09 October 2021, 06:00 WIB

Kejutan Awal dari Brentford


Suropratomo Pemerhati Sepak Bola | Sepak Bola

KETIKA Liga Primer musim ini mulai bergulir 14 Agustus lalu, ada kejutan besar yang terjadi. Arsenal yang bertandang ke kandang Brentford harus menelan kekalahan pahit 0-2. Orang pun banyak bertanya, klub dari mana Brentford itu?

Sangat wajar apabila Brentford tidak banyak dikenal pecinta sepak bola. Meski sudah berdiri sejak 1889, Brentford lebih dikenal sebagai klub amatir dan lebih banyak berkompetisi di divisi bawah. Hanya sekali di musim kompetisi 1935/1936 mereka masuk lima besar, tetapi setelah itu lebih banyak terbenam di Liga III dan Liga IV.

Baru pada musim kompetisi 2008, mereka menapaki Liga II dan lima tahun kemudian Liga I. Namun, Brentford tidak pernah bisa mampu menembus Liga Primer. Baru di musim lalu, Brentford bisa masuk ke Liga Primer sejak 1947 atau hampir tiga perempat abad yang lalu.

Brentford bukanlah klub dari kota antah berantah di pelosok Inggris. Mereka ada di sebuah wilayah yang masih berada di Kota London. Hanya Brentford terletak di bagian barat London. Selama ini nama mereka kalah terkenal jika dibandingkan dengan Fulham atau Queens Park Rangers yang sama-sama dari London Barat.

Namun, dalam penampilan 'perdananya' di Liga Primer, Brentford bukan hanya membuat kejutan di pertandingan pertama. Semua sekarang mulai memperhatikan mereka, terutama setelah mampu memaksa raksasa sepak bola Inggris, Liverpool, bermain Imbang 3-3 dalam pertandingan yang penuh drama.

Dengan posisi di peringkat ketujuh dari tujuh pertandingan pertama, Brentford tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Pekan lalu mereka pun menunjukkan jati dirinya sebagai 'lebah' yang bisa menyengat ketika mengalahkan tuan rumah West Ham 1-0. Pelatih West Ham David Moyes sampai 'murka' tidak habis percaya bila tim asuhannya bisa menyerah dari klub pendatang baru yang nyaris tanpa bintang.

Orang pun mulai bertanya, apakah Brentford akan menjadi Leicester City yang baru? Klub yang seperti sebuah dongeng tiba-tiba mampu menembus jajaran klub elite untuk menjadi raja baru di Liga Primer!

Kita masih perlu menunggu delapan bulan lagi untuk mengetahui apakah dongeng seperti 2016 akan berulang atau tidak? Yang jauh lebih penting untuk diketahui, siapa orang yang mampu mengubah Brentford menjadi klub yang pantas untuk diperhatikan?

Adalah pemilik rumah judi Matchbook, Matthew Benham, yang menyulap Brentford. Diawali krisis keuangan yang dihadapi klub itu pada 2007 sampai nyaris bubar, Benham datang untuk memberikan pinjaman US$700 ribu atau sekitar Rp100 miliar tanpa bunga kepada pendukung klub yang dijuluki the Bees itu.

Benham ketika itu hanya mengatakan, kalau para pendukung Brentford tidak mampu mengembalikan pinjamannya, ia menjadi pemilik klub itu. Para pendukung Brentford setuju dengan syarat itu. Ternyata lima tahun kemudian mereka menyerah tidak sanggup membayar utangnya dan menyerahkan kepada Benham untuk mengelola Brentford.

Alumnus Fakultas Fisika Universitas Oxford itu pernah bekerja selama 12 tahun di Bank of America setelah lulus pada 1989. Namun, ia kemudian memutuskan untuk berhenti karena ditawari bekerja di perusahaan rumah judi, Premier Bet. Tugasnya mengembangkan model perjudian prediktif berdasarkan analitis.

Hanya dua tahun ia bertahan di tempat pekerjaan yang baru itu, Benham membangun perusahaan konsultan perjudian, Smartodds. Ia memanfaatkan model yang telah dibuatnya untuk membantu kliennya melakukan analitis tentang algoritma, statistik, dan penelitian data yang telah dia kumpulkan selama beberapa tahun terakhir.

Dengan uang yang diperoleh sebagai konsultan, kemudian ia mendirikan rumah judi sendiri, Matchbook. Itulah yang membuat Benham kemudian bisa menjadi miliader dan mampu membeli klub sepak bola.

Sebelum memiliki Brentford, Benham sempat mengambil alih klub sepak bola Denmark, FC Midtjylland. Ia membeli klub itu dengan harga US$10 juta. Lelaki berusia 52 tahun ini menjadikan Midtjylland sebagai tempat eksperimen untuk mencari pemain-pemain berbakat yang tidak ternama, lalu mengasahnya menjadi bintang dan kemudian menjual ke klub klub besar dengan harga mahal.

Pendekatan seperti itulah yang ada dalam pikiran Benham ketika mengambil alih Brentford. Dari pemain-pemain yang murah biaya transfernya, ia bangun the Bees menjadi klub tangguh dengan pemain yang berkualitas sehingga menjadi klub yang bernilai tinggi.

Dari klub yang dibeli US$700 ribu, ketika bisa menembus Liga Primer dan langsung membuat kejutan, nilai Brentford kini sudah naik menjadi US$300 juta. Kalau klub ini bisa terus bertahan di Liga Primer, bukan mustahil di musim kedua mendatang nilai akan naik menjadi US$400 juta dan bahkan lebih mahal lagi.

 

 

Berkah pertualangan 

Pertualangan Benham di Denmark ternyata membawa berkah untuk bisa membangun Brentford sekarang. Di sanalah ia mengenal Rasmus Arkensen, mantan pemain Midtjylland yang kemudian menjadi ketua klub itu setelah mengalami cedera lutut. Arkensen yang juga konsultan bisnis ditarik Benham untuk menjadi Direktur Sepak Bola Brentford.

Sebagai orang Denmark, Arkensen kemudian menarik pelatih asal negaranya, Thomas Frank, ke Brentford pada 2015. Arkensen melihat Frank bertangan dingin saat menangani tim nasional junior Denmark dan ia menilai Frank akan memberi manfaat besar untuk menjalani prinsip Benham 'membeli pemain murah, mengasahnya, dan dijual dengan harga mahal'.

Frank pada awalnya ditunjuk sebagai asisten untuk pelatih Dean Smith. Tiga tahun kemudian, Dean Smith ternyata ditarik Aston Villa untuk menangani klub Liga Primer itu. Kekosongan jabatan pelatih membuat Frank ditunjuk untuk memimpin Brentford.

Di tangan pelatih Denmark itu, prestasi Brentford justru meningkat. Arkensen benar untuk menarik Frank yang dinilai memiliki pendekatan yang baik kepada pemain dan mampu menjembatani kebutuhan antara pemain junior dan senior.

Puncak prestasinya terjadi di musim lalu ketika Frank mampu membawa Brentford berada di peringkat tiga Liga I. Dalam pertandingan play-off untuk memperebutkan tiket ke Liga Primer, Brentford mampu menundukkan Swansea City 2-0. Thomas Frank pun terpilih sebagai pelatih terbaik Denmark 2020 atas prestasi menangani Brentford.

Kekuatan Frank terletak pada kemampuan untuk membangun sebuah tim yang kompak. Ia sangat percaya kepada pemain-pemain muda. Usia pemain asuhannya berada pada kisaran 22 tahun hingga 25 tahun. Beberapa pemain senior disisipkan sebagai pendamping para pemain muda.

Center-back asal Swedia, Pontus Jansson, merupakan pemain paling senior. Ia berusia 30 tahun dan bertugas untuk mengingatkan posisi rekan-rekannya baik ketika menyerang maupun saat harus bertahan. Biasanya ia didampingi pemain asal Jamaika Ethan Pinnock dan pemain muda asal Norwegia Kristoffer Ajer.

Di lapangan tengah, Frank memercayakan pemain asal Denmark berusia 27 tahun, Christian Norgaard, menjadi jenderal. Dengan pola 3-5-2, Norgaard didampingi empat pemain muda yang berani untuk bertarung, yakni Frank Onyeka dan Sergi Canos yang beroperasi di kanan serta Vitaly Janelt dan Rico Henry yang mendukung di kiri.

Tugas mereka ialah memberi pasokan bola kepada dua ujung tombak Bryan Mbeumo dan Ivan Toney. Brentford mempunyai seorang super-subs, yakni Yoane Wissa. Pemain jebolan akademi sepak bola di Prancis ini biasanya dimasukkan untuk menggantikan rekan senegaranya, Mbeumo.

Sejauh ini yang baru bisa mengalahkan Brentford ialah Brighton. Frank bisa bertahan dari gempuran para pemain klub besar karena memiliki kiper yang bisa diandalkan, David Raya. Penjaga gawang asal Spanyol ini ditarik Brentford dari Blackburn Rovers karena tidak dianggap sebagai pemain yang bisa diandalkan sehingga sempat dipinjamkan ke Southport. Di Brentford, David Raya tumbuh sebagai kiper yang tangguh. Brentford pun siap untuk melanjutkan kejutannya.

“Kami sangat percaya dengan kekuatan yang ada pada tim kami. Memang dalam sepak bola, 70% keberhasilan ditentukan anggaran, 20% oleh pengetahuan, dan 10% oleh keberuntungan. Semoga kekurangan yang ada di anggaran bisa kami tutupi dengan pengetahuan yang kami miliki dan tentunya berharap akan ada keberuntungan pada kami,” ujar Frank tentang prinsip yang akan dijalankan untuk membesarkan Brentford.

BERITA TERKAIT