08 October 2021, 05:30 WIB

Amnesty International Kecam Pengambilalihan Newcastle oleh Konsorsium Arab Saudi


Basuki Eka Purnama | Sepak Bola

AMNESTY International mengecam Liga Primer Inggris yang menyetujui pengambilalihan Newcaslte United oleh konsorsium asal Arab Saudi, Kamis (7/10).

Kelompok HAM itu, selama setahun terakhir, melobi otoritas Liga Primer Inggris untuk menolak pengambilalihan tersebut dengan alasan pengambilalihan itu akan digunakan Arab Saudi untuk 'membersihkan' rekor pelanggaran HAM mereka.

Namun, pengambilalihan itu akhirnya disetujui Liga Primer Inggris setelah pemerintah Arab Saudi menyelesaikan perselisihan dengan Qatar terkait hak siar pertandingan Liga Primer Inggris di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Newcastle United Dibeli Konsorsium Arab Saudi

Dalam kesepakatan senilai 300 juta pound sterling itu, konsorsium Arab Saudi yang bernama Public Investment Fund (PIF) akan mengambil alih 80% saham Newcastle United sementara investor lainnya akan membeli sisa 20% saham lainnya.

"Hari ini, Liga Primer Inggris  menunjukkan bahwa mereka menutup mata terhadap pelanggaran HAM," ujar kepala kampanye Amnesty International Inggris Felix Jakens.

"Sejak kesepakatan ini mulai dibicarakan, Amnesty telah mengatakan hal itu adalah upaya dari pemerintah Arab Saudi untuk membersihkan diri dari catatan HAM mereka yang buruk menggunakan nama besar Liga Primer Inggris," lanjutnya.

Liga Primer Inggris menggunakan tes bagi calon pemilik dan direktur klub yang berlaga di kompetisi mereka untuk mencegah kriminal berkuasa dan memastikan calon pembeli benar-benar memiliki dana yang mereka janjikan.

Namun, Jakens menyebut tes memiliki lubang besar yang bahkan bus bisa masuk.

Liga Primer Inggris menyetujui pengambilakihan Newcastle United itu karena PIF memastikan bahwa konsorsium itu tidak terkait sama sekali dengan kerajaan Arab Saudi. Hal itu dipertanyakan oleh Amnesty International.

"Mengingat kepemilikan konsosium itu berujung pada Pangeran Mohammed bin Salman, aneh jika menyebut konsorsium itu tidak terkait dengan kerajaan Arab Saudi," seru Jakens.

"Kami dengan jelas menegaskan pengambilalihan ini adalah kesempatan bagi Arab Saudi untuk menangkis sorotan terhadap buruknya pelanggaran HAM di negara mereka," lanjutnya.

Meski pengambilalihan itu dikecam, para pendukung Newcasrle bersorak mengenai peluang klub mereka mengalami perbaikan prestasi di lapangan.

The Magpies telah gagal meraih gelar apa pun sejak 1969 dan saat ini menduduki posisi kedua dari dasar klasemen Liga Primer Inggris setelah gagal menang di tujuh laga pembuka musim ini.

"Kami berulang kali menegaskan penolakan ini tidak ada kaitannya dengan klub Newcastle atau para pendukungnya. Mereka pasti senang klub mereka dapat pasukan dana dan berpeluang memenangkan trofi," kata Jakens.

"Yang ingin kami katakan adalah para pendukung harus menyadari siapa pemilik klub mereka dan seperti apa kondisi HAM di Arab Saudi."

"Bagaimana nasib perempuan di sana? Bagaimana nasib kelompok LGBT? bagaimana kondisi hukuman mati disana serta perang yang masih berlangsung di Yaman."

"Kami meminta para pendukung Newcastle, sebagai pihak yang mencintai klub mereka, untuk bersuara terhadap berbagai pelanggaran HAM yang terjadi," pungkasnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT