05 October 2021, 05:30 WIB

Ranieri, Pelatih Baru Watford


Basuki Eka Purnama | Sepak Bola

CLAUDIO Ranieri melatih di Liga Primer Inggris untuk kali keempat setelah pelatih Italia itu ditunjuk untuk menukangi Watford.

Mantan pelatih Chelsea dan Leicester City itu, Senin (4/10), ditunjuk sebagai pelatih the Hornets menggantikan Xisco Munoz yang dipecat.

Jika mengantarkan Leicester menjadi juara Liga Primer Inggris pada 2016 adalah prestasi terhebat Ranieri, bertahan selama lebih dari satu musim di Watford bisa jadi merupakan prestasi terhebat kedua pelatih asal Italia itu.

Baca juga: Munoz Mengaku Terkejut Dipecat Watford

Pelatih berusia 69 tahun itu merupakan manajer ke-13 Watford di era kepemimpinan keluarga Pozzo, yang mengambil alih kepemilikan klub itu pada 2012.

Munoz memimpin Watford meraih promosi dari Divisi Championship, musim lalu, dan the Hornets masih berada di luar zona degradasi saat dirinya dipecat, Minggu (3/10), setelah hanya menjabat selama 10 bulan.

Watford, yang menduduki peringkat 15 di klasemen sementara Liga Primer Inggris, menyebut tren hasil negatif, satu kemenangan dari tiga laga terakhir, sebagai alasan memecat Munoz.

Bahkan, jika Ranieri bisa mempertahankan Watford di Liga Primer Inggris pada musim ini, tidak bisa dipastikan apakah posisinya sebagai pelatih akan aman.

Namun, Ranieri dipersenjatai dengan puluhan tahun pengalaman dan kemampuan merebut hati pemain dan pemilik dengan kepribadiannya yang eksentrik.

Watford merupakan klub ke-22 yang dilatih Ranieri sejak dia mengawali kariernya menukangi klub amatir Vigor Lamezia pada 1986.

Karier 35 tahun Ranieri telah mengantarkannya ke sejumlah klub besar Eropa seperti Chelsea, Juventus, Inter Milan, dan Atletico Madrid.

Dia menjadi juara Coppa Italia bersama Fiorentina serta Copa del Rey dan Piala Super UEFA bersama Valencia.

Selama empat tahun di Chelsea, Ranieri mendapatkan julukan Tinkerman karena kegemarannya merubah starting line-up the Blues di setiap pertandingan.

Kala itu, pelatih asing masih jarang di Inggris dan Ranieri harus bekerja keras untuk mendapatkan dukungan.

Saat dia hengkang, pada 2004, Ranieri telah menjadikan Chelsea langganan di Liga Champions, dan menjadi pembuka bagi masa sukses di era Roman Abramovich.

Berjaya di Leicester

Sebelas tahun kemudian, Ranieri kembali ke Liga Primer Inggris untuk menukangi Leicester namun pesonanya telah memudar.

Dipecat oleh timnas Yunani pascakekalahan dari Kepulauan Faroe menjadi pertanda memudarnya pesona pelatih Italia itu.

Mantan bintang timnas Inggris Gary Lineker, pendukung fanatik Leicester, menyambut penunjukkan Ranieri pada 2015, dengan cicitan, "Claudio Ranieri? Serius?"

Namun, Ranieri langsung bekerja untuk merebut hati para pemainnya dengan memberikan imbalan piza dan sampanye setiap kali Leicester meraih kemenangan.

Hasilnya, Leicester secara mengejutkan berhasil menjadi juara Liga Primer Inggris. Ranieri sukses mengubah tim yang musim sebelumnya nyaris terdegradasi menjadi juara.

Dia kemudian dinobatkan sebagai pelatih terbaik oleh Liga Primer Inggris dan Asosiasi Manajer Liga Inggris. Ranieri juga mendapatkan gelar Grand Officer of the Order of Merit dari kerajaan Inggris.

Namun, Ranieri tidak bisa lama merayakan kejayaannya. Liecester langsung terpuruk di musim berikutnya dan Ranieri dipecat pada Februari setelah para pemainnya melakukan pemberontakan.

Ranieri tidak pernah bisa menduplikasi kesuksesannya bersama Leicester. Kiprah teranyarnya di Liga Primer Inggris tampaknya akan menjadi indikasi masalah yang akan dihadapinya bersama Watford.

Diberi tugas mempertahankan Fulham di Liga Primer Inggris pada musim 2018/19, Ranieri hanya menang di tiga dari 17 laga dan dipecat sebelum klub London itu akhirnya terdegradasi.

Sebelum bergabung dengan Watford, Ranieri tengah menganggur setelah dipecat Sampdoria pada akhir musim lalu. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT