sementara Cristiano Ronaldo hanya 50 ribu, tidak aneh jika pada Juni, tim asal Amerika Selatan lebih letih ketimbang tim asal Eropa," ujar Infantino.

"Sejak 2002, Brasil sudah tidak memenangkan laga sistem gugur Piala Dunia melawan tim Eropa. itu 20 tahun dan itu Brasil," pungkasnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT