15 July 2021, 10:10 WIB

Jadon Sancho tidak Terkejut dengan Serangan Rasial terhadap Dirinya


Basuki Eka Purnama |

PENYERANG sayap timnas Inggris Jadon Sancho menganggap serangan rasial yang dialaminya selepas final Piala Eropa 2020 bukanlah sebuah hal baru. Meski begitu, ia mendesak semua pihak untuk tetap memeranginya.

Sancho menjadi satu dari tiga algojo Inggris yang gagal melakukan tugas saat The Three Lions harus mengakui keunggulan Italia dalam adu penalti di partai final Piala Eropa 2020 di Wembley, Senin (12/7) dini hari WIB lalu.

Rekan Sancho di klub barunya nanti Marcus Rashford, serta talenta muda Arsenal Bukayo Saka yang juga gagal jadi algojo adu penalti turut menjadi korban serangan rasial daring selepas final.

Baca juga: Jadon Sancho Minta Maaf Atas Kegagalan Dalam Adu Penalti

Lewat surat terbuka yang ia sematkan dalam unggahan media sosialnya, Sancho meminta maaf atas kegagalannya tetapi ia tidak kaget dengan serangan rasial yang dialaminya.

"Saya tidak akan berpura-pura tidak melihat serangan rasial yang saya alami bersama dua saudara saya, Marcus dan Bukayo, selepas pertandingan, tapi sayangnya ini bukanlah hal baru," tulis Sancho dalam surat terbuka yang disematkan dalam cuitan di akun Twitter pribadinya, @Sanchooo10, Rabu (14/7) malam.

"Sebagai masyarakat, kita harus bisa melakukan lebih baik dari ini dan memastikan para pelakunya dimintai tanggung jawab," lanjutnya.

Sancho juga mengajak semua generasi muda yang pernah mengalami tindakan serupa tidak berkecil hati sembari mengungkapkan kebanggaannya atas capaian Inggris yang pertama kalinya tampil di final Piala Eropa.

"Kebencian tidak akan pernah menang. Bagi anak muda yang pernah mengalami serangan serupa, tegakkan kepala kalian dan teruslah mengejar
mimpi," tulisnya.

"Saya bangga dengan timnas Inggris ini dan bagaimana kami menyatukan seluruh negeri di tengah situasi sulit yang dialami orang-orang selama 18 bulan terakhir," imbuh Sancho

Selain serangan daring, tindakan vandalisme bermuatan pesan rasial juga terjadi terhadap sebuah mural Rashford di Manchester, sebelum masyarakat bahu-membahu menutup pesan itu dengan kertas-kertas sarat dukungan.

Kepolisian Manchester menyatakan satu orang sudah diamankan terkait pesan rasial di media sosial terhadap ketiga pemain.

Isu rasial terus menjadi penyakit di dunia olahraga, bahkan Inggris secara konsisten melakukan gestur berlutut jelang sepak mula dalam setiap pertandingan mereka di Piala Eropa 2020, kendati sempat menerima cemoohan dari segelintir suporter ketika hal itu dilakukan di ajang pemanasan. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT